— “Now we’re in the other world.”—
Mata biru gadis bernama Georgie Henley itu terbuka sedikit demi sedikit. Ia kemudian mengusap matanya pelan, membiarkan cahaya masuk melalui lensa mata birunya. Kemudian, ia terbelalak saat memandangi pemandangan aneh disekelilingnya.
“Justin, Cody, Shana... wake up! Wake up! Kita ada dimana?” pekik Georgie bingung dan menggoyang-goyangkan tubuh Shana yang tertidur tepat disampingnya. Shana yang memang masih terpejam memberenggut kesal dan menatap Georgie dengan tatapan khas bangun tidur.
“Hoaaam....” Shana bangkit dari tidurnya dan mengucek matanya pelan. “Apa sih? Ini masih pagi, Angie! Kau ini menganggu saja!”
“Ih, aku membangunkanmu bukan tanpa alasan! Lihatlah pemandangan didepan kita!”sahut Georgie mendengus dan menatap kagum ke arah pemandangan dihadapan mereka. Shana berdecak dan terpaksa menuruti perintah Georgie. Sedetik kemudian matanya terbelalak.
“Gosh! Ini dimana?!” pekik Shana kaget sembari memasang wajah melotot tak percaya.
“Aku juga tidak tahu. Maka dari itu aku membangunkanmu!” dengus Georgie dan menatap kearah Shana yang masih tampak kaget. Kemudian mata biru Georgie melirik kearah Justin dan Cody yang masih terlelap. Lantas dia mendengus lagi, “Justin! Cody! Kalian seperti putri tidur!”
“Mungkin maksudmu Putra tidur, eh?” desis Shana yang kini ikut memandang kedua lelaki yang terpejam itu.
“Kau benar, Shan.” Sahut Georgie lagi. Lantas ia mengguncangkan tubuh Cody dengan sangat keras sehingga Cody meringis dan membuka matanya dengan wajah cemberut. “Cepat bangun, bodoh!”
“Ya ampun, kau memang menyebalkan Georgie. Tak bisakah kau membiarkan aku tidur setengah jam lagi mungkin?” dengus Cody dan langsung bangkit dari pembaringannya sembari memandang Georgie kesal.
“Aku akan membiarkanmu tidur setengah jam lagi atau mungkin untuk selamanya kalau saja aku tahu sekarang kita ada dimana!” sahut Georgie. Cody hanya mendelik sebal.
“Memang kita dimana?” terdengar suara Justin menyela. Georgie mengalihkan pandangannya kearah Justin yang masih tampak mengantuk.
“Aku juga tidak tahu!” jawab Georgie asal. Justin hanya diam dan menguap lebar.
“Padang Bluebells,” Shana bergumam ditengah keheningan. Sontak, itu membuat mata Justin membulat.
“Apa maksudmu, Shan?”tanya Justin dan bergerak mendekati tempat dimana Shana duduk.
“Lihatlah!” jawab Shana sambil menunjuk kearah rumput-rumput dan hamparan bunga berwarna keunguan yang berada diantara pohon-pohon rindang. “Itu bunga bluebells, kan?”
“Itu Bluebells.” Ujar Justin pelan dan memandang intens pemandangan yang indah dihadapannya. Kemudian matanya beralih menatap Shana yang tengah terhipnotis oleh pemandangan itu. “Bluebells selalu hadir di pertengahan musim semi sampai pertengahan musim panas. Mereka bermekaran dan terlihat seperti permadani berwarna ungu.”
“Kau benar.” Kali ini Shana menatap Justin. Kedua manik mata mereka bertemu dan membuat senyuman dikedua wajah mereka.
“Apa kau ingat, dulu saat kita masih berumur 7 tahun, kita selalu bermain ditaman Bluebells didekat bukit. Lalu kau memetik bunga itu sampai memenuhi keranjangmu. Tapi kemudian kau menangis saat mendapati bunga-bunga itu layu beberapa jam kemudian.” Kata Justin sambil tertawa kecil dan menatap kearah bunga-bunga ungu yang ada dihadapannya lagi.
