"Halo, Rinne di sini! Seorang makhluk hidup yang otaknya selalu dalam mode otomatis berkhayal, kecuali ketika tidur dan dihadapi tugas duniawi. Menuangkan pelampiasan, dia akhirnya mulai menulis karya fiksi sejak masa kanak-kanak, hingga sekarang menjadi satu-satunya hal yang paling dibanggakan―barangkali.
Sangat menyukai tetek-bengek dunia pergepengan dengan dalih visual indah dan cerita bagus. Memiliki ketertarikan terlalu besar terhadap fantasi dan roller-coaster emosional manusia, tetapi pula menggemari rangkaian cerita absurd nan bodoh. Karakter favoritnya sebanyak satu porsi nasi yang biasa kamu makan. 'Ah, masa?' Nggak tahu juga, sih.
Sekarang, dia tengah menekuni rutinitas berkhayalnya dengan menjadi seorang yumejoshi untuk mewujudkan kehidupan romansa bersama cowok gepeng. Aktif berkeliaran di Twitter. (Hah? X? Idih.) Tidak perlu mampir ke akunnya juga tidak apa. Ini hanya orang stres yang kebanyakan halu, WAHAHAHAH."
...
↼↽↼↽⇁⇀⇁⇀
Data OC
Name: Yumehara Rinne Age: 17 Class: 2-A Club: Fragments Birthday: 17 September Zodiac: Virgo Like: Any form of stories and arts, sweets Dislike: Problems Height: 160 cm Weight: 49 kg
About her:
Tipikal anak pendiam baik-baik yang begitu pintar di kelasmu, adalah impresi pertama bagi yang mengenalnya. Jika melihat lebih dekat, barulah kamu akan melihat wujud sejatinya lebih jelas; penuh harga diri dan sangat mementingkan diri sendiri dibandingkan orang lain. Sedikit frontal ketika berbicara, pula agak tumpul membaca situasi orang-orang. Namun, pada dasarnya dia tidak menyukai masalah. Jadi, selama tidak diganggu, dia pun akan bertingkah baik-baik saja.
Kemampuan memahaminya di atas rata-rata. Hanya saja, dia tidak senang dituntut oleh ekspektasi, sesuatu yang membuatnya muak berada di antara garis keturunan berjalan gemilang. Jadi, dia akan melakukan sesuatu semata sesuai dengan niatnya saja selama secara teknis dapat memenuhi tanggung jawab. Terlihat seperti hipokrit, pribadi tersebut membuat banyak orang merasa segan hingga dibenci. Lantas di kemudian hari, dia mulai merasa kesepian. Tergugah hati lewat karakter-karakter dari berbagai kisah yang dituturkan, akhirnya dia mencoba untuk lebih memanusiakan orang lain dan membuang harga diri berlebihnya melalui suatu eksperimen, yang dinamai menulis kisah fiksi.
Dia masih perlu berusaha untuk menyeimbangkan agar tidak terlalu merasa tinggi atau menyalahkan diri atas segalanya, sih. Huh. Itu bertolak belakang? Memang. Manusia dan kompleksitasnya memusingkan sekali, ya.