The Lucky Sickness (2)

851 55 19
                                    

Disclaimer : Boboiboy milik
Animonsta

Rate : T

Pairing : HalifemTau

Genre : Romance, humor, fluffy (garing krenyes-krenyes)

Warning : OOC, genderbender, typo, no yaoi, no alien, no robot.
.
.
.
The Lucky Sickness
.
.
.
Happy Reading~
.
.
.
"Maaf menunggu lama, nak Hali. Taufan sedang mencoba membujuk kakaknya," ucap Mama Taufan sambil meminta maaf.

"Tidak apa-apa, Tante. Lagipula, saya juga butuh restu dari kakak Taufan untuk membawanya pergi," ujar Halilintar mencoba menarik hati sang ibu 'camer'. Dan lihat, nyokap nya Taufan ngerasa makin cocok sama Hali.

TAP

TAP

TAP

"Ayolah, Kak Ice. Biarkan aku pergi, lumayan kan bisa makan gratis" ujar Taufan sambil merengek pada pria di sampingnya.

"No no no, sekali kakak bilang tidak boleh, berarti tidak boleh" kukuh Ice. Taufan menghela nafas.

"Jadi, kamu yang akan menculik adikku?" sarkas Ice pada pemuda yang sepertinya sebaya dengannya.
"Menculik? Maaf saja, aku disini untuk menjemput adikmu bukan menculiknya," balas Halilintar tegas.

"Aku tidak peduli, yang jelas kamu tidak boleh membawa adikku pergi. Aku tau kamu hanya seorang pemuda brengsek yang memanfaatkan kepolosan adikku,"
Ucap Ice tajam. Halilintar melotot, tidak terima dituduh sembarangan.

Hey, ia serius dengan peraaaannya padaTaufan! Ia tidak pernah merasa setertarik ini sebelumnya. Hanya Taufan yang bisa membuat seluruh atensinya tertuju pada wanita muda bermanik sapphire itu.

"Terserah kamu nganggap aku apa, sudah aku katakan aku tidak peduli. Yang akan ku ajak keluar adalah Taufan bukan kamu, Taufan yang berhak memutuskannya," ucap Halilintar tenang.

Taufan memijit pelipisnya, ia mengarahkan pandangannya pada Sang Mama, berharap ditolong.Mama Taufan menghela nafas, lalu segera angkat suara.

"Ice, biarkan adikmu pergi. Dia sudah dewasa, ia sudah berhak memutuskan bagaimana hidupnya ke depan. Ia bukan anak kecil lagi. Lagipula, bukannya kamu ada janji dengan Blaze?" ujar sang Mama.

"Ta-tapi-"

TUT TUT (Anggap suara telpon ya)

Ice segera mengangkat ponselnya, dan menekan tombol hijau di ponsel layar sentuhnya.

"Halo?"

"ICEE! DIMANA KAMU?! AKU SUDAH MENUNGGU MU DUA PULUH MENIT LEBIH DISINI!"

"Ck, sebentar lagi aku sampai," balas Ice sambil berdecak.

"SEPULUH MENIT LAGI KAMU TIDAK SAMPAI JUGA KESINI, KITA PUTUS!" Ujar seseorang diujung sana.

TUT

Panggilan ditutup, ketiga orang yang ada disana menghela nafas lega. Ice mendelik pada ponselnya, kenapa disaat seperti ini ia malah harus punya janji pada kekasih galaknya?

"Kali ini kakak mengizinkanmu, tapi ingat hanya kali ini! Jika kakak tidak punya janji dengan Blaze, sudah kakak ikat kakimu agar kamu tidak kemana-mana," ancam Ice. Taufan dan sang Mama yang mendengarnya memutar mata malas, sudah terbiasa dengan aura posesif dan protektif milik Ice.

"Dan untukmu! Jangan sampai adikku terluka! Awas saja, jika nanti aku pulang Taufan belum juga sampai di rumah, ku buru kamu sampai ke neraka sekalipun! Fuck you, bastard actor!" ujar Ice sambil menjulurkan jari tengah nya pada Halilintar. Ia berjalan keluar rumah tanpa menghiraukan pelototan dari dua orang wanita yang begitu disayanginya.

The Lucky SicknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang