Jihyo pov's
Semalam itu rasanya kayak mimpi, tapi aku tahu itu nyata. Aku masih bisa merasakan gimana hangatnya pelukan Mina, aroma parfum vanilanya yang menenangkan, sampai ciuman yang bikin aku merasa waktu benar-benar berhenti berjalan. Aku yakin kalau aku dan dia ada di frekuensi yang sama. Aku merasa sangat... terhubung(?)
Tapi rupanya enggak.
Pagi ini Mina hilang. Chat-ku cuma di-read, teleponku nggak diangkat sama sekali. Pas aku coba samperin ke rumahnya di sore hari, dia nggak mau menemui aku.
Mina menghindar seolah aku ini orang asing yang baru saja berbuat jahat sama dia. Aku bingung, panik, sekaligus sedih.
Kenapa dia?
Kenapa aku?
Aku bikin salah apa?
Jawaban yang aku cari akhirnya datang lewat satu pesan singkat di malam harinya. Singkat, padat, dan.... yah gitulah.
"Aku aman. Aku punya cowok, maaf ya, Jihyo"
Hm?
Aku diam cukup lama, mencoba mencerna semuanya.
Bukannya kemarin dia bilang nggak punya pacar?
Aku dibohongi atau gimana ya?
Aku merasakan ini semua sendiri ya?
Pelukan ciuman itu nggak ada artinya ya?
Terus apa sekarang?
Nggak tau. Aku bingung. Aku kalut.
Bingung harus bereaksi gimana, bingung harus membalas apa.
Semuanya tiba-tiba.
Cukup lama sampai akhirnya kuputuskan untuk balas "Okay. Maaf juga ya"
Setelah itu aku merenung lagi. Air mata ini, tanpa ku sadari menetes. Chappel Roan nggak bercanda soal "Goodluck babe" di lagunya. Dan aku juga nggak nyangka aku bakal ada di posisi Chappel Roan saat ini.
Aku reflek berdoa semoga kita nggak dipertemukan lagi di kemungkinan-kemungkinan lain bahkan di kehidupan selanjutnya. Goodluck deh pokoknya!
___________
02-03-2026
