S2 gak jadi aku garap, bukan karena apa apa tapi aku mempertimbangkan cerita ini kayak... Jahat? yeah jadi aku memilih untuk menyudahi saja cerita nya sampai sini, ini spesial S2 terakhir, selamat membaca dan terimakasih sudah mengikuti sampai selesai ❤️
Kecewa, kata itu lah yang menjadi bahan kemarahan Hana untuk suaminya. Memangnya wanita mana yang rela jika suaminya memiliki perasaan pada perempuan lain, terlebih perempuan tersebut adalah mantan kekasih nya yang masih sangat berarti untuk Samudra.
Hana menepuk-nepuk punggung kecil Rayan, pandangan matanya sedikit buram karena air mata yang menutupi, kelopak matanya mengerjap membuat bulir air menetes bergiliran, Hana memilih menenggelamkan wajahnya di balik pelukan hangat sang anak, menangis dalam diam sambil memeluk satu-satunya buah hati yang ia miliki.
Sam tak juga kunjung pulang, hari sudah berganti malam sejak tadi, Hana sudah tidak memiliki harapan apa-apa lagi, menurutnya ia hanyalah seorang wanita pengganggu yang masuk ke dalam kehidupan Sam terlalu dalam.
Ia mengusap air matanya yang menggenang di pipi, beranjak setelah memastikan Rayan benar-benar nyenyak dalam tidurnya.
Keluar kamar untuk mengunci pintu rumah, Hana berhenti sejenak saat melihat Sam yang rupanya sudah tertidur di sofa panjang ruang keluarga, Hana tak menghiraukan kehadiran pria itu, memilih untuk berbalik arah menuju dapur.
Matanya kembali memanas, ia menghembuskan nafasnya gundah, perasaan kecewa yang ia tahan seolah meminta haknya untuk di yakinkan setelah melihat Sam yang tidur dengan tenang di sofa sana.
"Han?" Hana lekas mengusap wajahnya yang basah, menenggak air yang ia ambil dari botol di dalam kulkas dengan tergesa.
"Kamu nangis?" Pertanyaan Sam dan wangi tubuh pria itu yang mendekat membuat Hana langsung berbalik badan, menghadap tepat ke arah suaminya.
"Kamu darimana?" Pertanyaan yang sangat bodoh untuk Hana tanyakan.
"Rumah Naura, tadi'kan aku udah ajak kamu, kamu gak mau ikut." Hana menghembuskan nafas dan berjalan menuju meja makan.
"Pulang jam berapa?" Sam menaikkan alisnya heran, menyusul Hana yang sudah duduk nyaman di kursi.
"Tadi, jam delapan, aku pikir kamu udah tidur sama Rayan, makanya aku tidur di sofa." Hana mengangguk tipis, membuat Sam melipat bibirnya penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa nangis? Ada yang dipikirkan? Atau kamu marah karena aku pulang terlalu lama?" Pertanyaan Sam membuat Hana menoleh, wanita itu menatap wajah suaminya, di telisik nya wajah dengan guratan lelah itu.
"Kamu capek?" Sam mengedip heran, mengangguk tipis sambil terus menatap sang istri.
"Sama, aku juga capek." Pernyataan Hana membuat Sam langsung meraih tangan istrinya yang berada di atas meja.
"Ngurus Rayan seharian pasti capek, aku pijit, ya?" Hana tersenyum, tangan yang sebelumnya di genggam Sam ia tarik menjauh, matanya masih tetap menatap wajah suaminya serius.
"Aku mau cerai." Sam bergeming, ia mencengkram kuat kepalan tangannya kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Apapun aku turutin, kecuali yang satu ini." Ujaran itu membuat Hana menunduk lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Bertahan sama orang yang gak kamu cintai, seumur hidup, memangnya kamu gak capek kak?" Sam masih membuang pandangannya dari wajah Hana, tak berniat memandang wajah wanita itu.
"Aku tau, kamu masih punya perasaan lebih buat Naura, perempuan itu juga masih punya perasaan yang sama, bukannya jauh lebih bagus begitu? Kamu merawat dia sampai sembuh, ceraikan aku, dan kamu bisa menikah sama dia, kamu pasti bisa lebih bahagia." Sam menunduk dalam, mencoba menghapus amarah yang siap meledak.
"Bicaramu gak jelas, sana tidur, aku juga butuh tidur." Sam mengabaikan keinginan Hana, memilih pergi meninggalkan wanita yang terpaku di tempatnya tanpa kata.
Sam menghembuskan nafas lelah, ia mengunci pintu kamar tamu, memisahkan diri dari Hana adalah hal yang sedang ia lakukan,bukan pengecut justru hatinya merasa perasaan sesak setiap kali sang istri mengucapkan kata-kata mutiara itu.
"Apa jadi istriku sesulit itu buat kamu terima ya, Han?"
Sam mendudukkan diri di lantai, bersandar pada kasur yang empuk, kepalanya menunduk menatap ubin keramik yang lama kelamaan mengabur, matanya berair dan perlahan suara isakan terdengar dari bibirnya.
Sam memilih menangis dalam keheningan, juga Hana yang masih duduk terdiam dengan pipi yang kembali basah dan hidung yang memerah.
---
Pagi hari terasa lebih berat untuk Sam maupun Hana, keduanya makan di meja yang sama namun tidak seorangpun bersuara kecuali Rayan yang asik mengoceh mengajak sang Ibu berbicara mengenai rasa rasa makanan di piringnya.
Sam melirik ke arah Hana yang wajahnya nampak sembab, kelopak bawah matanya nampak membengkak di susul lingkar mata menghitam dan sayu.
Sam merutuki dirinya sendiri, rumah tangga macam apa yang sebenarnya tengah ia nahkodai?
"Ray, Papa pergi kerja dulu ya, baik-baik dirumah sama Mama." Sam mengusap kepala anaknya menciumi kedua pipi mungil anak itu.
Ia meninggalkan Hana dalam keheningan, hingga membuat wanita itu menghembuskan nafas kasar.
"Apa aku salah? Kenapa malah terkesan aku penjahatnya?"
Pada dasarnya pernikahan harus di landasi oleh keterbukaan juga kesetiaan, akan terasa percuma jika pernikahan hanya di isi tentang tinggal bersama dan berbagi kehangatan semata, semua itu sifatnya sementara, membuat sebuah rumah tangga malah retak dengan banyak celah, hingga memungkinkan orang lain tak di undang masuk ke dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Androphobia : Tamat
ChickLitTuhan itu menciptakan Adam dan Hawa. Tapi bagaimana jika gadis cantik yang tengah duduk di bangku SMA akhir ini takut dengan kaum Adam? Melihat kaum Adam layaknya tikus, hewan yang ia takuti. Melihat pria dari jarak jauh sudah membuatnya ketar ketir...
