takut

124 16 0
                                        

Suara hujan masih terdengar di luar ketika jeongguk akhirnya membuka matanya. Rasa nyeri menusuk lengannya, tapi kesadaran pertamanya justru bukan soal lukanya—melainkan tidak melihat istrinya di sisi ranjang.

Panik kecil menggigit dadanya.

“sayang...?” panggil jeongguk pelan.

Seorang pengawal yang berjaga di pintu menunduk hormat. “nyonya sedang di dapur. Dia… membuat sup.”

Jeongguk berkedip bingung. “Sup?”

“Ya, Tuan. Dia memaksa.”

Jeomgguk menghela nafas ,istrinya ini memang keras kepala padahal dia sedang hamil

Suara langkah kecil terdengar, disusul aroma jahe dan ayam. Istrinya muncul sambil membawa nampan besar, apron kebesaran menggantung di tubuh gempalnya

Dan wajahnya—ya Tuhan—mengembang bangga sekaligus khawatir.

“Sudah bangun?” taeby memiringkan kepala. “Jangan banyak gerak.”

Jeongguk menatapnya lama. “adek tadi masak?”

“Jangan komentar,” sahut istrinya cepat. “Pokoknya makan.”

Jeongguk  tersenyum, tapi ia menahan. “Sini.”

Istrinya mendekat, tampak berusaha menjaga wajah tegar—tapi tangannya bergetar halus saat meletakkan mangkuk sup di meja kecil samping ranjang.

“adek kenapa gemetaran?”

ia pura-pura sibuk merapikan alat makan  suaminya. “Nggak apa-apa.”

Tapi jeongguk sudah mengenalnya. Sambil menahan sakit, ia mengangkat tangan untuk menyentuh pipi pasangannya.

Begitu disentuh, air mata kesayangannya itu langsung jatuh tanpa aba-aba.

“mas… aku takut…” suaranya pecah. “Aku kira… aku bakal kehilangan kamu.”

Jeongguk menghela napas panjang, memeluk kesayangannya dengan satu tangan yang masih kuat, meski tubuhnya sendiri terasa rapuh. “Aku masih di sini. Aku nggak akan ninggalin kamu atau bayi kita.”

Taeby menggigit bibir, lalu tiba-tiba menyembur, “Terus jangan bikin aku khawatir lagi! Kamu bukan dewa perang yang kebal peluru!”

Jeongguk menatapnya, tersenyum tipis.
“Maaf, ya. Tapi kamu juga bikin aku takut.”

“Hah? Kok aku?”

“Kamu lagi hamil, ngidamnya makin aneh, emosinya naik turun. Kamu bisa marah tiba-tiba cuma karena aku nafas agak kuat.”

Istrinya menatapnya lama. “Itu emang salah kamu.”

Jeongguk tertawa kecil meski menahan nyeri. “Iya, iya.”

Tapi di balik candaan itu, ada ketakutan nyata dalam diri jeongguk. Bukan soal luka musuh—tapi tentang istri dan bayi mereka. Ia tidak ingin kejadian tadi membuat keluarganya jadi target lagi.





---------------___________---------------___________---------------_________------------_______


Cuaca sore hari ini terlihat menyenangkan dengan kicauan burung dan langit yang sepertinya juga sedang merasa senang

Taehyung melangkahkan kakinya menuju ruang kerja suaminya berharap sang suami ada di situ karena sejak tadi ia sudah teriak untuk memanggil suaminya namun tak ada sahutan apapun

Sampai di ruang kerja suaminya membuka perlahan pinta di depannya namun yang ia lihat hanyalah kekosongan taeby hanya menghela nafas karena engap ia harus menuruni tangga untuk mencari suaminya itu

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My mafia husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang