bab 22 (end)

4 1 0
                                        

Beberapa tahun berlalu, hubungan Alana dan Sabiru semakin membaik dari tahun ke tahun, seperti sekarang ini. Mereka tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan yang rencananya akan mencari keperluan untuk buah hati mereka yang sebentar lagi akan lahir.

"Mas, aku mau ke sana, ya?" ujar Sabiru menunjuk lorong yang penuh dengan berbagai macam mainan anak kecil.

Alana di sebelahnya menoleh lalu mengangguk. "Iya, nanti ke sini saja kalau udah selesai, atau telfon aku saja ngga papa," katanya sebelum Sabiru dengan semangatnya pergi ke arah yang ia mau.

Berjalan sedikit cepat meninggalkan sang suami yang sedang memilih baju dan keperluan lain untuk anak mereka, Sabiru dengan bersenandung mulai melihat-lihat mainan yang mungkin akan dibelinya nanti.

Matanya melihat ke sebuah mainan gantung yang memiliki hiasan bunga dan hewan yang menjulur ke bawah. Tangannya mengambil mainan tersebut dan melihat apakah berguna atau tidak nantinya.

"Ini bagus kayaknya, nanti bisa digantung di box bayi," gumam Sabiru sembari memasukkan mainan tersebut ke dalam keranjang belanja. "Ini juga bagus." Tangannya kembali mengambil beberapa mainan lalu memasukkannya ke dalam keranjang.

Bumil muda itu terus menyusuri rak-rak yang menampilkan berbagai macam mainan. Sesekali mengambilnya dan melihat lalu mengembalikan jika dirinya tidak suka atau ada yang kurang. Hampir setengah jam Sabiru berada di lorong tersebut sampai ponselnya berdering barulah Sabiru meninggalkan lorong tersebut menuju tempat suaminya berada.

"Dapat berapa mainannya?" tanya Alana dengan lembut, tangannya mengambil alih keranjang yang dipegang istrinya lalu menuntunnya menuju kasir.

Barang pilihan Alana sudah dijadikan satu dengan milik Sabiru yang kini keranjang tersebut penuh dengan barang mereka.

***

"Setelah ini mau ke mana lagi, hm?" tanya Alana saat mereka sudah berada di dalam mobil.

"Mau ke makam Awana boleh?" jawab Sabiru dengan hati-hati. Dirinya takut sang suami malah merasa marah atau sedih di saat ia berkata seperti itu. "Kalau kamu ngga mau, langsung pulang aja ngga papa," sambungnya setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari Alana.

Mobil mereka yang sudah meninggalkan pusat perbelanjaan kini mulai menuju arah yang sangat Sabiru kenali, arah menuju makam Awana, mantan kekasihnya yang kini menjadi adik iparnya.

"Kata siapa tidak boleh? Bukankah kita sudah membicarakan ini waktu dulu?" ujar Alana tiba-tiba. Sabiru menoleh dan menemukan setitik rasa kecewa di mata Alana, tapi bibirnya yang tersenyum seolah menyamarkan rasa tersebut.

"Maaf ...." cicit Sabiru, tangannya memilin ujung bajunya. Kepalanya juga tertunduk tidak berani menatap wajah Alana.

Alana yang melihat sikap istrinya memilih untuk menepikan mobilnya. "Aku ngga marah, sayang, kenapa takut, hm?" Tangannya menyentuh pelan kepala istrinya, mengelusnya. Di luar dia memang berkata seperti itu, tetapi dalam hatinya dia berkata lain. Sebenarnya aku belum seikhlas itu mendengar kenyataan bahwa kamu masih mencintainya.

Mobil telah sampai di TPU, Alana turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Sabiru yang keluar dengan perut buncitnya. Menggandeng tangan wanitanya menuju makam sang adik.

"Hati-hati," ucap Alana dengan penuh perhatian. Sabiru mengangguk dan menuruti ucapan Alana.

Tak jauh dari mereka berjalan, makam Awana sudah terlihat membuat Sabiru semakin mengembangkan senyumannya. Alana melihatnya, tetapi dia hanya diam tanpa berkomentar apapun.

Tiba di samping makam Awana, Alana meletakkan kursi plastik yang dibawanya dengan satu tangan, membiarkan istrinya duduk di sana dengan tenang dan nyaman. Dia meminta kantong plastik yang dipegang oleh Sabiru lalu menaburkan isinya di atas makam.

"Halo paman, calon keponakanmu datang menjenguk paman," ucap Sabiru dengan nada gemas, mirip anak kecil yang baru bisa berbicara. Tangannya mengusap perutnya dan wajahnya yang menampilkan senyuman terindah.

"Paman yang tenang di sana ya, dedek bayi akan jaga mama dengan baik," lanjutnya sambil melirik Alana.

"Papa Alana juga akan jaga mama, kok. Papa pasti akan mencintai mama dengan penuh kasih. Memperlakukan mama seperti ratu dan tidak akan pernah menyakiti mama, jadi paman tenang saja di alam sana." Sabiru mengakhiri kalimatnya dengan senyuman manis yang ditujukan untuk Alana, suaminya saat ini. Sosok yang akan menemaninya sampai tua nanti.

Alana membalas senyuman itu dengan tatapan teduhnya. Mengelus puncak kepala Sabiru dan mengecup keningnya dengan lembut. "Terima kasih, karena sudah mempercayai diriku untuk mendampingimu."

❤️

Alana sibuk bolak-balik di depan ruang bersalin. Matanya menyiratkan rasa khawatir yang sangat besar. Di kursi tunggu ada orang tuanya dan orang tua Sabiru, mereka sama-sama menunggu dengan cemas.

Setelah hampir satu jam Sabiru berada di dalam sana akhirnya terdengar suara tangis bayi yang membuat mereka berlima bernapas lega.

"Syukurlah bayinya sudah lahir."

"Terima kasih, Tuhan."

"Semoga mereka berdua sehat tanpa kurang satupun."

"Terima kasih sudah menjawab doaku, Tuhan."

Alana tidak ikut berkata sesuatu, dia diam tetapi dengan air mata kebahagiaan yang mengalir. Perasaan senangnya membuncah membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.

Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan dengan wajah leganya yang penuh keringat.

"Selamat, Anda sudah menjadi ayah. Ibu dan bayi baik-baik saja." Dokter tersebut langsung berucap setelah melihat betapa penasarannya mereka akan keadaan di dalam sana.

"Syukurlah, terima kasih Tuhan."

❤️

"Kamu mau beri nama siapa anak kita?" tanya Alana sembari menggendong bayi mungil yang baru saja lahir beberapa jam yang lalu. Dia duduk di seberang ranjang yang digunakan Sabiru untuk beristirahat.

"Aku belum ada nama, kamu sudah?" jawab Sabiru. Bibirnya membentuk senyuman saat melihat putranya menangis.

Alana memberikan bayi mungil tersebut pada sang istri untuk diberi minum. "Aku sudah ada, tapi nggak tahu kamu suka atau tidak."

"Siapa namanya?" Sabiru melirik pada suaminya.

Terdiam sejenak dan menatap ragu ke arah Sabiru. "Awana Alaska Victoria." Netranya menangkap raut terkejut Sabiru. "Bagaimana menurutmu?"

"Kamu yakin memberikan nama itu pada putra kita?" tanya Sabiru. Alana mengangguk yakin. "Nama yang bagus, aku suka."

Keduanya tersenyum. Kebahagiaan yang ada di antara mereka terpancar hanya dari tatapan keduanya.

Kebahagiaan di ruangan itu semakin bertambah setelah keluarga dari suami istri yang baru menjadi orang tua mulai masuk satu persatu.

"Selamat menjadi orang tua baru, sayang." Dua wanita yang menjadi ratu di keluarga masing-masing mulai mendekat dan membiarkan suami mereka mencari tempat sendiri untuk beristirahat serta mengusir sementara Alana dari sana.

"Terima kasih, Ma." Sabiru tersenyum manis pada keduanya.


End.

Thank you guys. Terima kasih untuk kalian yang sudah menemani author merampungkan cerita ini. Kita berpisah di sini dan nantikan cerita author yang lainnya ya guys.

See you, next time, readers. ❤️

Awan Biru Alana [END]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang