19. Pengakuan Dosa

1K 87 29
                                        

Disclaimer!

• Narasi harap dibaca juga, agar paham alur dan karakter tiap tokoh.
• Komentar sesuai alur cerita, jangan bawa cerita lain.

Cerita ini diketik 7873 kata.

Happy Reading!

***


Alvaro mengecup kening Dara yang kini masih tertidur lelap di atas ranjang bersama dengan putranya. Lalu, Alvaro beralih mencium kening dan mengusap puncak kepala Leon dengan lembut tanpa berniat membuat putranya terbangun.

"Papa pergi dulu ya, jagoan, jaga mama dan adik. Papa janji akan kembali," katanya.

Langkah kakinya perlahan meninggalkan kamar, namun di sisi lain, Dara sebenarnya mendengar seluruh ucapan yang terlontar dari mulut Alvaro beserta usapan dan kecupan lembut pria itu.

Nasi sudah menjadi bubur, Dara sama sekali tidak mempunyai kuasa untuk melarang Alvaro pergi meski feeling-nya berkata hal lain. Setelah kepergian Alvaro, mungkin kini tidurnya tak akan nyenyak dan menunggu sampai pria itu kembali dalam keadaan hidup.

Alvaro sudah berada di pekarangan rumahnya, ia melihat Angga baru saja datang ke Jersivic untuk memenuhi permintaannya.

"Maaf ya papa baru datang," kata Angga.

Alvaro mengangguk kecil, "Tidak apa-apa, Pa. Akan lebih aman jika papa disini. Dan saya juga sudah mengosongkan Gersivic."

"Apa mungkin ini akan jadi pertanda hancurnya Gersivic?"

"Saya gak bisa prediksi apa pun, Arlan sangat sulit untuk kita tembus rencananya," kata Alvaro.

Angga menepuk bahu putranya, "Kamu yakin pergi kesana tidak membawa siapa pun?"

"Saya tidak ingin kejadian-kejadian di masa lalu terulang lagi, saya gak mau kehilangan istri dan anak-anak saya lagi, Pa. Saya mau melindungi mereka dan juga papa semampu yang saya bisa."

Angga yakin, Alvaro merasakan trauma mendalam. Sebab, entah sudah keberapa kali, Dara juga Leon mengalami serangan dari para musuhnya.

"Ya sudah, papa hanya bisa mendoakanmu. Biar papa juga disini ikut menjaga istri dan anak-anakmu," kata Angga. "Permintaan papa hanya satu, hidup atau mati, tolong kembalilah ke papa dalam keadaan utuh."

Seakan tahu jika risikonya sangatlah besar, Angga hanya memberi Alvaro satu permintaan, yaitu; hidup atau mati, kembalilah dengan utuh.

Alvaro mengangguk, kemudian dari pintu utama, Rama datang dengan tergesa-gesa hingga semua mata tertuju kepadanya. Ia berhasil memusatkan perhatiannya ke seluruh anggota Cavity Nine terutama sang Naratama.

"Ada apa?" tanya Alvaro.

Rama menghela napasnya, "Izinkan saya ikut bersama Anda."

"Tapi seharusnya Fero dan Luke yang ikut pergi dengan saya," sangkal Alvaro.

"Saya mohon," mohon Rama.

Tidak ada rasa kecurigaan yang muncul, justru rasa khawatir yang hinggap di dalam pikiran Alvaro. Bukan meragukan, Alvaro malah tak ingin terjadi sesuatu pada Rama, kelak.

"Ya sudah, kemas barang-barangmu, gantikan Luke untuk ikut dengan saya," Alvaro memutuskan untuk mengganti Luke dan mengajak Rama ikut serta dengannya, sepertinya mereka semua juga lebih membutuhkan Luke disini, ketimbang Rama untuk memperkuat keamanan.

Aldara 3 [PINDAH KE FIZZO]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang