46. Perlu Kata Maaf

226 21 4
                                        

"TOLONG sampein makasih gue ke Kimmy ya, Nu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"TOLONG sampein makasih gue ke Kimmy ya, Nu. Gue jadi ngerasa nggak enak banget, pertama ketemu baik-baik sama dia, eh malah begini."

Janu menutup pintu geser balkon setelah kedapatan mengakhiri pembicaraan lewat telepon. Kimmy terus menerus menghubunginya karena sebegitu cemasnya setelah melihat Hera drop di depan mata kepalanya sendiri. Padahal, Hera saat itu hampir tidak merasakan apapun. Pikirannya benar-benar kosong, ia bahkan sempat tak mengetahui dari mana asalnya darah yang menetes menodai blazernya. 

Telinganya terasa berdenging. Suasana cafe yang riuh saat ia tumbang tak sampai dipendengarannya. Setelah Janu berulang kali menepuk pipinya, akhirnya Hera mendapatkan fokusnya kembali. Perlahan ia bisa bernapas dengan normal, dengung di kepalanya memudar begitu Janu menyerukan namanya tak kunjung putus.

Setelah mengganti baju, Hera duduk meringkuk di sofa ruang tamu. Secangkir teh hangat yang Janu buat beberapa waktu lalu kini tinggal separuh. Suasana apartemen saat ini begitu sunyi, hanya ada deru napas Hera yang teratur serta derap langkah Janu yang perlahan mendekat.

"Lo telat makan nggak?" tanya Janu. Pria jangkung itu membentangkan selimut, dan mentupi kaki jenjang Hera yang terekspos karena hanya mengenakan setelan piyama pendek.

"Nggak kok, gue sempet makan sama anak-anak kantor sebelum ke tempat lo."

"Terakhir dokter Airin bilang seharusnya udah nggak ada yang perlu dikhawatirkan, terus kenapa lo sampai drop lagi begini?" tanya Janu lagi. 

Hera tersenyum kecut, matanya terlihat sayu. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhnya bereaksi seperti ini. Segala anjuran dokter Airin sudah ia patuhi, Hera juga sudah berusaha menjauhi makanan-makanan tak sehat, bahkan ia memasang pengingat di ponselnya supaya tak terlewat waktu meminum obat.

"Capek kali ya, gue udah mau sebulan kayaknya dilepas Papa begini."

"Gimana nanti kalau semuanya udah di take over ke lo, Ra? Rasanya ini udah waktunya lo ceritain kondisi lo ke bokap, deh?"

"Ya jangan dong, Nu! Kan gue udah mendekati sembuh!"

Janu menyenderkan punggung di sofa, ia duduk menyamping sembari menatap Hera yang terlihat lesu malam itu. "Kalau soal kerjaan, gue tahu lo udah pernah ngelewatin yang lebih berat dari pada ini. Jadi, apa ada hal lain?"

"Nggak ada deh kayaknya. Mungkin gue kaget karena belakangan waktu tidur gue berkurang," jawab Hera seraya menyesap teh hangat di cangkirnya.

"Mungkin lo nggak sadar aja karena belakangan ini lo terkesan memaksakan diri," tukas Janu dengan nada lembut, "berat memang memutus hubungan dengan seseorang yang udah terlibat banyak di kehidupan kita. Tapi jangan sampai lo kehilangan diri lo sendiri, Ra."

"Tahu banget lo kayaknya?" Hera menyeringai, kemudian membenamkan dirinya di balik selimut.

"Kadang emang malah orang lain yang lebih tahu soal diri kita sendiri, kan?"

Leave Out All The Rest [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang