P2

10 0 0
                                    

Mobil Alphard hitam melaju ke arah parkiran tempat para pendaki gunung berkumpul. Terlihat beberapa perempuan dari mereka terdecak kagum. Bukan karena mobil tersebut, tetapi pandangan para perempuan tersebut jatuh ke sosok lelaki berambut coklat gelap yang turun dari mobil tersebut.

Sosok laki-laki tersebut berjalan ke arah mereka dan tersenyum kecut.

Anggun dan Nirina yang sedari tadi mengobrol, melirik ke arah laki-laki tersebut. Anggun pun beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi ke arah lelaki tersebut dan meninggalkan temannya yang sedang melongo.

"Hai!, jadi ternyata kau ya anak barunya? kau juga yang buat orang-orang disini heboh. Siapa nama kau?" tanya Anggun ramah seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat.

Laki-laki itu dengan angkuhnya tidak menjawab uluran tangan Anggun. Anggun dengan cepat menarik uluran tangannya kembali.

"Nama gua Alexis Andreas Amoka, panggil aja Alex."

"Ahhh lebih enak jika di panggil Eas hehehehe, Alex terlalu mainstream. Oh ya, nama gua Anggun Pramesti Winata, panggil gua Anggun."

"Eas, apa lu udah pernah naik gunung sebelumnya?"

Alex tersenyum kecut, karena di tanya hal seperti itu, "Ahh belum tuh, ini pertama kali, kenapa?"

"Ahh, nggak apa-apa. Kalau ada yang mau ditanyain atau lu cari bantuan, panggil gua aja yaa." Alex terdiam dan berpikir sejenak.

Ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Anggun yang sedari tadi tersenyum kepadanya.

"Kalo gitu, bantu gua keluar dari sini," Anggun pun tersentak karena jarak Alex dan dia sangat dekat, Ia pun segera menjauhkan diri dan memalingkan mukanya karena ia tahu pasti pipinya akan berubah kemerahan.

"Heh, lu denger gua kan? gua gamau ngulang kalau lu tadi ga denger"

"Ya. gua denger kok, tapi gimana bisa gua bawa lu pergi dari sini? gua aja nggak bawa mobil atau motor, dan satu lagi gua nggak akan mau bantu lu pergi. Gua disini tuh buat mendaki gunung. MENDAKI GUNUNG!"

"Cih, terserah, gua gamau tau gimana caranya. Jadi mau bantu atau Nggak?"

"Nggak, tapi gua berjanji lu akan sangat senang dan gua berjanji bakalan nolong lu, kalo lu kesusahan."

"Yaudah, bawain ransel gua dong," pintanya sambil tersenyum kecut.

"Nggak mau, bawa aja sendiri kenapa sih? dasar lemah!"

"Kan katanya lu bakalan nolong gua kalau gua kesusahan? ini gua lagi kesusahan lho. Gimana sih? mana janjinya? baru juga janji udah bisa ngingkar."

"Y.. yaa.. yaa, nggak gini juga lah, masa gua disuruh bawa ransel lu. Gua kan juga bawa ransel sendiri."

"Pleaseeeee" pintanya dengan wajah Puppy face.

"Nggak! udah ah gua ke temen gua dulu yaa!" Anggun segera melangkah pergi meninggalkan Alex di tempatnya.

"Heh, tunggu'" Anggun berhenti melihat wajah Alex yang kebingungan.

"Apa lagi?!"

"Lu nanti ga boleh jauh-jauh dari gua, ok?"

"Lu kan bisa cari temen lain, dan siapa lu siapa gua?"

Alex pun mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Anggun, "Hmmm, Lu yakin?"

Jarak mereka yang sangat berdekatan, membuat Anggun dapat merasakkan deru nafas Alex di tengkuknya.

"Um.. Umm.. Iya ntar gua ga akan jauh-jauh dari lu. Bye!"

Anggun pun berlari meninggalkan Alex yang sedang tertawa geli melihat Anggun.

"Hei cewek! seharusnya lu liat wajah lu sekarang, merah seperti Tomat Hahahahaha," teriak Alex.

Anggun yang mendengar teriakkan dari Alex pun segera mempercepat langkahnya.

"Anggun oi!"

"Apa sih Nirina?" tanya Anggun, sambil tersengal-sengal.

"Lu gapapa kan?"

"Hah iya gua gapapa" Nirina tau pasti telah terjadi sesuatu dengan temannya.

Walaupun mereka hanya sering bertemu saat liburan seperti ini, karena tempat tinggal Nirina yang cukup jauh dari tempat tinggal Anggun, tapi Nirina cukup mengenal Anggun dengan baik, begitu pula sebaliknya. Anggun dan Nirina saling terbuka satu sama lain, tidak ada yang ditutup tutupi. Bahkan Anggun dan Nirina tidak segan untuk menceritakkan masalah pribadinya. Walau terkadang terjadi kesalah pahaman antara mereka. Nirina yang berumur 21 tahun dan notabennya lebih tua 4 tahun dari Anggun pun lah yang sering memberi nasehat dan tentunya mengalah. Karena nasehat-nasehat yang sering diberikan oleh Nirina, Anggun merasakkan kasih sayang seorang kakak.

"Nih, minum dulu" Nirina menyodorkan botol air minumnya kepada Anggun dan dibalas uluran tangan Anggun.

"Jadi Nggun? Apa lu udah mau cerita?"

"Oke gua bakal cerita. Gini tadi gua kan abis kenalan plus ngobrol sama anak baru yang diliatin sama lu tadi."

"Hah?! Lu yang ajak ngobrol atau dia?!" Potong Nirina.

"Heh jangan di potong dulu dong. Nama dia Alexis blablabla Amoka. Pas kita udah selesai ngenalin nama kita masing-masing, kita sempet ngobrol sedikit tuh, sebenernya sih gua yang mulai. Gua tanya dia apa dia udah pernah daki gunung sebelumnya, terus kata dia belum. Karena gua disini udah tergolong profesional jadi gua nawarin dia bantuan. Awalnya dia minta gua buat bawa pergi dia dari sini, terus gua tolak keras dia lah. Buat apa gua kesini terus ujung-ujungnya gua ga daki gunung? Eh, terus ya masa dia minta gua buat bawain tasnya dia. Ah gila kali ya dia. Masa gua cewek Anggun sekaligus cantik seperti ini disuruh bawain tasnya dia. Seharusnya dia lah yang bawain tas gua. Dasar cowok manja." Nirina pun melongo karena penjelasan Anggun yang sangat panjang.

"Bentar, bentar, tadi dia minta lu buat bawa dia pergi dari sini? Hah ngapain? Kok aneh? Kan dia yang dateng kesini tadi, kenapa sekarang dia pingin pulang?" tanya Nirina.

"Lu inget kan Ferdinand?" Nirina mengangguk tanda meng'iya'-kan.

"Dulu Ferdinand kan kayak nggak suka banget sama kita, terus awalnya dia minta Rafi buat nganterin dia pulang. Pas kita-kita tanya alesannya kenapa, dia bilang katanya disuruh orang tuanya, nah mungkin aja cowo manja itu juga disuruh orang tuanya."

"Ah jadi kangen Ferdinand nih!"

"Dia bakal dateng kok!"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 20, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Perfect HikersWhere stories live. Discover now