Chapter 2

378 38 27
                                    

"Sreng sreng sreng," bunyi wajan beradu dengan spatula memecah keheningan pagi di rumah itu.

Tampak dokyeom sedang memasak sarapan sembari sesekali ia bersenandung riang.

"Pagi hoshi hyung," sahut dokyeom cepat saat dilihatnya sosok pria sipit itu keluar dari kamarnya.

"Ah dokyeom-ah kau sudah bangun? Tumben pagi sekali," sahut hoshi menghampiri dokyeom di dapur.

"Kau masak apa? Hmm wangi sekali," tanya hoshi lagi penasaran sambil berjinjit ia julurkan kepalanya berusaha melihat masakan yang dibuat dongsaengnya itu.

"Masak kesukaanmu hyung, nasi goreng dengan telur mata sapi," sahut dokyeom sambil menoleh tersenyum.

"Benarkah? Sudah lama aku tak makan masakanmu chef do," ucap hoshi matanya berbinar-binar ia pun melompat-lompat kecil seperti anak kecil yang baru saja dihadiahi permen.

Dokyeom pun tertawa melihat tingkah hyungnya yang lucu itu.

"Hyung tolong piring," pinta dokyeom.

Dengan cekatan hoshi menyerahkan 2 piring bergambar ayam pada dokyeom.

"Hari ini makan dengan koko-ya? Kau pasti sedang bahagia hyung," ucap dokyeom sembari tertawa.

Hoshi mengangguk mantap sembari tersenyum lebar.

"Tentu saja aku kan sedang bahagia, dongsaenku tersayang memasakkan nasi goreng kesukaanku, dan aku harus berbagi kebahagian dengan ayamku ini," sahutnya lagi.

Koko-ya adalah nama ayam kesayangan hoshi yang ia pelihara dulu. Banyak sekali perabot berbentuk dan bergambar ayam di rumah itu yang biasanya hanya dirinya gunakan jika ia sedang bahagia.

"Ini buat hoshi hyung dan ini untukku," ucap dokyeom sembari meletakkan 2 piring penuh makanan di meja makan.

"Kau mau susu atau jus dokyeom-ah?" Tanya hoshi dari balik kulkas.

"Susu saja hyung, sama sepertimu," sahut dokyeom cepat, ia hafal betul tiap pagi hyungnya itu pasti meminum susu.

"Ah baiklah," jawab hoshi, ia tuangkan susu segelas lagi untuk dokyeom.

Kemudian ia letakkan 2 cangkir yang tentunya berbentuk ayam juga.

Dokyeom hanya tertawa saat dilihatnya seperangkat alat makan berbentuk ayam itu. Memang ini bukan kali pertama ia melihat hal itu, tapi tetap saja rasanya lucu melihat seorang pria dewasa yang tampan dan berwibawa menggunakan seperangkat alat makan berbentuk unik seperti itu.

"Yak kau masih saja menertawakan kegilaanku pada koko-ya dan ayam-ayam ini," ucap hoshi berpura-pura kesal digelitiknya pinggang dokyeom yang duduk disebelahnya.

"Hahaha tidak hyung bukan begitu maksudku, ampun ampun," teriak dokyeom sembari tertawa, tentu saja ini membuat hoshi semakin gencar menggelitiknya.

"Sudah hyung sudah," ucap dokyeom tersengal setelah ia berhasil melepaskan diri dari gelitikan hoshi.

"Lebih baik kita makan sekarang sebelum makanannya dingin," tambahnya lagi.

Mereka berdua pun makan sambil masih asik berbincang-bincang. Tidak terasa sejam telah berlalu dan mereka pun harus bergegas menuju galeri untuk perjalanan retreat mereka ke pulau jeju.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setibanya di sebuah villa besar bergaya kuno di pulau jeju, rombongan galeri yang berjumlah 13 orang ini segera menentukan pembagian kamar yang dilakukan dengan undian kertas. Masing-masing orang harus mengambil satu kertas yang sudah dinomori, dan bagi yang mendapatkan nomor yang sama maka mereka akan menempati kamar yang sama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 20, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Please Don't Let Me GoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang