Bab 1

125 4 0
                                    

Tok tok tok...

Sialan! Siapa itu yang berani-beraninya membangunkanku di pagi hari? "Siapa?!" teriak gadis cantik yang masih memeluk guling dan enggan beranjak dari kasur untuk membukakan pintu kamar. "Maaf non mengganggu di pagi hari, tapi tuan Christian memanggil nona, sepertinya beliau akan membicarakan sesuatu yang penting" Arggh! Ada apa lagi sih daddy memanggilku. Aku langsung bergegas turun untuk bertemu dengan daddy. Dan terlihat daddy sudah berpakaian rapi sedang sarapan bersama Aiden, kakak laki-lakiku satu-satunya yang sangat jahil. Jika kami sedang bersama seperti ini, aku sangat merindukan kehadiran mom ku yang sekarang sudah tenang di atas sana.

"Pagi dad, pagi bro!" teriakku lemas sambil mencium dad dan kakakku. Bagaimana tidak lemas? Aku baru tidur 3 jam! Oh ini semua gara-gara Abby Eleanor, sahabatku yang pemaksa itu mengajakku pergi ke club sampai jam 4 pagi. Dan aku yakin, sekarang daddy akan menceramahiku sampai telingaku mengeluarkan busa. "Pulang jam berapa kamu semalam?!" teriak daddy sambil memotong-motong roti di piringnya. Aku yang mau mengambil roti langsung diam seperti es setelah mendengar teriakan daddy. "Umm jam.... empat pagi dad" jawabku sambil senyum menampilkan gigiku yang putih. Aiden langsung menyenggol kakiku dan berbisik "Kenapa kau jujur sekali hmm? Aku yakin setelah ini daddy akan memberikanmu tugas yang sangat berat!" Aku langsung menginjak kaki Aiden dan balas berbisik "Kalau aku berbohong dan pada akhirnya ketauan, mungkin daddy akan langsung mencoret namaku dari daftar keluarga Cadence". Aku melirik daddy sekilas dan terlihat daddy sedang menatapku marah "Sudah puas membicarakan daddy hmm?" aduh mati aku! Aku langsung menendang kaki Aiden "Ah, siapa yang membicarakan daddy, aku hanya memperingatkan Ele, jika dia pulang telat lagi aku akan menendang pantatnya sebanyak 5 kali, iya kan Ele sayang?" Kurang ajar sekali dia! Aku melihat mukanya yang sedang tertawa. Bahagia sekali dia. Aiden melihatku sambil menendang kakiku "Aa..ah iya dad, kak Aiden akan menendang pantatku jika aku pulang telat lagi. Jadi dad tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengulanginya karena aku tidak mau pantatku yang sexy ini ditendang oleh orang gila seperti Aiden" jawabku sambil menunjukkan senyum semanis-manisnya kepada daddy.
"Kamu pikir daddy bakal ngelepas kamu gitu aja?! Daddy akan hukum kamu!" bentak daddy yang langsung membuat wajahku pucat seketika. "Hu..hukuman apa dad?" aku menatap wajah daddy dengan penuh kengerian. Kalau daddy sudah menghukum, pasti sangat kejam. "Kamu harus menyamar jadi pegawai di salah satu hotel milik daddy" jawab daddy dengan santai. "APA!!! No!! Ele ga mau dad" tolakku tanpa pikir panjang. "Kamu mau turutin apa kata daddy atau akan daddy jodohkan dengan Al..." "NO DAD!!" potongku langsung. "Aku lebih baik dikubur hidup-hidup daripada harus menikah dengan Albert GAY ato siapapun itu! NO! Pokonya Ele ga mau"
Daddy tersenyum menang menatapku "Oh, jadi mulai besok akan ada pegawai baru di hotel kita". Apa-apaan? Hei, aku belum menyetujuinya! "Dad ayolah, jangan hukum aku. Atau, tidak masalah kau hukum aku tapi jangan yang berat seperti tadi, Dad" astaga aku hampir menangis frustasi memikirkan keadaanku saat ini. Satu kata, MIRIS. "Ga ada perubahan, menyamar jadi pegawai atau menikah dengan Albert Gray!" bentak daddy membuatku semakin frustasi. "Sepertinya tidak masalah jika kau menikah dengan Albert Gray! Mungkin akan memperbaiki keturunan keluarga Gray hahaha" sialan! Kakakku bukannya membantu malah mengejekiku! Kuinjak saja kakinya secara brutal. "Apa kau bilang? Menikah dengan Albert?! Di dalam mimpimu, bro!" bukannya berhenti, dia malah terus menerus menertawaiku, sialan! "Jadi, keputusanmu apa, Ele?" tanya daddy sambil terus menunjukkan senyum kemenangannya. "Arghh daddy memang kejam! Baiklah aku akan menyamar jadi pegawai di Cadancy's Hotel!" jawabku pasrah. Kulihat kakakku yang menyebalkan itu menertawaiku dengan sangat puas. Sialan kau kak, lihat saja nanti akan kubalas kau!
"Baiklah, berarti mulai besok kau harus bekerja. Dan jangan lupa pikirkan bagaimana kau akan merubah dirimu untuk penyamaran besok!" daddy mengingatkanku sambil menyesap kopinya. "Baiklah, dad dan Aiden akan ke kantor dulu. Jaga kesehatanmu agar besok bisa bekerja" daddy mencium pipiku bergantian dengan Aiden "Bye, my little sist. Bersiap menjadi bawahanku, adikku yang manis" Aiden mengedipkan sebelah matanya, rasanya ingin muntah melihat dia seperti itu. Aku langsung ke kamar dan menelepon sahabatku.

"ABBY!!! Ini semua gara-gara kamu! Aku dihukum lagi sama dad, by"

"Hei le, ini tidak sepenuhnya salahku, siapa suruh kau punya dad seperti dad mu itu. Dia seperti tidak pernah muda saja"

"Kalau aku bisa memilih juga, aku tidak mau punya dad yang tukang menghukum seperti dirinya. Ah astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kabur dari rumah? Menabrakkan diri? Ah aku hampir gila!"

"Memang hukuman macam apa lagi yang diberikan dadmu?"

"Arghh! Dia menyuruhku menyamar jadi pegawai di hotelnya, sungguh gila bukan? Ini sih bukan hukuman, tapi memang niatnya saja untuk menyiksaku"

Terdengar tawaan keras dari telepon ku. "Hei! Aku tidak menyuruhmu menertawaiku, by! Tolong aku, keluarkan aku dari hukuman ini"

"Hei, aku sedang memikirkan jalan keluarnya, le. Dan sepertinya aku sudah mendapatkan jalan keluarnya"

"Apa? Bantu aku by" tanya ku frustasi

"Sepertinya... Kau harus mengikuti apa kata dad, itu jalan keluarnya, le. Aku akan membantu kau untuk merubah penampilanmu agar penyamarannya berhasil"

"DASAR KAU GILA, BY! Aku hampir teriak senang karena kau dapat mengeluarkanku dari hukuman gila ini. Tapi ternyata kau sama GILAnya, by" sengaja kutekankan pada kata gila

"Astaga, le. Apa salahnya mencoba bekerja disana? Daripada kerjaanmu hanya membuang-buang uang daddymu"

"Memangnya kau juga tidak membuang-buang uang daddymu?" dengusku kesal

"Ups sepertinya kau lupa ya, le. Aku punya 2 restaurant yang kubangun dan kuurus sendiri. Sedangkan kau? Kerja pun tidak. Sudah jangan mengeluh lagi, aku akan datang jam 12 untuk merubah penampilanmu besok! Bye, le. Aku sibuk sekarang"

Aku langsung melempar hpku ke ranjang setelah Abby menutup teleponnya. Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka sepertinya sangat senang menyiksaku. Ah, sebaiknya aku tidur lagi sebelum Abby datang.

***

"ELENA CADENCE! KAU PIKIR INI JAM 12 MALAM? JAM SEGINI BELUM BANGUN JUGA?" aku menggeliat mendengar teriakan ajaib dari sahabatku. "Astaga, by! Kau pikir tadi kita pulang jam berapa? Jam 4 pagi astaga! Aku masih perlu tidur, biarkan aku tidur terlebih dahulu." sahutku tanpa membuka mata sedikitpun. "Ayo bangun, ele!" Abby menarik-narik selimutku. "Astaga berisik sekali sih kau ini?" Aku bangun sambil mengerucutkan bibir. "Kau pikir dengan mengerucutkan bibirmu seperti itu kau terlihat cantik hah?" Abby mendengus kesal melihat kelakuan sahabatnya yang sangat kekanak-kanakan. Sebenarnya Abby sangat setuju dengan keputusan daddy Christian untuk memperkerjakan Ele di hotelnya. Ya, supaya Ele lebih mandiri dan tidak egois. Dan satu lagi, supaya Ele dewasa. Diumurnya yang ke 22 ini, dia tidak berlaku seperti umur 22 tahun, tapi berperilaku seperti masih 16 tahun, sungguh kekanak-kanakan. Pantas saja dulu Dominic -mantan Ele- tidak betah dengan sikap kekanak-kanakan Ele. Bagaimana tidak, setiap bertemu selalu saja ribut, entah apa yang diributkan mereka. Tapi disetiap ribut, selalu saja Dominic yang mengalah. Mungkin Dominic sudah lelah dengan sikap kekanak-kanakan Ele.

"ABBY! Kau mau merubah penampilanku tidak?! Kalau tidak mau, aku akan tidur lagi". Abby langsung tersadar dari lamunannya "Kalau sampai kau tidur lagi, aku akan membuang seluruh tas yang ada di kamarmu ini!" ancam Abby dengan senyum kemenangan. "Kau gila? Aku bisa mati jika tas kesayanganku dibuang semua! Cepet rubah penampilanku untuk besok" kataku kesal.
Abby mulai merias wajahku, mengecat rambutku yang sebelumnya pirang menjadi coklat kehitaman, dan mengikatnya. Tidak lupa juga Abby memasangkan kacamata culun di wajahku. Aku beranjak ke meja rias hendak melihat hasil karya Abby.

"Astaga! Ini siapa? Sungguh culun dan jelek sekali" kataku kesal. "Aku tidak mau memakai kacamata ini!" aku melepas kacamata ku dengan kesal. "Kalau kau melepas kacamatamu, semua orang juga akan tau kalau kau itu anak dari tuan Christian, walaupun rambutmu sudah berganti warna. Cepat pakai dan jangan mengeluh!" dengan terpaksa aku memakai kacamata sialan itu lagi. Haruskah aku berdandan seperti ini? Ah membayangkannya saja aku seperti akan pingsan. "Okay, aku akan datang lagi besok sebelum kau berangkat kerja. Good luck, honey! You can do it hahaha" Abby pun keluar kamar sambil menertawaiku. Sialan, lihat saja nanti by!

Hei guys, thanks ya udah mau nyempetin baca cerita saya yang aneh ini. Ga jelas sih ceritanya, tapi saya harap kalian mau baca, vote dan comment cerita ini. Kalau ada yang salah, tolong dikasih tau ya lewat comment, thanks!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 29, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MY DESTINYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang