Chapter I - You and I.

16 1 0
                                    

"Halo Tya?"

"Iya Ren ada apa?"

"Kamu nanti sibuk gak? Temenin aku ketoko buku yuk terus kita dinner bareng"

"Apaan sih kamu, sok sweet banget ngajakin dinner bareng"

"Ih serius, aku lagi pingin dinner nih sama kamu. Kamu pulang kerja jam berapa?"

"Jam 7 Ren"

"Oke, I'll be there at 7 pm"

"Tapi Ren"

Tut...tut...tut. Telepon pun terputus.

"Kenapa sih dia selalu semenyebalkan itu?" gumam Tya dalam hati. Bagi Tya, tak ada manusia yang lebih menyebalkan dari Reno. Sobatnya itu selalu saja membuatnya sebal. Tapi baginya, tak ada pria yang begitu mengertinya seperti Reno. Jam pun berlalu dengan cepat. Sekarang sudah pukul 19.20 dan Reno tak memberinya kabar. Ia berjanji pada dirinya, jika nanti ia bertemu dengan Reno, ia tidak akan berhenti mencubitnya. Tya kembali mengamati jalanan. Tak begitu sunyi pun tak begitu ramai. Baginya, menunggu tidaklah selalu menyebalkan. Tetapi berbeda ketika ia harus menunggu sobatnya yang selalu terlambat itu. Waktu terus berjalan dan ia masih menunggu Reno. Ia sudah berulang kali mencoba menghubungi sobatnya itu, namun tidak ada jawaban. Hingga ia mendengar klakson mobil yang memecah keheningan didalam diri Tya.

"Hai Tya, sorry ya telat. Macet banget nih. Yuk masuk" ucap Reno sembari mempersilahkan Tya masuk ke dalam mobilnya.

"Hape kamu mati Ren?" kata Tya dingin.

"Enggak tuh, kenapa emang?" jawab Reno sembari mencari dimana ia meletakkan handphonenya.

"Sorry sorry, aku gak tau kalau tadi ada misscall dari kamu. Banyak banget lagi. Duh maaf ya, aku tadi fokus nyetir sambil asik dengerin lagu Where are U nya Justin nih" kata Reno panjang lebar.

"Kebiasaan deh kamu itu Ren. Tau gak sih kalau tadi aku itu...."

Belum sempat Tya menyelesaikan perkataannya Reno sudah memotongnya.

"Khawatir kan? Kamu mah kebiasaan selalu ngekhawatirin aku. Hahaha" ejek Reno sambil mulai menggoda Tya agar tak lagi cemberut.

"Udahlah, gak usah ngambek gitu kayak anak kecil yang gak dapet permen haha" Reno kembali mengejek Tya dan Tya masih tak berbicara.

"Tya udah dong ngambeknya" bujuk Reno.

"Habis kamu kebiasaan Ren. Aku sebel aja sama kamu" kata Tya dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari biasanya.

"Iya iya, aku tau aku salah. Maafin dong. Ya ya?" pinta Reno.

"Iya aku maafin kok" kata Tya sambil mencubit Reno.

"Kamu ih kebiasaan sukanya nyubit nyubit" protes Reno sembari menyalakan lagu.

"Biarin" jawab Tya ketus.

"Eh ini kan lagu kesukaan kamu. Nyanyi bareng yuk" ajak Reno.

"You're my bright blue sky. You're the sun in my eyes. Oh baby, you're my life. You're the reason why" - Christina Perri ft Ed Sheeran, Be my forever.

Dan mereka pun mulai bernyanyi sepanjang perjalanan.

"Eh Ren, katanya mau ke toko buku? Kok arahnya beda sih" tanya Tya dengan keheranan.

"Aku bohongin kamu haha lagian aku cuma mau ngajak kamu dinner Tya, habis kalau aku bilang dinner doang kamu mah selalu gak mau" kata Reno sambil tertawa dengan puas karena telah berhasil membuat Tya penasaran.

"Emang kita mau dinner dimana? Tumben sih? Biasanya kita juga makannya di warung pinggiran, sombong banget mau ngajakin dinner" kata Tya sembari mencubit Reno.

"Sakit tau. Di resto yang disaranin mama aku. Udahlah nurut aja" jawab Reno.

"Oke aku diem" kata Tya yang kemudian mengalihkan pandangannya.

"Kita udah sampe nih. Ini namanya Sweet and Blue Resto. Yuk turun" ajak Reno sambil melepas sabuk pengamannya.

Tya pun mengikuti Reno memasuki restoran tersebut. Dengan penuh tanda tanya, ia melangkahkan kakinya ke meja yang sudah dipesan oleh Reno. Khusus untuk mereka berdua. Tya semakin bingung. Ia merasa tak perlu seromantis ini jika hanya makan malam biasa.

"Ren" kata Tya memulai pembicaraan setelah mereka duduk dimeja yang telah dipesan Reno.

"Iya Tya, kenapa?" kata Reno yang sembari tadi tak berhenti menatap wajah Tya.

"Ini agak sedikit berlebihan deh kayaknya. Kamu salah ngajak cewek kayaknya Ren" ucap Tya yang masih merasa bingung dengan semuanya.

"Enggak kok, this is special for you Tya" gombal Reno yang kemudian tertawa.

"Ih apaan sih Ren, sok sweet banget. Oke, ada apa? Kamu pasti mau minta tolong ke aku dan nyogok aku dengan cara kayak gini ya?" selidik Tya sambil mengarahkan garpu ke wajah Reno.

"No. You're wrong. There's something I want you to know about us Tya" kata Reno yang kemudian membuat Tya terdiam.

"About us?" tanya Tya yang semakin bingung.

"Biasa aja mukanya gak usah bingung gitu dong" ejek Reno yang kemudian mencairkan suasana.

"Apasih, about us gimana sih maksudnya? Jangan buat aku bingung dong Ren. Dinner romantis, terus something about us, habis ini apalagi?" gerutu Tya dengan sebalnya.

"Calm down baby girl. Oke aku bakal ngomong tapi janji kamu jangan nyela omonganku ya?" pinta Reno sambil menunjukkan jari kelikingnya kepada Tya.

"I promise Ren" ucap Tya sambil merespon janji jari keliking Reno.

"Jadi, there is something you have to know. Aku sayang sama kamu Tya. Udah lebih dari 4 tahun kita bareng. Dan aku mulai sadar, you're the only one for me. Aku gak pernah bisa deket sama cewek lain selain sama kamu. Aku juga takut kalau aku bakal kehilangan kamu. Aku bener - bener sayang sama kamu Tya. Aku gak mau ada orang lain yang bisa buat kamu bahagia selain aku. Aku tau mungkin ini terkesan lebay buat kamu, but believe me. Di tahun ke 2 kita bareng as a friend. Aku mulai ada rasa sama kamu. Aku pingin terus ada disamping kamu. Pingin lihat kamu ketawa karena aku. Pingin lihat senyum kamu. Pingin ngejagain kamu. Bahkan sampe sekarang tahun ke 5 kita bareng, perasaan yang pada awalnya aku hindari, makin besar Tya. Aku gak bisa menghindar lagi. Dan di tahun ke 5 ini, aku mau kita lebih dari temen Tya. So, Tya Himawan. Would you be mine?" kata Reno sambil menggenggam tangan Tya.

"Ren, are you kidding me?" kata Tya yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sobatnya itu.

"No, this is not joke. Aku serius Tya" ucap Reno yang semakin erat menggenggam tangan Tya.

"Ren," ucap Tya lirih.

"Please, be mine Tya" kata Reno mencoba meyakinkan Tya.

Suasana mulai hening. Tya mulai merasa bingung. Sebenarnya, ia pun merasakan hal yang sama terhadap Reno. Tapi, ia sudah memikirkan semuanya sebelum Reno mengungkapkan perasaannya. Ia takut jika nanti pada akhirnya, keputusan untuk pacaran bukanlah keputusan yang tepat.

"Tya, don't worry. Selama kamu sama aku, semuanya akan baik - baik aja" jelas Reno yang masih menggenggam tangan Tya.

"Ren, tanpa kamu ungkapin perasaan kamu pun, kamu udah menang buat dapetin hatiku. Tapi, aku takut. Kalau nantinya, keputusan yang kita buat itu bakal ngebuat kita menyesal. Aku juga gak mau kehilangan kamu Ren" kata Tya lirih.

"Tya, kamu percaya sama aku. Gak akan ada kata putus diantara kita berdua. Aku bener - bener sayang kamu. So, would you be mine?" tanya Reno kembali dengan wajah penuh pengharapan.

Tya diam. Ia masih merasa bingung keputusan mana yang harus ia ambil. Tapi menurutnya, mencoba pun tidak ada salahnya.

"Ren, you know the answer. Of course, yes" kata Tya yang kemudian disusul senyuman dibibirnya.

"Let me hug you Tya" pinta Reno yang kemudian menghampiri Tya dan memeluknya.

Hangat. Nyaman. Aman. Tya benar - benar merasa begitu nyaman berada dipelukan Reno. Mulai saat ini, ia tak perlu khawatir lagi. Pria yang selama ini ia tunggu sudah menjadi miliknya. Pria yang selama ini begitu mengertinya, kini telah menjadi miliknya. Dan Tya berharap, semua akan berjalan dengan mudah. Tanpa pernah ada kata putus. Seperti apa yang Reno katakan dan seperti apa yang Tya percaya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 03, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Broken PromisesWhere stories live. Discover now