Dream High (Episode 01)

3.7K 70 11
                                    

(Sinopsis Dream High Episode 1)

Malam itu, penyanyi Korea, K, akan dianugerahi
Grammy Award di Amerika Serikat. Album K yang
berjudul Dream High telah terjual 100 juta kopi.
Saat itu, penyanyi yang dimaksud sedang duduk
diam sembari melihat sebuah foto beberapa siswa
berseragam sekolah. Di meja didepan K, tergeletak
sebuah kalung.
Sebelum beranjang ke panggung, K mengenakan
kalung tersebut.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
"Benarkan ini adalah foto K saat masih duduk di
bangku SMA?" tanya wartawan dalam siaran
langsung.
"Ya." ujar seorang pria berkacamata, Jung Ha
Myung. "Dulu ia adalah siswa di sekolah kami
sekitar... 8 tahun yang lalu."
"Apa dulu kau pernah menebak K akan menjadi
bintang yang memenangkan Grammy Award?" tanya
wartawan lagi. "Saat melakukan wawancara dengan
CNN, K mengatakan bahwa kau adalah tembakan
loncatannya."
"Tembakan pertama yang dilakukan untuk
membubarkan bola billiar adalah tembakan
loncatan." kata Ha Myung. "Bahkan jika kau
memukul bola pada sudut yang sama dan dengan
kekuatan yang sama, bola-bola akan berpencar ke
arah yang berbeda-beda. Bagaimana bola itu
bertemu dan kemana mereka akan menuju, aku
juga tidak bisa memprediksi. Jika tembakan
tersebut salah, maka aku sudah tidak bisa lagi
mengendalikan bola yang saling menabrak."
Hye Mi adalah seorang penyanyi seriosa yang
sangat berbakat.
Dua orang remaja putri sedang membicarakan dia.
"Hyo Mi wanita yang cantik, kaya dan berbakat.
Apa lagi yang tidak ia miliki?"
"Siapa dia?" tanya salah seorang remaja, menunjuk
seorang gadis berkaca mata yang sibuk dengan
fotonya.
"Dia adalah pengikut Hye Mi. Ia selalu berada
disekeliling Hye Mi." jawab temannya. "Ia orang
yang aneh. Ia mengikuti gaya Hye Mi dari kepala
hingga kaki."
Gadis berkacamata tersebut langsung menyambut
begitu Hye Mi keluar dan membantu Hye Mi
membawakan barang-barangnya. Gadis berkacamata
itu bernama Yoon Baek Hee.
Hye Mi mendekati kedua gadis itu dan berkata
tegas. "Dia bukan pengikut Hye Mi. Namanya Yoon
Baek Hee."
Hye Mi mendekati salah satu gadis dan menyentuh
rambut gadis itu. Gadis itu bernama Yong Mi.
"Sepertinya kau selalu mengenakan ikat rambut
pemberianku." kata Hye Mi dingin. Sebenarnya aku
ingin membuangnya. Tapi kau memakainya seakan-
akan benda itu berharga untukmu. Aku jadi merasa
tidak enak."
Yong Mi langsung melepas ikat rambut itu.
Hye Mi tersenyum tipis. "Ayo pergi, Baek Hee!"
"Satu-satunya yang tidak dimiliki Hye Mi adalah
sopan santun." kata teman Yong Mi.
"Aku tidak keberatan dikatakan sebagai pengikut
Hye Mi." kata Baek Hee.
"Tapi aku tidak suka." jawab Hye Mi singkat.
"Kalau begitu, aku juga tidak suka." kata Baek
Hee.
Kalau dilihat dari segi penampilan, Baek Hee
memang sama persis dengan Hye Mi. Mulai dari
kepangan, gantungan tas, sepatu, bahkan langkah
mereka kalau berjalan bersama juga sama.
Hye Mi melihat-lihat foto hasil jepretan Baek Hee
satu per satu.
"Aku suka foto yang ini." kata Hye Mi.
Baek Hee kelihatan sangat senang.
Hye Mi menyimpan foto itu di dompetnya.
Ketika hendak menyebrangi jalan, mendadak ada
keramaian. Puluhan orang berteriak-teriak dan
berlari mengikuti sebuah mobil hitam.
Orang-orang itu menabrak-nabrak Hye Mi dan Baek
Hee. Tanpa sadar, Hye Mi menjatuhkan gantungan
tas dan dompetnya.
Seorang pria mengambil dompet itu dan membuka
isinya. Hanya ada tiga buah uang koin.
"Dia kelihatan kaya..." gumam pria itu kesal.
Mendadak seorang pria lain datang dan langsung
memelintir tangan pria yang memegang dompet.
"Jo In Sung, kau masih melakukan itu?!"
"Jin Kuk! Jin Kuk! Sakit!" rintih In Sung. "Aku
tidak mencuri! Aku memungut dan berniat
mengembalikan pada pemiliknya!"
Mulanya Jin Kuk tidak percaya, tapi akhirnya
melepaskan temannya juga.
"Go Hye Mi?" gumam In Sung, membaca nama Hye
Mi di dalam dompet.
"Biar kulihat." kata Jin Kuk, merebut dompet itu
dari tangan In Sung. Ia membaca kartu siswa Hye
Mi. "SMP Han Kang."
Jin Kuk menoleh tidak jauh darinya, Hye Mi sedang
ribut-ribut mengenai sekolah seni Kirin yang
menurutnya menyebalkan.
Jin Kuk tersenyum tipis. "Aku akan mengembalikan
dompet ini pada pemiliknya." katanya.
Jin Kuk mengikuti Hye Mi dari belakang. Ia melihat
gerak-gerik Hye Mi yang agak mencurigakan.
Hye Mi mengenakan masker dan topi. Ia berjalan
cepat,kemudian melompati alat pembayaran tiket
kereta. Itu artinya ia masuk tanpa membayar.
Jin Kuk tersenyum tipis. Cantik-cantik ternyata...
Disuatu tempat di bandara, seorang pria sedang
berjalan menarik kopernya. Dikoper itu terpasang
gantungan dengan lambang sama dengan milik K.
Orang itu berjalan perlahan dan tersenyum melihat
keramaian di depannya. Dengan perlahan, ia
melewati keramaian itu. Pria itu adalah Jung Ha
Myung.
Itu adalah keramaian para fans yang menyambut
idola mereka, Kim Hyun Joong.
Ketika Hyun Joong sedang sibuk menjawab
pertanyaan para fans dan wartawan, mendadak
Hyun Joong melihat Ha Myung dan
menghampirinya.
Rupanya Jung Ha Myung adalah seorang guru di
SMA Kirin, SMA yang menjadi sekolah Hyun Joong
juga.
Pertemuan Hyun Joong dan Ha Myung itu
disiarkan secara live di tv.
Seorang pria dengan wajah dingin langsung
mematikan tvnya. "Akhirnya ia kembali kesini."
gumamnya.
Hye Mi berkeliling seorang diri di tempat parkir
mobil untuk menyebarkan edaran. Edaran tersebut
mengenai perusahaan kredit.
Tanpa Hye Mi sadari, seorang pria mengikutinya
dari belakang dan membaca edaran tersebut. "Putri
seseorang hancur karena hutang dari sebuah
perusahaan kredit."
Hye Mi menoleh dengan takut-takut.
"Didunia ini, ada sebuah hukum yang disebut
kerjasama dan tanggungjawab." ujar pria itu,
terus maju untuk menyudutkan Hye Mi. Ia adalah
bos perusahaan kredit, Ma Du Shik. "Jika ayahmu,
Go Byung Jik tidak bisa membayar hutangnya,
maka kau harus membayar hutang itu dengan uang
atau tubuhmu."
Hye Mi melempar kertas edaran itu ke wajah Du
Shik. "Aku tidak akan ikut denganmu!"
Hye Mi berusaha melarikan diri, namun gagal. Ia
terkepung.
Dalam kondisi terpojok, akhirnya Jin Kuk datang
untuk menyelamatkannya.
Sambil berkelahi, Jin Kuk sembari mencuri dompet
si pria penagih hutang. Setelah itu, ia
mengembalikan dompet Hye Mi dengan melemparnya
pada Hye Mi.
Rupanya Jin Kuk itu pencopet ulung. Hehe...
"Kenapa kau tidak bermain-main dulu denganku?"
ajak Jin Kuk pada para penagih hutang.
Hye Mi memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.
Pertarungan yang sengit dan kejar-kejaran terjadi.
Di sisi lain, Hye Mi memeriksa dompetnya. Foto
yang ia simpan dari Baek Hee hilang. Hye Mi
langsung mencari foto itu, namun tidak bisa
menemukannya.
Akhirnya Jin Kuk berhasil melarikan diri sampai ke
kereta. Namun sebelum sempat naik, seorang pria
berhasil menangkapnya. Mendadak sebuah sepatu
melayang yang mengenai kepala si pria jahat. Jin
Kuk berhasil melepaskan diri dan masuk dalam
kereta.
Karena Jin Kuk masuk dengan terburu-buru, ia
menabrak Hye Mi. Untuk mencegah Hye Mi jatuh,
Jin Kuk memeluknya. Para penumpang kereta
melihat mereka dengan heran.
Begitu sadar dari rasa shock, Jin Kuk dan Hye Mi
buru-buru melepaskan diri.
"Kita bertemu lagi." kata Jin Kuk.
Hye Mi tidak menjawab dan membelakangi Jin Kuk.
"Kau tidak ingat aku?" tanya Jin Kuk.
Hye Mi menoleh.
"Yogurt..." kata Jin Kuk.
"Kembalikan fotoku." kata Hye Mi dingin.
"Tidakkah kau ingin berterima kasih padaku dulu?"
tanya Jin Kuk, tersenyum. "Aku baru saja
menyelamatkanmu."
"Aku juga menyelamatkanmu." kata Hye Mi,
mengorbankan sebelah sepatunya. "Impas, bukan?"
Jin Kuk kelihatan kesal. "Sudah cukup." katanya
seraya berpaling dan beranjak menjauh.
"Mesum." kata Hye Min dengan keras sampai para
penumpang menoleh ke arah Jin Kuk.
Jin Kuk semakin kesal dan berbalik lagi mendekati
Hye Mi. "Apa?!"
"Sebagai seorang pria kau pasti menginginkan foto
itu." kata Hye Mi menantang.
Jin Kuk tidak banyak berkomentar. Ia tersenyum
dan turun dari kereta begitu kereta tersebut
berhenti.Hye Mi mengejarnya. "Kembalikan fotoku!"
Jin Kuk memasang headphonenya agar tidak bisa
mendengar teriakan Hye Mi.
Direktur Jung Ha Myung, yang sudah lama pergi,
akhirnya kembali ke Sekolah Seni Kirin. Berita
tersebut menjadi berita panas seantero sekolah.
Orang yang kerap dijuluki hantu kini kembali.
Ha Myung disambut oleh seantero sekolah,
termasuk Shi Bum Soo, yang selama kepergian Ha
Myung menjadi pemimpin Kirin.
Ha Myung memutuskan untuk melihat kondisi
murid-muridnya. Bum Soo mengantarnya
berkeliling.
Ketika Ha Myung melihat beberapa murid sedang
berlatih dance, ia melihat ada sesuatu yang salah
dengan tangan anak itu.
"Buka balutan tanganmu." perintah Ha Myung.
Di lengan anak itu ditemukan luka bekas jahitan.
"Belakangan ini para penonton menyukau aksi
panggung yang hebat." kata Bum Soo. "Tiga hari
lagi mereka akan melakukan pentas. Luka semacam
itu tidak masalah."
Ha Myung menoleh dan dengan tenang berkata,
"Batalkan latihan mereka." kemudian berjalan
pergi.
Bum Soo hanya bisa terdiam menahan marah.
Ha Myung berjalan lagi. Ia terhenti ketika melihat
kelas persiapan perguruan tinggi kosong, hanya
terisi oleh sarang laba-laba dimana-mana.
"Kelas ini hanya diperuntukkan bagi siswa yang
tidak memiliki potensi sebagai penyanyi." kata Bum
Soo.
"Lalu kenapa kelas ini kosong?" tanya Ha Myung.
"Karena siswa yang berakhir di kelas ini, akan
dikeluarkan." jawab Bum Soo.
"Apa persiapan audisi siswa baru berjalan lancar?"
tanya Ha Myung.
"Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau ingin
menjadi juri?" tanya Bum Soo cemas.
"Memangnya aku tidak boleh menjadi juri?"
"Bu... bukan begitu..."
Ketika Jin Kuk sedang bekerja di tempat pencucian
mobil, mendadak Hye Mi datang dan langsung
duduk didalam mobil yang sedang dicuci Jin Kuk. Ia
mengunci pintu mobil, mengencangkan volume
musik dan memejamkan matanya.
Jin Kuk menggedor-gedor jendela untuk
memanggil, tapi Hye Mi tidak mendengar.
Berkat ulah Hye Mi itu, akhirnya Jin Kuk
mengantarkan Hye Mi ketempat In Sung. In Sung-
lah orang yang telah mencuri foto Hye Mi.
"Foto ini?" tanya In Sung, menunjukkan foto Hye
Mi. "Aku tidak bisa memberikannya dengan mudah.
Bagaimana dengan tarianku tadi? Katakan padaku
maka aku akan mengembalikannya padamu."
"Tarianmu itu sangat.... vulgar." kata Hye Mi.
"Apa katamu?" tanya In Sung. Ia kemudian
meremas dan melempar foto Hye Mi ke lantai.
Hye Mi mengambil fotonya. "Kau ingin aku
mengulanginya?" teriaknya marah. "Tarianmu
sangat vulgar. Sangat rendahan! Dasar pencuri!
Gengster!"
Jin Kuk menarik napas panjang.
"Kau tidak tahu arti gengster, hah?" tanya In
Sung kesal, menunjuk-nunjuk kepala Hye Mi.
"Kekerasan."
In Sung benar-benar akan marah, namun Jin Kuk
menghentikannya.
"Gadis ini akan membawa kesialan untuk kita."
kata Jin Kuk. "Kita bahkan tidak tahu kapan audisi
Sekolah Seni Kirin."
"Kirin?" tanya Hye Mi merendahkan. "Kalian
melakukan ini untuk masuk ke sekolah sampah
itu?"
"Apa?! Sekolah sampah?!" In Sung mulai meledak
lagi, tapi Jin Suk menahannya.
"Tutup mulutmu dan pergi." kata Jin Kuk pada Hye
Mi.
Hye Mi berjalan pergi, Jin Kuk mengikuti
dibelakangnya.
Jin Kuk memberikan sepatunya pada Hye Mi,
karena sepatu Hye Mi hilang sebelah untuk
melempar penagih hutang.
"Pakailah." kata Jin Kuk. "Nanti aku akan pulang
naik motor."
Hye Mi melempar sepatu Jin Kuk ke kepala Jin Kuk.
"Ini bau dan tidak keren." kata Hye Mi angkuh.
Jin Kuk tertawa.
Hye Mi akhirnya pulang ke rumah dengan berjalan
kaki menggunakan "sepatu kardus".
Ketika sampai di depan rumah, Hye Mi mendengar
suara caci maki para pria. Para penagih hutang
datang lagi untuk mencari Hye Mi.
Hye Mi takut dan langsung bersembunyi.
Setelah para penagih hutang pulang, Hye Mi
langsung masuk ke rumah dengan panik.
"Ayah! Hye Sung!" panggil Hye Mi cemas.
Adik Hye Mi, Hye Sung, keluar sambil makan roti.
"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Hye Mi.
"Mereka menyuruhku menelepon begitu kau pulang
ke rumah." kata Hye Sung. "Mereka akan
memberiku banyak roti jika melakukannya."
Hye Sung memberikan kartu nama perusahaan
kredit pada Hye Mi.
Tidak lama kemudian telepon berdering. Rupanya
ayah Hye Mi yang menelepon.
"Kau dimana, Ayah?" tanya Hye Sung. "Ah, kau
pernah mengatakan agar jangan bertanya ada
dimana kau sekarang. Apa?! Kau akan keluar
negeri? Kemana?"
Hye Mi merebut telepon itu. "Kau tidak bisa lari
terus setiap hari." katanya.
"Aku akan pergi bersama bibimu ke Kanada dan
membantunya." kata Ayah Hye Mi.
"Lalu kemana kami harus pergi? Rumah ini akan
segera dilelang." kata Hye Mi. "Tinggalkan nomor
telepon."
"Tunggulah orang ini satu... Tidak, dua bulan. Ia
akan menjaga kalian." jawab Ayah. "Namanya Kang
Oh Hyuk."
"Kang Oh Hyuk?!" seru Hye Mi, terkejut sekaligus
marah. "Aku tidak akan pergi padanya!"
Hye Mi menutup telepon.
Kang Oh Hyuk adalah salah satu guru di sekolah
Kirin. Karena dianggap tidak memiliki kemampuan,
maka Bum Soo berniat memindahkan dia ke kelas
persiapan perguruan tinggi.
"Aku akan melakukannya setelah mendapat
persetujuan Direktur." ujar Bum Soo.
Hye Mi menemui Oh Hyun dan berbincang di
restoran.
"Kau menggoda ibuku hingga ia bercerai dengan
ayah." kata Hye Mi tajam dan keras.
Seluruh tamu restoran menoleh.
"Ya, aku sangat bersalah pada kalian." bisik Oh
Hyun malu.
"Kau ingin membayar rasa bersalahmu?" tanya Hye
Mi. "Aku dan adikku mungkin akan tinggal di
jalanan. Bisnis ayahku hancur dan ia melarikan diri
ke luar Korea. Jadi kami berpikir bahwa kami akan
tinggal di rumahmu sampai ayah kami kembali."
Setelah selesai makan, Oh Hyun meminta Hye Mi
tinggal.
"Tunggulah disini." katanya pada Hye Mi. "Aku
akan mengambil mobil.
Oh Hyun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan
Hye Mi. Untuk hidup sendiri saja susah, apalagi
harus menanggung Hye Mi dan adiknya. Sebagai
catatan, ibu Hye Mi sudah meninggal.
Sepulang sekolah, Du Shik menjemput Hye Mi di
sekolahnya. Mau tidak mau, Hye Mi terpaksa ikut
dengannya.
Du Shik mengajak Hye Mi berunding.
Hye Mi memiliki banyak bakat dan kemampuan.
Untuk menghasilkan banyak uang, Hye Mi harus
menggunakan bakat dan kemampuannya untuk
bersekolah di Kirin sampai menjadi bintang terkenal
seperti Kim Hyun Joong.
Setelah lulus dari Kirin dengan nilai tertinggi, Hye
Mi harus merelease album dibawah perusahaan Du
Shik.
"Tapi kudengar sangat sulit masuk ke sana." kata
Du Shik.
"Aku tidak takut pada ujian masuk." ujar Hye Mi
angkuh.
Du Shik menyodorkan surat perjanjian.
"Bagaimana jika aku menolak melakukannya?" tanya
Hye Mi.
"Jika rencana A gagal, maka akan dijalankan
rencana B." jawab Du Shik. Rencana B adalah
menggunakan Hye Sung sebagai alat pencari uang.
Hye Mi terpaksa setuju.
Hye Mi duduk sendirian di bangku penonton
dengan sedih. Ia menatap lurus ke arah panggung,
teringat saat-saat ia belajar bernyanyi dan akan
mendampingi gurunya menyanyi di pertunjukan
musik.
Tanpa terasa, air mata Hye Mi menetes.
Hye Mi memberitahukan Baek Hee bahwa ia akan
masuk ke Kirin. Baek Hee terkejut mendengarnya.
Baek Hee meminta Hye Mi bernyanyi bersamanya
saat audisi karena ia juga ingin masuk ke Kirin.
Hye Mi setuju saja.
Sesuai permintaan Ha Myung, audisi Kirin akan
dilakukan secara terbuka. Artinya semua orang bisa
melihat peserta audisi saat melakukan performance.
Saat hari audisi, para peserta terlihat sangat
gugup. Namun Hye Mi terlihat sangat santai.
Bermacam-macam peserta menunjukkan
kebolehannya. Ada yang bagus, unik, jelek dan
aneh.
Sebelum audisi, Hye Mi sempat bertemu dengan Oh
Hyun.
"Apa kau kesini untuk ikut audisi?" tanya Oh
Hyun.
"Untuk apa aku datang ke tempat yang penuh
orang kotor sepertimu?" jawab Hye Mi sinis.
Nama Hye Mi dan Baek Hee dipanggil. Kini saatnya
mereka maju audisi.
Saat Hye Mi dan Baek Hee bernyanyi, In Sung dan
Jin Kuk melihat mereka. Jin Kuk tersenyum.
"Untuk apa dia disini?" tanya In Sung. "Bukankah
ia bilang ini sekolah sampah?"
Saat bernyanyi, Baek Hee sempat bernyanyi jelek,
namun Hye Mi menutupinya.
"Baik." kata Ha Myung. "Tapi hanya salah satu dari
kalian yang akan lolos audisi."
Hye Mi tersenyum percaya diri.
"Kami harus lolos bersama." kata Baek Hee. "Jika
kau tidak ingin meloloskan kami berdua, maka
gagalkan saja kami berdua."
"Bagaimana jika kau yang lolos?" tanya Ha Myung
pada Baek Hee.
"Tidak apa-apa." jawab Baek Hee. "Gagalkan saja
aku. Kami akan selalu bersama..."
"Tidak." potong Hye Mi. "Aku tidak punya niat
untuk gagal dalam audisi ini bersamanya."
"Hye Mi, ada apa?" tanya Baek Hee. "Bukankah
kita berjanji akan selalu bersama apapun yang
terjadi?"
"Kapan aku bilang begitu?" tanya Hye Mi dingin.
"Tapi, kau dan aku..." Baek Hee berkata dengan
mata berkaca-kaca seraya meraih tangan Hye Mi,
tapi Hye Mi menghempaskannya.
Ha Myung melihat hal itu.
"Aku akan tetap disini." ujar Hye Mi.
"Yang lolos bukan kau, Go Hye Mi." kata Ha
Myung. "Tapi Yoon Baek Hee."
Semua juri menoleh kaget pada Ha Myung.
"Apa?!" teriak Hye Mi. "Kau pasti salah! Aku yang
gagal?"
Ha Myung mengangguk tanpa ragu.
"Mungkin kau melihat kertas yang salah. Aku Go
Hye Mi!" seru Hye Mi angkuh.
"Aku sangat yakin bahwa yang gagal adalah
kau."ujar Ha Myung tenang.
"Paman!" bentak Hye Mi. "Apa kau punya
kemampuan untuk menilai kemampuan seseorang?!
Apa kau benar-benar ahli dibidang musik?!"
"Beraninya kau memanggil Direktur dengan sebutan
Paman!" seru salah seorang juri wanita entah siapa
namanya. "Tuan Kang, usir gadis itu keluar!"
Oh Hyun menarik Hye Mi keluar.
"Jangan sentuh aku!: seru Hye Mi, mencoba
melepaskan diri.
"Ini sangat menarik." kata Ha Myung. "Biarkan
dia."
"Aku tidak bisa terima!" ujar Hye Mi bersikeras.
"Apa kau tidak mendengar dia kehabisan napas dan
menghancurkan keseluruhan lagu? Kurasa kau tidak
dengar. Jika kau dengar, kau tidak akan
membiarkan dia lolos. Dia hanyalah orang yang
mengikutiku kemari. Dia bukan siapa-siapa. Aku
selalu jadi nomor satu dan dia nomor tiga."
Baek Hee memandang Hye Mi dengan terkejut dan
sedih sekaligus.
Sebagai jalan tengah, Ha Myung mengusulkan
diadakan tes lain.
Ha Myung memainkan piano dan menyuruh Hye Mi
menebak lagunya.
Hye Mi berpikir. "Ini campuran lagu." katanya.
"Lagu yang satu Gershwin, apa yang satunya lagi?"
"Aku yakin kau sudah tahu bahwa aku mencampur
dua lagu." kata Ha Myung. "Yang satu adalah
Summertime Gershwin, lalu apa lagu yang satunya
lagi?"
"Apakah yang satunya... Saint Saens Aquarium?"
jawab Hye Mi ragu.
Semua orang menarik napas panjang karena kaget.
Masa lagu semudah ini dia tidak tahu?
"Yong Baek Hee, apa kau tahu jawabannya?" tanya
Ha Myung.
"Lagu karangan Shin Soo Bong, I Don't Know
Anything But Love." jawab Baek Hee.
"Benar."
"Bagaimana mungkin dia tidak tahu lagu itu?"
komen In Sung, menonton dari tv.
"Dia bukan tidak tahu, tapi tidak memikirkannya."
ujar Jin Kuk.
"Sekolah ini tidak menerima murid dari golongan
tiga." kata Ha Myung. "Golongan pertama adalah
murid yang memiliki bakat dan berusaha keras.
Golongan dua adalah orang yang tidak memiliki
bakat tapi berusaha keras. Dan golongan tiga..."
"Kau ingin mengatakan bahwa aku tidak memiliki
bakat dan tidak berusaha juga?" tanya Hye Mi.
"Orang golongan tiga adalah... seseorang yang
berprasangka." jawab Ha Myung. "Itulah alasan
kenapa kau gagal."
"Dulu, kau selalu menjadi nomor 1." kata Baek Hee
sinis. "Bagaimana rasanya menjadi orang golongan
3?"
Dan saat itulah tembakan ke bola-bola billiar
dilakukan...
"Permainan baru saja dimulai, jadi jangan takut
dan nikmati saja."
Hye Mi berpaling dan beranjak pergi. Namun
mendadak ia berhenti.
Hye Mi berbalik lagi dan berjalan ke hadapan Ha
Myung. Ia kemudian berlutut dan berkata, "Tolong
selamatkan aku."

Dream HighTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang