Chapter ini tidak mengandung gambar atau AU 🙏🏻
.
.
*****
Barra memasuki studio Farez dengan langkah pelan, ia tersenyum ketika beberapa teman suaminya itu menyapa.
"Eh Bar, lu ke sini?"
"Iya, bekalnya Farez ketinggalan tadi. Makanya gue anterin ke sini," jawab Barra.
"Nggak kerja lu?"
"Lagi ambil libur, Farez di atas?"
"Lagi meeting itu sama klien, rada susah kayaknya."
Barra mengernyit, "Proyek baru itu?"
Teman suaminya itu terlihat mengangguk, "Iya Bar."
Barra meremat tangannya gusar, apa ada masalah? Merasa dia turut andil dalam proyek ini karena Farez sempat meminta masukannya dan suaminya itu menyetujuinya.
Ia berjalan mendekat, mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Bisa ia lihat suaminya itu tengah bersitegang dengan kliennya, sedikit banyak merasa khawatir dan...
...merasa bersalah.
Mungkin kejadian beberapa hari yang lalu juga turut mempengaruhi pikiran suaminya.
Gara-gara dirinya.
"Anda bisa menjanjikan apa? Melihat desain ini saya jadi ragu, terkesan terlalu mengada-ada untuk direalisasikan. Saya juga bisa jika harus membuat ide yang aneh-aneh seperti ini, terlalu mudah untuk dituliskan."
Barra meremat pegangannya pada tas yang ia bawa.
Apa barusan yang ia dengar?
Desain yang mengada-ada? Enak saja. Pengetahuan orang ini jelas tidak setinggi ucapan dari mulutnya.
Setelah berpikir sesaat, akhirnya Barra memutuskan untuk membuka pintu ruang meeting itu kencang. Membuat semua orang di dalamnya menoleh ke arahnya, begitu juga Farez yang sedikit melebarkan matanya.
Bisa ia lihat Ervin, juga beberapa tim suaminya dengan ekspresi keruh yang tergambar di wajah mereka. Matanya bergulir menatap seorang pria yang mungkin seumuran dengan mereka berdua, juga satu orang wanita paruh baya.
Apa itu klien baru suaminya?
"Maaf Anda siapa, kenapa sembarangan masuk? Kami sedang ada meeting di sini," Tanya pria itu dengan nada angkuh.
Barra meletakkan bawaannya di sofa dekat pintu, ia menatap sekilas ke arah suaminya yang terdiam memandangnya. Jelas sekali jika Farez sedikit banyak memintanya untuk tidak bertindak gegabah.
Tapi untuk kali ini, dia tidak mau mundur. Ucapan pria itu sama saja telah meremehkan pemikirannya.
Barra kembali menatap pria itu dengan tatapan sama angkuhnya.
"Jika kita ingin membuat dunia menjadi lebih baik, cobalah untuk melihat dirimu sendiri di cermin dan buatlah sebuah perbedaan untuk menciptakan hal baru," ucap Barra pelan.
Pria itu terdiam, sudah ingin berbicara, namun kembali dipotong oleh Barra.
"Saya Barra Adisty, salah satu pencetus ide yang baru saja Anda katakan sebagai ide aneh itu," ucap Barra lagi.
Pria itu kembali tersenyum remeh, "Oh jadi kamu, gimana bisa berpikir ide seperti ini akan berhasil?"
Farez mengepalkan tangannya, tidak terima suaminya diremehkan seperti ini. Ervin yang menyadarinya pun menyenggol kaki sahabatnya itu, "Tenang, bro..." Ia paham jika Barra tidak akan kalah di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
mystory
Roman d'amourMenceritakan seorang pria player yang sayangnya berwajah cantik, bernama Barra dan dikenal suka berganti pasangan di setiap minggunya, tak peduli pria atau wanita. Namun suatu hari, dirinya terpaku dengan sosok pria berkacamata yang tengah duduk di...
