(11)

3.6K 434 20
                                        

Lidia berlari sekuat tenaganya sambil mengenakan ransel di punggungnya. Di belakangnya Joko tertatih membawa ransel Adam dan Lusi serta semua yang bisa ia bawa di tangannya, terutama makanan. Di paling belakang Angga berlari mundur, SS4-nya siaga di tangan. Terlalu banyak obs yang mengejar sehingga ia harus benar-benar memperhitungkan waktu yang tepat untuk melepaskan peluru, mengingat tak punya cadangan peluru sama sekali.

Albert dan Helen keluar ke lobby rumah sakit. Melepaskan tembakannya ke salah satu obs terdekat dari sekian banyak yang berlari ke arah mereka. Hampir sampai ke mobil, Albert menembak sekali lagi, tepat di paha salah satu obs yang mengenakan piyama pasien. Obs itu terjatuh di tanah, membuat obs-obs lain di belakangnya tersandung tubuhnya, kemudian terjatuh dan tersandung oleh obs lain di belakangnya. Terus menerus hingga mereka yang terjatuh saling menggigit satu sama lain.

Helen tidak memperhatikan langkahnya sehingga tersandung ketika menuruni tangga lobby dan jatuh tengkurap. Kacamatanya pecah saat membentur tanah. Ia meraba-raba tanah untuk mengambil kembali gagang kacamatanya, namun Albert buru-buru menarik tangannya dan mengangkat tubuh Helen. "Tidak ada waktu!" ujarnya segera membawa Helen berlari ke arah mobil.

Angga segera masuk ke mobil dan menyalakan mesin, begitupun Lidia yang segera membuka pintu untuk Albert dan Helen. "Cepat!"

Tanpa sadar Albert mendorong Helen masuk ke dalam mobil, dan buru-buru merangsek masuk sambil menutup pintu mobil dengan tangan kirinya. Di kursi paling belakang Joko mengkeret takut, bibirnya pucat pasi.

"Kita harus pergi sekarang!" tegas Angga, panik melihat sekawanan obs yang berlari ke arah mobil mereka.

"Adam dan Lusi?" tanya Albert.

Angga tak ingin mengambil resiko mobil mereka hancur dan tak bisa digunakan lagi jika oleh sekawanan obs yang mendekat itu. Ia tak menjawab pertanyaan Albert dan segera mengendarai mobil, mundur beberapa meter lalu berputar 180derajat ke kiri. Menginjak pedal gas dalam-dalam menjauhi halaman rumah sakit.

Albert tahu yang Angga lakukan adalah menyelamatkan semua yang ada di mobil, daripada menegurnya dan menghabiskan waktu percuma ia memilih untuk menekan tombol di earphone-nya, "Adam. Lusi? Kalian di tempat aman? Apa kalian baik-baik saja?"

Lusi terdiam, memandangi ruangan di sekelilingnya. Di telinganya suara Albert memanggil. Tepat di belakang Lusi, Adam berjalan mundur, pistol terus siaga di tangannya. Kini mereka berada di dalam laboratorium tempat penelitian Oblivio dilakukan. Tempat yang sudah tak jelas bentuknya ini menyisakan darah kering dan pecahan kaca di mana-mana.

Lusi meringis melihat sebuah layar kaca yang ia duga adalah bekas layar monitor, pecah di salah satu bagian dan dari bentuknya jelas adalah bekas gigitan, ditambah darah kering ada di sana.

"Saat ini aman," Walaupun ragu, Adam menjawab panggilan Albert semampunya. "Kami ada di dalam laboratorium yang hancur berantakan."

Albert melirik ke arah Helen yang juga tengah menyimak jawaban Adam. "Dimana laboratorium?"

"Di bawah tanah," jawab Helen, tiba-tiba mengingat sesuatu. "Di pojok kanan laboratorium tak jauh dari rak berkas ada sebuah pintu." Ia menekan tombol earphone-nya sehingga Adam dan Lusi mendengar suaranya. "Itu sebuah toilet, tidak terlalu besar, tapi ku rasa di sana aman." Ia terdiam, mencoba mengingat sesuatu. "Ya benar, saat kejadian aku rasa tak ada yang di dalam toilet," ucapnya yakin. "Jika darurat, bersembunyilah di sana!" tambahnya.

Mungkin Adam mendengar saran Helen sebagai sebuah bantuan, tapi tidak dengan Lusi yang langsung mengerti apa yang sedang terjadi. Ia segera menekan earphone-nya, "Kalian meninggalkan kami?" duganya tepat sasaran.

Angga memberhentikan mobil di depan sebuah gedung bank swasta yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah sakit. Mematikan mesinnya dan menengok ke arah Albert.

[ Sudah Terbit ] JAKARTA'S RUINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang