Prasangka

19 1 1
                                        

Tangan Tim menggerapai ke depan, mencoba mencengkeram tangan pria itu. Tiba-tiba, waktu di sekitarnya seakan berhenti begitu saja, ketika tangan pucatnya yang terulur bahkan tidak berhasil menyentuh tangan berotot itu, namun justru menembusnya, seperti hantu yang menembus pintu. Tim menutup mata untuk merasakan kehadiran jiwa di sana, namun yang tidak ada yang dirasakannya selain kehampaan. Dan dirasakannya tubuh ringkihnya terlempar ke belakang dengan sengat keras, sehingga rasanya semua tulangnya telah patah.

Ketika membuka mata, Tim telah berada di kamarnya, terang benderang akibat sinar matahari yang masuk melalui jendela yang dibuka lebar-lebar. Ia mengernyit, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Yang ia ingat hanyalah ibunya pulang membawa seorang pria, namun sepertinya ia bukanlah seorang pria...

Brak!

Pintu kamarnya dibuka secara paksa. Di ambang pintu, ibunya berdiri dengan muka yang memerah karena marah.

"Apa yang selalu kubilang tentang sopan santun!? Yang kaulakukan semalam, dan malam-malam sebelumnya, benar-benar tidak etis!"

"A..a..apa.. memangnya apa yang aku lakukan?"

"Kau tidak ingat? Kau memukul pria itu dengan sangat keras dan kau tidak ingat?? Kau membuatnya marah dan menampar ibu, dan kemudian pergi begitu saja sambil mengumpat," ibunya tampak sangat kesal. Tentu saja, ini adalah pacarnya yang kesekian kalinya yang pergi karena kelakuan kekanak-kanakan Tim.

"Tapi Ma, pacar Mama itu bukan manusia, dia itu hantu! Tanganku menembus badannya saat aku memukul dia!"

Ibunya terlihat seperti orang depresi, "kau memang masih kecil dan tak ahu apa-apa! Lebih baik jangan ikut campur urusan orang dewasa!"

Tim mendecih pelan. Mau berapa kali lagi ia dikatai anak kecil? Padahal ia kan sudah besar!

Mendadak Tim merasa lehernya sakit dan perih, dan napasnya jadi sedikit sesak. Itu sudah sering terjadi, terutama pada pagi hari setelah bangun tidur. Namun saat Tim memberitahu ibunya tentang hal itu, ibunya hanya diam dan enggan berkomentar, dan hanya bergumam, "maafkan Mama. Mama tidak sengaja."

Huh, Mama memang menyebalkan!


You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 01, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

I'm not a Children AnymoreStories to obsess over. Discover now