PTN (1)

15 0 0
                                        

"Kalian bisa saling mengenal dulu." ucap kak Leon-kakak pendamping MPMB- kepada kami. Aku, Ahsana, Rinditta, dan Angus saling bersitatap ketika kak Leon pergi keluar dari ruangan. Suasananya menjadi sangat canggung dan terasa tak bersahabat.

Setelah pemungutan suara yang membuatku malu itu dilakukan, kami semua dibubarkan untuk beristirahat selama 30 menit setelah upacara pembukaan. Tapi bagi pasangan yang terpilih tadi diharuskan untuk saling mengenal agar bisa menjadi contoh.

Aish, benar-benar. Tidak bisakah bertambah buruk nasibku ini?

"Emm.. Gue mau ke kamar mandi dulu." pamitku entah kepada siapa. Dengan canggung aku berdiri dari kursi dan keluar dari ruangan yang sebenarnya adalah basecamp untuk salah satu organisasi kampus entah apa itu.

Ketika di kamar mandi secara tidak sengaja aku bertemu dengan kak Tera. Wakil pembimbing MPMB atau bisa dikatakan dia adalah wakil kak Hangga ganteng. Hihihi.

"Kak.." aku menyapanya dengan mengangguk kecil ketika kami sedang berada di depan wastafel.

"Oh, iya." kak Tera tersenyum manis dan melanjutkan kegiatannya yang ku intrupsi. Sedangkan aku membuka keran air di wastafel untuk mencuci tanganku.

"Lo yang jadi pacarnya Ahsana itu ya?" tiba-tiba kak Tera bersuara dan membuatku bingung akan menjawab apa. Jika aku menjawab iya, aku dikira sangat memimpikannya. Kalo aku jawab tidak tapi itu terjadi di depan semua MABA dan kakak-kakak pembimbing MPMB. Jadi, aku hanya tersenyum dan mengangguk ketika ia menatapku untuk mencari jawaban.

"Wah, lo beruntung." lanjut kak Tera lagi. Entah mengapa aku merasa sangat sial dan menyedihkan sebelum bertemu dengan Ahsana. Huh. Kenal saja tidak.

"Eh, kak sebentar." aku menghentikan gerakan kak Tera yang akan beranjak dari kamar mandi ini. "Seandainya nih kak, ada pasangan yang ribut dan gak akur, apakah ada konsekuensi tertentu?"  aku bertanya ragu. Tidak siap dengan jawaban yang akan dilontarkan kak Tera. Kulihat ia tersenyum.

"Tentu aja. Bagi yang punya beasiswa, beasiswanya bakalan dicabut, sedangkan yang tidak, kakak-kakak pembimbing yang akan mengurusnya. Memang terlihat kejam, tapi yah, gimana lagi? Rektor kampus ini juga udah setuju dengan program ini." jawaban kak Tera benar-benar membuatku pusing bukan kepalang. Pencabutan beasiswa? Bencana dan akhir duniaku.

"Oh, begitu ya kak. Terimakasih maaf jadi nyita waktu luang kakak." aku mengangguk sekali lagi dengan sedikit canggung. Ah, benar-benar aku tak bisa mempercayainya.

"Lo mesti buru-buru bentuk chemistry sama pasangan lo dek, karena setelah ini bakalan ada permainan yang nguji kekompakan kalian sebagai pasangan. Berhubung udah berjalan 15 menit, waktu lo buat deket dan membangun itu cuman 15 menit. Mending lo kembali deh sekarang dan mulai kenalan. Gue yakin lo belum kenalan kan sama Ahsana secara langsung?" kalimat kak Tera yang sangat panjang membuatku tertohok. 15 menit untuk membangun chemistry? Apa-apan ini? Yang berpuluh-puluh tahun bersama saja belum tentu bisa menciptakannya, lah ini, 15 menit? Cabut aja nyawaku jangan beasiswaku. Tapi jangan deh, kaya siap aja akunya.

Tanpa menjawab apapun aku mengangguk dan pamit keluar dari kamar mandi dan berjalan tergesa ke ruangan dimana kami dikumpulkan. Namun setibanya di sana, hanya ada Angus yang sedang membaca buku. Ku dekati Angus untuk mencari tahu kemana perginya Ahsana dan Rinditta.

"Ang.. Eh, Ngus.. Eh, Gus.. Eh, ah bodo. Angus.." aku kebingungan bagaimana memanggil namanya. Angus terlalu panjang untuk nama panggilan. Namun syukurlah dia mau memalingkan pandangannya dan menatapku dengan sebelah alis terangkat.

"Panggil aja Jake." jawabnya singkat dan kembali menatap kembali bukunya. Aku menyentuh telingaku memastikannya masih berlubang dan sehat. Jake? Apakah ada unsur kata itu dalam nama Angus? Entahlah, aku bisa bertanya itu nanti. Beasiswaku dipertaruhkan disini.

Imajinations Are Dream Of MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang