(12)

2.8K 385 10
                                        

Hujan deras menguyur, langit menghitam karena hujan dan tak ada pencahayaan sementara malam mulai datang. Angga sudah mengisi tanki bensin dengan derigen terakhir yang ada. Mata Albert tertuju pada jendela lantai ke empat dari gedung yang ada di depan mereka.

"Ada apa?" Angga ikut memperhatikan arah yang sama.

"Barusan aku melihat ada seseorang berjalan di sana." Albert menujuk ke satu-satunya jendela yang lampunya menyala.

"Obs?" tanya Helen.

"Sepertinya bukan, aku juga melihatnya." Lidia menimpali.

"Aku tidak lihat," celetuk Joko yang lebih banyak diam karena kakinya mulai mati rasa dan ia tak membiarkan seorang pun tahu yang sedang ia rasakan sejak beberapa waktu lalu.

"Perlu dicek?" Angga melepaskan safety belt-nya.

Albert mengiyakan, "Hati-hati, selamatkan sebanyak-banyaknya orang yang kamu temui. Kalau sesuai jadwal, harusnya besok pagi ada truk yang datang untuk membawa yang orang-orang yang selamat."

Angga mengangguk, "Ada yang mau ikut?"

Joko ingin mengacungkan tangan, tapi kakinya terlalu perih dan tak kuat untuk diajak berlari. Sementara ia harus tetap menyembunyikan keadaan dirinya yang sebenarnya pada anggota tim yang lain karena takut akan diusir dari tim.

"Aku!" Lidia bersiap memakai jaket dan mengambil pistolnya. Lalu mengecek tiga kamera yang ada di tubuhnya dan membuka pintu mobil.

Angga sudah di luar mobil terlebih dulu, berlari menuju lobby di bawah derasnya hujan. Lidia menyusul di belakang, rambut kuncir kudanya kebasahan. Mereka memasuki lobby dan disambut satu obs yang berdiri di samping lift. Obs laki-laki berkaca mata yang berumur sekitar lima puluh tahun itu sepertinya sedang tertidur, ia mengenakan setelan jas bagus yang masih terlihat mahal meskipun sudah compang-camping.

Lidia meringis, melihat kepala sebelah kiri obs itu berlubang cukup besar dan kelihatan jelas otaknya yang berwarna hitam. Mengalir darah yang juga berwarna hitam dari lubang tersebut. Dengan tangan kanannya Lidia menekap mulut, hampir muntah karena mual.

"Perhatikan langkahmu. Jangan sampai jatuh!" tegur Angga dalam bisikan, melihat pijakan Lidia yang sempoyongan tak fokus. Gadis ini bertubuh tinggi namun kelihatan ringkih, belum lagi kulitnya yang terlalu putih sehingga wajahnya terlihat pucat. Di mata Angga seakan Lidia siap pingsan kapan saja, sejujurnya Angga tak senang saat Lidia yang menyahut untuk ikut dengannya memasuki gedung ini, bukannya membantu, lebih besar kemungkinan Lidia memperburuk keadaan dan menambahkan beban kerjanya nanti.

Mereka berjalan melewati obs tersebut dengan hati-hati dan tak membuat suara sedikit pun. Masuk ke dalam tangga darurat karena tak mungkin menggunakan lift yang akan mengeluarkan suara yang memancing kedatangan obs.

Masuk ke dalam pintu tangga darurat, mereka disambut dengan mayat busuk tanpa tangan dan kaki. Angga langsung menarik lengan Lidia agar buru-buru menaiki tangga dan tidak melihat pemandangan itu lama-lama, namun bau yang menyengat dan karena terlanjur melihat, wajah Lidia memerah. Asam lambungnya naik ke tenggorokan dan rahangnya memanas. Di pertengahan anak tangga ia berhenti dan muntah.

Angga membantu memijat leher dan menepuk-nepuk bahunya, nalurinya sebagai laki-laki yang melindungi wanita dating begitu saja meskipun sebenarnya ia enggan memperlakukan Lidia dengan lembut seperti ini. Setelah muntah mata Lidia memerah dan mengeluarkan air. "Sudah, aku tidak apa-apa," katanya dengan suara serak sambil kembali mengangkat tubuhnya berdiri tegak.

"Lebih baik kamu kembali ke mobil," saran Angga, ia melihat ada satu mayat lagi, tepat di anak tangga yang berada satu lantai di atas mereka. Juga bau di ruangan ini benar-benar busuk. Membayangkan ia harus memijat leher Lidia setiap ia muntah membuatnya enggan.

Lidia menolak, "Aku tidak bisa diam saja, kita belum menemukan data apapun untuk dikirim ke kementerian."

Angga membelalak, "Jadi cuma itu yang kamu pikirkan? Nyawa kamu lebih penting dari data-data sialan itu."

"Ch!" cibir Lidia, "Kalau memikirkan nyawa, bukan pekerjaan, kau dan aku, sama-sama tak ada yang masuk ke tim dan datang kesini," pandangnya sinis. "Tidak usah memberiku saran apapun. Lebih baik kerjakan apa yang harus kita kerjakan. Agar semuanya cepat selesai."

Menggeleng heran, Angga merapikan jaket kulitnya yang berwarna cokelat dan menaruh pistolnya di dalam jaket, lalu menarik SS4-nya yang semula menggantung di punggung ke depan dadanya. "Kita lihat seberapa jauh kamu mampu bertahan," tantangnya lalu kembali melangkah menaiki anak tangga. Ia tahu di belakangnya Lidia kembali muntah, namun ia sudah tak mau menggubris.

Angga melihat angka yang ada di dinding ruangan yang ia pijaki, mereka sudah sampai di lantai 4. Lantai ini lah yang tadi dipandangi Albert. Kebetulan sekali pintu daruratnya sudah terbuka, jadi ia tak perlu berusaha membuka pintu tanpa mengeluarkan suara.

Sementara petir di luar semakin kencang, ia bisa mendengar gemuruh langkah obs yang kocar-kacir di lantai atas. Mungkin sekarang mahluk-mahluk itu sedang mengigiti jendela yang bergetar karena petir yang menyambar tanah. Atau mengigiti satu sama lain karena saling bertabrakan. Namun yang jelas di lantai yang ia pijak, dari ambang pintu ia tak melihat ada satupun obs yang berkeliaran. Padahal lantai ini lebih terang dari lantai-lantai sebelumnya.

Semenjak kejadian menggemparkan yang membuat Jakarta menjadi kota mati. Hampir gelap gulita jika malam tiba, namun beberapa gedung dan beberapa rumah juga tempat-tempat lainnya masih ada yang lampunya terus menyala karena menggunakan panel surya sebagai cadangan listriknya. Di depan jendela Angga memandang ke arah Rumah Sakit di seberang yang lebih terang dari gedung-gedung disekitarnya. Meski hujan yang mengguyur cukup lebat, tetap terlihat beberapa obs yang berkeliaran di sana. Terlebih di lantai-lantai yang lampunya menyala.

Suara desisan membangunkan Angga dari lamunannya, ia menengok ke arah Lidia di sampingnya yang tengah memegang sebotol kecil parfum. Dari situ suara desisan tadi berasal, Lidia menyemprotkan cukup banyak parfum ke tubuhnya.

"Kamu sedang apa sih!" protes Angga, menutup hidungnya karena bau parfum Lidia yang sangat menyengat.

"Lebih baik mencium bau ini," ia menyemprotkan parfumnya ke badan Angga yang langsung melangkah menghindar namun terlambat, "daripada menyium bau bangkai," sambungnya tersenyum seakan tak berdosa, setelah membaui Angga dengan parfum wanita dan membuatnya menggerutu kesal.

[ Sudah Terbit ] JAKARTA'S RUINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang