Arinka menatap Kinan yang sangat cantik dalam balutan gaun pengantinnya. Gaun itu berwarna putih gading dengan hiasan berwarna keemasan. Gaunnya besar dan dibagian bawahnya melebar. Tampak Seperti gaun princess Disney. Kinan mematut tubuhnya di depan cermin besar. Matanya tanpak memancarkan aura kebahagiaan. Di belakang Kinan, Satrya berdiri dengan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu hitam di lehernya. Sekilas mereka nampak seperti sepasang pangeran dan putri sungguhan. Arinka sampai ingin menyanyikan lagu A Whole New Word, kalau saja ia tidak melirik Radhi yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"gimana?" tanya Kinan dengan senyuman penuh.
"kamu bahkan lebih cantik dari pada Princess Aurora, sayang." bisik Satrya. Arinka mengangguk setuju. Sedangkan Radhi tiba-tiba berdiri di samping Arinka. Badannya di condongkan ke arah perempuan itu.
"nikahan kita nanti, mau gaun seperti apa?" bisik Radhi.
"gak usah pake gaun, mas." Jawab Arinka ikut berbisik.
"terus, mau pakai apa? Kebaya gitu, ya?" tanya Radhi sambil membayangkan tubuh indah Arinka dalam balutan kebaya.
"ya gak usah, gue kan gak niat nikah sama lo." Jawab Arinka judes, lalu berjalan menjauhi Radhi yang berwajah masam.
"hati-hati, omongan bisa jadi do'a, loh." Sahut Radhi.
Setelah selesai fitting, mereka berencana mau jalan bareng, cari makan. Mereka sepakat memilih makan di sebuah gerai di Mall terdekat. Seperti ketika berangkat tadi, Arinka lagi-lagi ikut mobil Radhian. Namun kali ini, Arinka semakin sibuk dengan layar ponselnya. Wajah gelisahnya kentara sekali. Radhi sesekali melirik Arinka. Hatinya bimbang mau tanya atau tidak, perihal perubahan sikap Arinka. Kalau tanya, Radhi takut langsung di semprot Arinka. Tapi kalau diam, Radhi khawatir.
Jadi sebagai pembuka, Radhi berdehem pelan. Dengan suara teramat pelan dan hati-hati, ia bertanya "lapar, Rinka?"
"enggak." Jawab Arinka.
"terus kenapa mukanya di lipet gitu, cantiknya luntur loh." goda Radhi. Arinka hanya diam. Pikiran Arinka berbelit masalah teror sang mantan. Ia mulai mempertimbangkan berbagi cerita pada Radhi. Apalagi si mantan itu kayaknya sudah tahu tentang Radhi. Buktinya akun LINE palsu itu, kemungkinan itu kerjaan mantannya, kan? Radhian harus tahu tentang teror mantannya supaya laki-laki itu lebih berhati-hati.
"mas," kali ini Arinka yang bicara.
"mmmh?"
"mas pernah gak stalking mantan sampai ke rumah, terus meneror mantan mas buat balikan lagi?"
Radhian sejenak terpekur. Otaknya memproses kalimat Arinka tadi. Pelan-pelan ia dapat menarik benang merah. Semua kegelisahan dan kemuraman Arinka di perjalanan ini, jangan-jangan karena ia di teror mantan kekasihnya? "kamu di teror mantan kamu yang duda itu, Rin?" tembak Radhi langsung. Arinka mengangguk lemah. Ada kelegaan yang di rasakannya sedikit, saat seseorang juga mengetahui masalahnya. Gak di pendam sendirian.
"neror gimana?" tanya Radhi. Ada nada cemas dalam suaranya. "sudah di laporkan ke polisi?"
Arinka menggeleng "dia sering ngirim paket aneh gitu. Boneka barbie dengan gaun pengantin sama surat ajakan menikah. Terus ada nomor telpon gak di kenal berulang kali nelpon, mas. Sudah Di blokir, ada nomor baru lagi. Malam tadi juga, dia berdiri di depan rumah aku tengah malam, mas. Sambil nelpon-nelpon gitu." Cerita Arinka. Wajahnya tampak tertekan dan ada air di sudut matanya yang hampir jatuh. Ia merasa sangat bersukur jalan bersama Radhi hari ini. Setidaknya ada yang jagain Arinka ketika keluar rumah. Arinka bahkan sempat ingin membatalkan rencana mereka kalau jalan Cuma berdua sama Kinan.
Tangan Radhi meraih tangan Arinka dengan lembut. "lo tenang, ya. Habis ini kita cerita ke Kinan dan Satrya, lalu lapor ke polisi?"
"jangan, mas. gue gak mau merusak kebahagiaan Kinan. Lihat sendiri kan mereka lagi mesra-mesranya." Sahut Arinka sambil melotot.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki Pilihan #GiveAwaySKdPL #Radhinka
Short Story"dek, kalau abang... gak lagi sakit gini... boleh gak, gue... merebahkan kepala ... dalam pangkuan lo.. kaya sekarang.?" sahut Radhi sambil tersenyum. Arinka tidak mau menjawab. Kepalanya menggeleng-geleng kuat. Ia merasa jika ia menjawab kalimat Ra...