Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Dhimas

23 2 0
                                        

Aku ingat ketika pertama kali aku mengangumi kehadiranmu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku ingat ketika pertama kali aku mengangumi kehadiranmu. Itu sudah sangatlah lama. Mengingat kau sudah jauh disana. Tempat dimana tak aku maupun temanku ketahui. Namun kau masih sama seperti dulu. Abu-abu. Misterius.

Dulu aku baru masuk ke sekolah kita. Tempat dimana kau juga bersekolah. Aku kelas sepuluh dan kau kelas dua belas. Yang kutahu, kau serupa dengan temanku yang juga punya paras sedap dipandang. Aku bahkan mengira kalian bersaudara.
Ketika itu, kelasku yang bersebelahan dengan masjid, sedang kosong. Tentu saja teman-teman sekelas dan termasuk aku didalamnya memanfaatkannya dengan bertukar cerita apapun. Pada mulanya cerita-cerita temanku sungguh menarik. Namun, selang beberapa saat terasa sangat membosankan.

Aku yang kala itu berdiri di depan meja temanku mengalihkan pandangan ke arah jendela. Dan sejak itu, aku tak bisa mengalihkan pandanganku. Aku terhipnotis, terpaku. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan yang sangat mempesona itu.

Kau yang kulihat sedang berbenah selesai mengenakan seragam osis setelah menganti seragam olahraga yang kutahu sedang kau tenteng di tanganmu. Yang paling mencolok adalah tubuh jangkungmu yang terlihat menjulang dengan tulang yang dibalut kulit putih bersih yang terlihat sangat touchable.

Rambut lurusmu yang kau gaya spike terlihat sangat kokoh. Tak goyah diterjang angin yang berhembus kuat sekalipun. Dibalik jendela, aku ternganga menatap punggungmu yang menjauh dan ketika sosokmu telah hilang dimakan tikungan, aku tersadar dan segera menyenggol temanku.

“kamu tahu kakak kelas tadi tidak?” aku bertanya seraya menunjuk jejakmu di bumi menggunakan dagu. Temanku mengikuti arah pandanganku, namun ia tak menemukanmu. Ia mengerutkan keningnya.

“sekarang dia sudah pergi. Kau tahu dia tampan. Aku belum pernah melihatnya, omong-omong.” Aku segera berjalan ketempat duduk ketika bel pergantian jam telah berbunyi dan diikuti oleh Naya teman sebangkuku yang kusenggol.

“entahlah. Kau pikir dia kelas berapa? Jika anggapanmu kelas XII kemungkinan dia orang yang sama yang juga membuatku penasaran.” Aku mengangguk mendengar jawabannya.

“kalau begitu, nanti sehabis sholat dzuhur kita cek.” Putusku bulat dan dihadiahi anggukan semangat oleh Naya. Aku segera memfokuskan diriku ke depan dimana guru yang akan mengajar telah hadir.

Dulu aku begitu bodoh. Kenapa tidak. Bukannya menyimpan sebuah harta yang berharga sendiri, aku justru membeberkannya kepada teman-temanku yang lain. Yang lebih wah dalam segala hal daripada aku. Aku merutuki kebodohanku dan ikut senang ketika mereka--dan aku tentu saja--histeris ketika kau lewat atau hanya duduk di pelataran masjid.

Terkuaklah identitasmu. Kau sangat misterius dan terkesan tertutup. Aku sampai kerepotan mencari informasi tentangmu. Hanya sekilas yang kutahu tentangmu. Nama lengkapmu : Dhimas Aditya Dharma Putra. Kau jurusan IPS. Tepatnya dua belas IPS 2. Kau punya adik yang ternyata kakak kelasku atau kelas sebelas yang justru berada dijurusan IPA.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 23, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Imajinations Are Dream Of MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang