Sesuai dengan perkataan Alana yang akan membawa Sabiru keliling kota, kini keduanya telah berada di ruang makan untuk sarapan sebelum pergi juga untuk meminta izin.
"Wana ... aku tidak bermaksud untuk mengkhianatimu dengan bepergian bersama Alana. Akan tetapi, aku juga tidak bisa menolaknya," batin Sabiru berkata. Tanpa disadari air matanya juga menetes dan dengan cepat Sabiru menghapusnya sebelum ada orang yang melihat hal itu. "Kamu akan tetap menjadi pemilik hatiku, walaupun suatu saat nanti aku juga mencintai Alana."
"Sayang, ayo dimakan. Jangan diam saja," tegur Aruna yang mendapati anak gadisnya melamun.
"O-oh, iya, Ma," balas Biru dengan gugup. Dia dengan cepat mengambil makanan yang ada di piringnya dengan sendok lalu memakannya dengan perasaan yang campur aduk.
Sarapan telah selesai, Alana meminta izin untuk membawa Sabiru berkeliling. Keduanya menaiki motor yang biasanya Alana gunakan dan Sabiru yang memakai celana warna hitam jadi mudah untuk naik.
"Mau ke mana dulu?" tanya Alana ketika mereka sudah sedikit jauh dari rumah.
Sabiru berpikir sebentar dan menjawab, "ke danau dulu boleh?"
"Boleh, kok," ujar Alana. "Pegangan, ya. Kita agak cepat sedikit."
Sabiru mengangguk walaupun dia yakin Alana tidak melihatnya. "Iya."
Lima menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di danau yang di tuju. Dengan cepat dan semangat Sabiru langsung turun dari motor setelah memberikan helm nya pada Alana. Dia terlihat sangat bahagia—mungkin teringat tentang kenangannya bersama Awana?
"Wana!" panggil Sabiru dengan semangat. Namun sedetik kemudian Sabiru langsung tersadar dan wajahnya berubah menjadi sendu. Dia lupa jika sosok yang dipanggilnya tadi sudah tidak ada di sini, dan yang ada hanya kembarannya yang entah bisa dia cintai atau tidak.
"Maaf, Lana ... Biru lupa," lirihnya menunduk dan tangan yang saling bertautan.
"Ngga papa, lanjutin aja lihat-lihat nya. Aku tunggu di sana, ya?" balas Alana tersenyum, dia juga mengusap pelan rambut Sabiru yang tertiup angin.
Sabiru melihat arah yang dimaksud oleh Alana. Ada kursi dan meja yang terletak di bawah pohon rindang yang membuatnya tidak panas. Kemudian dia mengangguk menyetujui.
"Mau dibeliin apa buat camilan nanti?" tanya Alana yang masih tersenyum. "Martabak mau?" tawarnya.
Sabiru mengangguk dengan cepat. "Boleh, sama kue putu, ya?"
"Oh, kripik buahnya juga boleh?" tanya Sabiru dengan senyuman khasnya.
"Boleh, tenang saja. Apapun yang kamu mau selagi aku bisa pasti akan aku lakukan, jadi jangan enggan buat minta ke aku, ya?" pinta Alana. Sabiru kembali mengangguk paham.
"Kamu main aja, aku mau cari camilannya dulu. Nanti aku panggil kalau sudah dapat, oke?" titah Alana yang dijawab oleh Sabiru dengan riang. "Oke!"
Melihatmu bahagia karena hal kecil sudah membuatku senang. Setidaknya aku tidak melihat wajah sedih dan penuh air mata itu serta nada bicara yang dingin. Itu sudah cukup untukku.
Terima kasih atas perubahan ini yang aku pastikan belum bisa sepenuhnya seperti dulu. Namun setidaknya aku bisa memaafkan diriku yang telah membuatmu seperti ini. Akan tetapi maaf yang belum aku dapatkan darimu juga masih menghantui pikiranku, tapi tidak apa-apa. Perubahan kecil seperti ini saja aku sudah sangat senang. Sekali lagi terima kasih Sabiru, kekasihnya Awana dan istrinya Alana. Bahagia selalu, Sayang.
Sorot mata yang menghangat itu masih menatap sosok gadis yang tengah berlarian ke sana ke mari mengejar seekor kucing liar. Terukir indah senyuman di wajahnya.
"Mas, ini martabaknya," ujar penjual martabak dengan memberikan box yang dibungkus oleh plastik.
"Makasih, Pak," balas Alana menerimanya sembari menyodorkan uang seratus ribuan.
"Kembaliannya delapan puluh ribu ya, Mas," ucap penjual itu memberikan kembalian. Alana menerimanya dan mengucapkan terima kasih sebelum dia pergi ke penjual lainnya.
Tiga macam camilan sudah Alana dapatkan dan kini dia sedang menungu untuk membeli minuman. Minuman Red Velvet dan Sari buah apel serta air mineral lah yang tengah Alana beli. Dia harus menunggu sekitar lima menitan di masing-masing stand penjual agar bisa membawanya menuju kursi yang tadi ditunjuk, kecuali air mineral. Dia hanya perlu mengambil air yang disediakan di setiap sudut yang ada di lingkungan danau.
Tanpa perlu lama, Alana sudah berjalan menuju tempat bawah pohon dengan membawa beberapa kantung plastik yang berisi berbagai macam camilan dan minuman.
"Biru, sini, Sayang," panggil Alana pada Sabiru yang tidak jauh darinya.
"Iya, Na," teriak Sabiru.
Dengan sedikit berlari Sabiru menuju Alana dengan senyuman yang masih terlukis dengan indah di wajahnya.
"Ini camilannya. Ada minuman juga," tukas Alana mengeluarkan satu persatu makanan dan minuman dari kantung plastik.
"Makasih, Nana," ucap Sabiru yang begitu senang.
"Sama-sama. Dimakan ya, kalau ngga habis bisa buat nanti di rumah," ujarnya yang kembali tersenyum menatap ekspresi Sabiru yang begitu senang. Seperti inikah rasanya menjadi Awana? Memanjakan kekasih dan merasa bahagia saat sang kekasih merasa senang.
Andaikan kamu masih di sini, Na. Biarkan kali ini aku merasakan apa itu perasaan bahagia.
Sore hari telah datang, senja yang dinikmati dari pantai begitu memanjakan mata dan di sinilah mereka berada. Di sebuah pantai yang kali ini juga tempat terukir nya kenangan antara Sabiru dan Awana. Bagaimana Alana bisa kuat menghadapi hal itu? Jawabannya mudah, hanya perlu ikhlas dan jalani apa takdir yang sudah ada untuk kita.
Memang tidak mudah. Namun Alana berhasil melakukannya, walaupun hatinya sedikit ter-iris melihat istrinya yang masih mengharapkan adik kembarnya.
"Kita pulang malam tidak apa-apa? Aku masih pengen di sini," tanya Sabiru mengungkapkan keinginannya.
"Iya, ngga papa, tapi kita makan dulu ya. Nanti kamu bisa main lagi di pantai," jawab Alana yang lagi-lagi tersenyum.
"Iya. Aku ada rekomendasi resto yang enak di sini. Nanti mau ke sana?" tawar Sabiru dengan mata berbinar. Apakah kali ini juga masih tentang Awana?
"Boleh, atur aja mau di mana. Untuk biaya jangan dipikirkan, oke?" Sabiru membalasnya dengan anggukan yang kemudian dia menyenderkan kepalanya di pundak Alana. Posisi, mereka memang tengah duduk di atas pasir di pinggiran pantai sembari menikmati senja yang hampir menghilang.
Aku minta maaf karena lagi-lagi aku mengaitkan mu dengan Awana. Aku tahu, kamu tidak begitu kuat menghadapinya. Namun kamu begitu tegar di hadapanku, kamu sungguh hebat, Na!
Semoga takdir kita memang bagus untuk ke depannya. Jangan ada perpisahan lagi yang menimbulkan trauma. Terima kasih ... terima kasih telah begitu kuat menghadapi sikap-sikap ku selama ini.
Aku akan berusaha untuk mencintaimu, mencintai sosok suami yang begitu baik memperlakukanku. Tetaplah bersamaku, Alana.
🥀
See you guys!!
Selamat menjalankan ibadah puasa yang ke 21 dan saya selaku author Awan Biru Alana meminta maaf atas segala kesalahan yang entah disengaja ataupun tidak disengaja. 🙏🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Awan Biru Alana [END]✓
Teen FictionTidak ada perjuangan yang sia-sia, yang ada hanyalah takdir yang belum waktunya. Kisah yang awalnya indah tidak mungkin akhirnya akan indah juga, tetapi tidak selalu seperti itu. Ada yang awalnya indah dan akhirnya juga indah, tetapi ada pula yang a...
![Awan Biru Alana [END]✓](https://img.wattpad.com/cover/367741335-64-k547316.jpg)