Dulu kau mengejar saya
Namun kau berhenti
Lelah itu sudah kau dapat
Saya tak bisa memaksa
Tak punya hak untuk itu
Saya hanya bisa menatap
Bertanya-tanya pada langit malam
Pada angin yang selalu setia menusuk tulang
"Kenapa kau pergi? Kau sudah memegang kuncinya.
Kau hanya perlu satu langkah
Lalu kau bebas berkelana di hati ini."
Dan seperti biasa
Hanya kebisuan yang menjawab
Saya bungkam
Tak mengerti
Waktu berjalan
Memenjarakan saya yang masih termangu
Saya yang masih buram untuk mengerti
Lalu, tepat saat setahun kemudian
Kau kembali
Kau datang tanpa membawa masa lalu "kita"
Lagi...
Saya termangu
Bungkam
Tak mengerti apa yang tengah terjadi
Kau memulai lagi semuanya
Menarik paksa saya
Mencari kunci
Yang pernah kau buang
Lagi dan lagi
Saya hanya bungkam
Bertanya-tanya dalam kebisuan
"Kenapa kau datang kembali?
Jujur saya senang.
Namun, kau datang tidak dengan status sendiri.
Lalu, bila sudah seperti ini
Apa yang harus saya lakukan?
Menerima? Dan rela di cap sebagai orang ketiga."
Persetan
Saya tersadar
Ikuti saja alurnya
Bukankah ini hal yang sebenarnya dibalik semua kebisuan.
Bersama waktu
Detik demi detik
Kita masih berlari
Terus mencari kunci tersebut
Hingga Kau melupakannya
Kau tak mengacuhkannya
Dan kalian
Akhirnya berpisah
Kini hanya tinggal "kita"
Oh tidak, maaf
Maksud saya
Hanya tinggal "saya" dan "kamu"
Lalu
Tak terasa
Di ujung senja itu
Kunci sudah terlihat
Kemudian
Boom
Terjadi lagi
Kau berbalik arah
Meninggalkan diri ini
Yang kembali termangu
Hanya bisa bungkam
Berdiam diri menatap punggung yang kian menjauh
Lagi.
Saya bertanya
"Angin, kenapa dia pergi? Lagi?"
Hening yang di dapat
Dengan tangan kosong
Saya terjatuh
Setetes air mata mengaliri pipi ini
Menutup hari yang mulai menggelap
Karna senja akan segera berakhir
Dan saya
Akan tetap disini bersama angin malam
Kembali seperti beberapa waktu lalu
-pencinta langit malam
Jakarta, 1308
KAMU SEDANG MEMBACA
Mind
AcakHanya cuap-cuapan gajelas dari saya. So, buat yang mau baca, i just wanna say thankies so much hehe.
