Chapter 144 (Shocked)

509 27 6
                                        

*****

"Ya udah awas aja kalau apa-apa nyariin aku!" Kesal Barra.

Farez tak kalah menatap memicing, "Oke! Kamu kira aku nggak bisa apa-apa sendiri?? Awas juga kalau apa-apa minta tolong ke aku!"

"Ya sama aja dong, kamu pikir aku nggak bisa juga??" Dengus Barra.

Keduanya saling menatap tajam, sebelum akhirnya Barra berbalik lalu berjalan cepat ke arah kamar mereka. Sedangkan Farez juga mendengus dan menutup pintu ruang kerjanya kencang.

Barra hanya menoleh sekilas lalu ikut masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya kencang, berlanjut mengomel di dalam kamar.

Oke...

Alasan konyol apa yang menyebabkan pertengkaran mereka malam ini.

Hanya karena berawal dari perdebatan tubuh siapa yang paling besar dan siapa yang kuat untuk mengangkat siapa.

Benar-benar tidak masuk akal, tapi mereka menganggapnya serius dan berakhir bertengkar seperti ini.

Barra segera naik ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, sedangkan Farez juga tidur di sofa lebar ruang kerjanya, ikut menyelimuti dirinya dengan selimut.

Sampai kapan mereka bertahan.....

Keesokan harinya, Farez masuk ke dalam kamar mereka dengan wajah masam. Bisa ia lihat Barra yang sudah siap dengan pakaian kerjanya, suaminya itu pun hanya melirik sekilas lalu menyambar tas kerjanya. Barra berjalan cepat ke arah pintu, "Aku duluan, mau ada rapat pagi," ucapnya pelan lalu keluar dari sana.

Farez hanya mendengus dan menggumam mengiyakan.

Sepeninggal Barra, Farez menatap tempat tidur mereka, menyadari jika tidak ada pakaian kerjanya di sana. Ia membuka lemari dan menemukan pakaiannya masih tergantung di sana dan belum disetrika.

Astaga dia lupa ada pertemuan dengan klien pagi ini, akhirnya ia memutari kamarnya untuk mencari keberadaan barang-barang yang biasanya sudah disiapkan oleh Barra jika ia sudah terburu begini.

"Ya ampun di mana sih nyimpennya...." Keluhnya sambil terus mencari di dalam lemari.

Sedangkan Barra berjalan cepat ke arah garasi, ia terdiam ketika menatap mobilnya yang ternyata berada di dalam garasi, dihalangi oleh mobil Farez yang memang datang terakhir kemarin.

"Ya ampun... Musti keluarin mobil Farez dulu ini??" Desisnya. Ia menatap jam tangannya, waktunya sudah benar-benar terburu. Biasanya ia akan meminta tolong Farez jika situasinya begini, tapi mana mungkin ia meminta tolong suaminya sekarang.

Akhirnya ia kembali berlari ke dalam rumah dan mengambil kunci mobil Farez, lalu segera mengeluarkan mobil Farez terlebih dulu.

Beberapa saat kemudian,

Farez sedikit berlari saat memasuki studionya, Ervin yang melihatnya sedikit terheran, "Tumben lu baru dateng, biasanya kalau ada meeting pagi, lu dateng lebih awal Rez."

"Sorry sorry, tapi klien belum dateng kan?"

"Belum sih, tapi udah pada siap di ruangan meeting," jawab Ervin.

Farez mengangguk, "Ya udah gue siapin bahan dulu ya. Oh iya Vin, gue minta tolong pesenin breakfast buat gue ya."

Ervin mengernyit, "Lu belum sarapan juga? Tumben sih Rez, biasanya kalau nggak sempet, Barra bawain lu bekal."

Farez sedikit menghela nafas lelah, "Ada deh ntar gue cerita." Ia lalu menaiki tangga dengan lesu.

"Kenapa lagi mereka?" Gumam Ervin.

mystoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang