#1

25 1 0
                                    

Bulan sudah berada di puncaknya, dan Malam sudah sangat larut. Semua orang sudah tertidur pulas, namun terdengar suara langkah kaki dari luar. Suara itu berasal dari langkah kaki Eun seul yang baru saja pulang dari kerja paruh waktunya.

Dengan sangat hati hati dia membuka pintu agar tidak membangunkan ibunya. Ketika ia masuk ke dalam rumah, terlihat seorang wanita paruh baya sedang merajut sesuatu di depan pintu kamar.

“ Eomma (Ibu) !” Sahutnya memanggil ibunya yang sibuk merajut.

“ Eomma, kenapa kau belum tidur ?, inikan sudah tengah malam !” ucapnya pada ibunya dan duduk disamping ibunya.

“ Ibu belum mengantuk, ibu juga ingin melanjutkan rajutan yang belum selesai ini. “ jawabnya dengan suara rendah diiringi batuk kecilnya.

“ Ibu ! ibu jangan sampai kelelahan, ibukan lagi sakit. Sini ibu biar aku saja yang melanjutkan rajutan ini. Sebaiknya ibu sekarang pergi tidur yah .”

Ucap Eun seul yang kemudian mengambil rajutan yang dipegang oleh ibunya, namun ibunya tetap kokoh pada keinginannya dan tak membiarkan Eun seul mengambil rajutan yang ada di genggamannya.

“ Tidak usah, ibu masih bisa, lagi pula ibukan membuat rajutan syal ini untukmu karena sebentar lagi musim dingin, ibu tak ingin kau kedinginan saat ke sekolah dan saat bekerja.

“ Baiklah jika itu keinginan ibu. Tapi ibu masih bisa merajutnya besok kan ? . ini sudah sangat larut bu. Ibu tidur saja dulu dan besok dilanjutkan lagi.”

Eun seul mencoba kembali dan berhasil mengambil rajutan itu dari genggaman ibunya. Dan Eun seul mencoba membantu ibunya untuk segera tidur.

Setelah Eun Seul membuka tas dan jaketnya, dia juga beranjak tidur disamping ibunya dan menarik selimut yang berada di bawah kakinya. Sementara eun seul masih memperbaiki posisi selimut itu, ibunya berkata

“ Tapi Eun Seul-ra, bagaimana jika umur ibu tak lama lagi? Ibu juga sudah sakit sakitan, bagaimana jika syal itu belum jadi tapi ibu sudah pergi?. Jadi ibu ingin menyelesaikannya secepat mungkin sebelum ibu pergi jauh .” Mendengar kata kata ibunya itu, eun seul berusaha menyangkal perkataan ibunya.

“ Apa yang ibu katakan?. Ibu.... ibu tidak akan pernah pergi jauh dari eun seul. Tentang penyakit ibu, aku yakin ibu pasti bisa sembuh. Jadi bu berhentilah berpikiran seperti itu.jika aku mendengar ibu berkata seperti itu lagi, aku tidak akan ingin berbicara dengan ibu. “

“ Baiklah – baiklah. Ibu tidak akan mengatakan hal itu lagi.”

“ Sudah sudah sudah. Ibu, sekarang tutup matamu dan tidurlah . aku juga sudah mengantuk, besok harus bangun pagi pagi untuk berangkat ke sekolah.” Ucapnya mengakhiri obrolan mereka.

***

“ Ya..ya.(Hey..hey).. Lihatlah patung berjalan sedang lewat”

“ hahahaha.... benar benar terlihat seperti patung yang  berjalan” Ucap kedua wanita yang sedang berdiri di koridor sembari melihat Eun seul. Eun seul memang selalu dipanggil patung berjalan oleh semua orang di kelasnya.

Orang orang memanggilnya seperti itu karena sikapnya memang bagaikan patung. Eun seul selalu memasang wajah datar, tak pernah menghiraukan orang orang disekitarnya.jika seseorang memanggilnya ataupun mengatakan sesuatu padanya ekspresinya tidak berubah dan tidak ada tanggapan balik darinya.

Eun seul hanya mengeluarkan suara bila kelas berlangsung, karena kadang dia harus menjawab pertanyaan dari guru yang diberikan untuknya.

Mendengar perkataan orang orang disekitarnya ketika berjalan di koridor menuju ruang musik, Eun seul lekas memasang headset pada dua telinganya dan mendengarkan musik tanpa menghiraukan orang orang disekitarnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 02, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cha Eun Seul ( On Going ) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang