Bagaimana Semua Terjadi

113 22 33
                                    


Ketika aku membuka mata,  terlihat cahaya yang sangat menyilaukan. Bayangan pun mulai terbentuk walau hanya samar-samar. Mataku yang mulanya terasa berat, sedikit demi sedikit mulai terbuka. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu dimana sebenarnya aku berada. Dan anehnya, aku hanya dapat melihat mesin-mesin yang biasanya hanya dapat aku jumpai di rumah sakit.

Saat aku menoleh ke arah pintu ruangan tempatku berada, pintu itu perlahan mulai terbuka. Aku yang terkejut melihatnya hanya dapat memeluk bantal yang semula ada di belakangku. Angin yang berasal dari jendela ruangan itu pun berhembus ke arah wajahku yang mungil nan lesu ini. Tubuhku yang belum terbiasa dengan suasana tempat ini pun hanya bisa terdiam.

Tanpa memerlukan waktu yang lama, pintu ruangan itu mulai terbuka seluruhnya. Terlihat sesosok wanita paruh baya yang dengan wajah pucat lesunya mendekati tempat tidurku. Aku bingung, bagaimana seharusnya ekspresiku? Takut? Atau aku harus tersenyum dan memberanikan diri untuk bertanya kepadanya? Huuh entahlah. Aku tak dapat berpikir lagi untuk saat ini.

Wanita itu terkejut ketika melihatku. Dia kemudian menghampiriku dan menggenggam erat kedua tanganku. Aku hanya dapat duduk terdiam dan menyembunyikan ekspresiku yang sebenarnya. Yang terus terpikirkan olehku dari tadi hanya hal-hal yang membuat kepalaku semakin sakit. Ada apa sebenarnya? Siapa dia? Kenapa dia terkejut seperti itu dan menggenggam tanganku dengan sangat erat? Apa yang sedang terjadi?

Sebelum semua pertanyaanku terjawab, wanita itu mulai meneteskan air matanya. Walau aku tak mengenalinya, aku dapat mengerti kondisinya. Air mana yang berlinang perlahan menuruni pipinya yang terbilang sudah agak keriput itu membuatku ikut merasakan kesedihannya. Aku tak kuasa membendung rasa sedihku setelah melihatnya berlutut sembari mengusap air mata dipipinya. Dia mulai membuka mulutnya dan mulai berkata dengan perlahan.

"Inoeu, kamu sudah sadar nak?" Ucapnya dengan derai air mata yang terus bercucuran.

Aku terkejut dan sedikit memundurkan posisi dudukku. Bagaimana dia bisa mengenalku? Itulah satu-satunya hal yang dapat aku pikirkan saat itu. Akhirnya kukumpulkan keberanianku dan berusaha untuk bertanya kepadanya, bagaimana dia dapat mengenalku.

"Emm maaf tante, bolehkah saya bertanya?" Pintaku dengan suara halusku.

"Tante? Apa maksudmu? Inoeu!! Apa kamu tak mengenaliku?" Saat ini air matanya terus berlinang tanpa henti. Napasnya mulai tak teratur, dia dengan tersendat-sendat ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi, tidak bisa.

"Maafkan perkataanku tante, tapi sungguh, aku tak mengenalimu. Jika tante berkenan untuk menjawab, siapa sebenarnya tante? Dan bagaimana tante mengenalku?" Tanyaku dengan penuh rasa bersalah.

"Kau sungguh tak mengenaliku?Ibu yang mengandungmu! Ibu yang melahirkanmu! Ibu yang merawatmu selama hidupmu! Kau tetap tak mengenaliku?" Jawabnya dengan tersendak-sendak.

Aku sangat terkejut mendengar perkataannya itu. Aku yang awalnya berbaring di tempat tidur itu pun memaksakan untuk berdiri. Belum lama aku berdiri, aku merasa sangat pusing dan lemas. Akhirnya aku terjatuh dan dengan sigap dia menolongku. Wanita yang mengaku sebagai ibuku. Aku dengan ragu-ragu menjawabnya.

"Maaf, tapi ibu saya sudah lama meninggal. Beliau dan ayah saya meninggal karena kecelakaan mobil sekitar satu tahun yang lalu." Jelasku dengan suara terbata-bata.

"Sayangku Inoeu, sepertinya ingatanmu belum sepenuhnya pulih. Maukah kau mendengarkan ceritaku dari awal? Cerita bagaimana semua ini terjadi?" Tanyanya lembut. Kupikir dia mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi sekarang.

"Tentu saja, tolong ceritakan semuanya. Tolonglah." Pintaku dengan semangat. Walau kepalaku masih sedikit pusing.

"Sepertinya kamu mengalami hilang ingatan. Sekitar satu tahun yang lalu memang ada kecelakaan mobil. Di mobil itu, ada ibu, ayah, kamu, dan juga kakak laki-lakimu. Kita sedang menuju ke rumah yang baru ayah beli di puncak. Kita semua sangat senang.  Sebelum menuju ke rumah baru itu, kita pergi ke pantai. Disana kita bermain, dan bersenda gurau. Kita sangatlah bahagia. Kamu terus saja bermain kejar-kejaran dengan kakakmu. Kalian tertawa dengan sangat keras hari itu. Kakakmu sangat menyayangimu Inoeu. Kita adalah keluarga yang sangat bahagia." Jelasnya. Belum sempat meneruskan, ada 2 orang laki-laki datang menuju tempat kami berada.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 30, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Just Make a Better Love StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang