"Selamat ulang tahun, Gilang!"
Sambil menyipratkan butiran air dari dalam gelas ke wajah Gilang, Rafi berteriak. Lampu kamar Gilang tidak dimatikan, kemeja yang laki-laki itu pakai untuk kuliah tadi siang juga masih ada di atas kasurnya. Dan karena itu, Rafi berasumsi bahwa Gilang tidur lebih awal dan belum mandi.
Tubuh Gilang reflek bergerak karena terkejut. Ia sedikit mengerang dan mulai mengerjapkan mata.
"HBD, Gilang!" Kata Rafi lagi.
Setelah membuka matanya, Gilang langsung mengangkat tubuhnya, lalu bersandar di kepala ranjang. "Lo ngapain, bego?" Ucapnya setengah lirih, masih dibawah pengaruh setengah sadar.
"Kamu ulang tahun, sayang" ulang Rafi untuk yang kesekian kalinya.
Gilang terkekeh singkat sambil mengusap matanya. Laki-laki berkaos putih itu masih duduk di kasurnya, matanya masih terlihat kecil dan rambutnya sedikit berantakan karena pengaruh tidurnya.
"Bangun woy!" Kata Rafi lagi sembari menarik selimut Gilang, dan meletakkan gelas yang sedari tadi dibawanya di meja nakas sebelah tempat tidur.
"Gue udah bangun, bego"
"Itu lo masih duduk, anjing"
Gilang melirik Rafi sinis. "Bangun apa?"
"Bangun tol," Rafi sontak tertawa ringan menanggapi lawakannya yang sama sekali tidak lucu itu. "Udah ah, gak baik malem-malem ketawa. Cepet bangun, anjing!"
"Gila ya?"
"Lo ribet banget kayaknya dah, tinggal berdiri aja" Rafi mulai tak sabar.
"Pala gue–"
"Ah, lama lo berdua!" Suara yang terdengar dari balik pintu kamar Gilang, sontak membuat dua orang yang ada di dalamnya menoleh ke sumber suara.
"Ini apaan sih, anjing?" Seketika Gilang mengerutkan dahinya, lalu tertawa sejenak. "Lo pada nggak bisa banget ya bikin surprise? Miris gue"
Eki dan Evan lalu masuk menghampiri kedua teman lainnya, dan berdiri bersebelahan dengan Rafi.
"Lo lebay banget sih, njing?!" Sewot Eki tiba-tiba.
"Apaan, anjing?" Jawab Gilang kebingungan.
"Berisik" sahut Evan sembari menoyor bagian belakang kepala Eki.
"Aduh."
"Lo berdua ngapain?" Tanya Gilang lagi, sekadar basa-basi.
Eki dan Evan pun langsung bersitatap, mendengar perkataan Gilang barusan. "Tiket kapal masih ada gak jam segini?" Ujar Eki kemudian.
"Ya kali Jakarta-Jogja naik kapal" sahut Evan.
"Emang gue mau ke Jakarta? Gue mau ke Kalimantan, transmigrasi dari kalian semua" jawab Eki se-drama mungkin.
"Apaan dah?" Rafi akhirnya melerai, sebelum topik pembicaraan melebar ke arah yang semakin tidak-tidak. "Keluar dah, ayo" katanya lagi, sembari berjalan meninggalkan kamar Gilang, diikuti Evan dan Eki di belakangnya.
Gilang mengusap matanya lagi. Laki-laki itu akhirnya beranjak dari tempat tidurnya, mengikuti ketiga sahabatnya yang sudah terlebih dahulu keluar kamarnya.
Setibanya di sofa ruang tengah, Gilang kembali dikejutkan dengan keadaan apartment-nya yang sangat berantakan.
"Eh, si anjing, lo apain ini?" Gilang berhenti melangkah. Tatapannya lurus ke arah meja sofa yang penuh dengan dua buah loyang pizza, satu kotak donat yang isinya tinggal setengah, dan lima buah kaleng susu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Feel Real
Short StoryTime is the wisest because it discovers everything -Thales-