Chapter 153 (Bian)

532 26 5
                                        

*****

Farez menuruni tangga dengan Bian yang berada di gendongan, ia terkekeh ketika putranya itu menguap kecil, membuatnya menutup mulut mungil itu dengan tangan.

"Ayo bangun jagoan, masa masih ngantuk hmm?"

Bian mengucek matanya pelan, memilih untuk mengeratkan peluk.

"Cu..." Lirih Bian.

Farez tersenyum kecil, bayi mungilnya ini memang sudah berusia 8 bulan lebih sekarang. Kosakata yang dimilikinya semakin banyak, seperti pagi ini.

"Tadi bilangnya mau mam, jadi mau mam apa minum susu?" Tanya Farez lagi sambil mencium pipi Bian gemas, mereka berdua berjalan ke arah dapur.

"Mam... Cucucuu..." Jawab Bian lalu terkikik kecil setelahnya menunjukkan giginya yang mulai tumbuh lagi, mampu membuat Farez ikut terbahak. Ia mendudukkan Bian di counter dapur, lalu kembali bertanya, "Jadi maunya apa ini hmm?"

"Mam..."

"Bian mau Mam? Mam cemilannya Bian dulu ya," ucap Farez.

"Cuuu..." Tunjuknya ke arah rak dapur bagian atas.

"Hmmm?"

Oke, Farez mulai bingung, karena kosakata Bian yang semakin banyak, terkadang satu kata bisa bermaksud lain.

"Cuuu, Mam..."

Farez terdiam, mencoba memahami.

"Ohhh, Mamnya Bian di situ?"

Bian mengoceh sambil bertepuk tangan, bahagia karena Daddy-nya mengerti.

"Oke habis ini Daddy ambilin ya..."

"Paaa..."

"Papa masih bobo tau," gemas Farez. Matanya mengedar menatap dapur, "Bikinin Papa sarapan, yuk..."

Bian kembali tersenyum lebar, "Paaa, Mamammm."

"Oke, ayo Bian duduk di baby chair ya. Temenin Daddy bikin sarapan buat Papa," ucapnya lalu mengangkat tubuh Bian ke arah baby chair.

Ia mengambilkan Snack bayi milik Bian agar bayinya itu tenang, setelahnya mulai berkutat di dapur. Tidak membuat yang sulit, hanya toast sandwich dan susu.

Biasanya Barra yang akan menyiapkan itu, tapi nampaknya suaminya itu kelelahan karena begadang semalam, ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan. Untung saja hari ini hari Minggu, jadi saat ia tahu Bian terbangun lebih dulu, ia memilih bangun tanpa membangunkan Barra.

Pengasuh Bian kini tidak lagi tinggal di rumahnya, sejak anak sulungnya pindah ke kota, pengasuh Bian memilih untuk tinggal bersama dengan anaknya. Dia akan datang saat weekdays, itupun hanya dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore. Saat weekend, Farez memberikan libur karena ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya ini.

Farez berulang kali menoleh ke arah Bian yang sibuk dengan camilannya, lalu terkekeh kecil.

"Dad? Bian?"

Suara serak Barra yang berjalan menuruni tangga membuat keduanya sama-sama menoleh.

"Lagi di dapur, Sayang..."

Barra berjalan ke arah dapur sambil mengucek matanya, "Pada di sini, aku nyariin..."

"Kenapa bangun, bobo lagi aja kalau masih capek Sayang," ucap Farez.

mystoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang