Chapter 1

29.7K 820 9
                                        

Dua pria bersandar di bar seraya meneguk vodka yang sudah di tuangkan oleh bartender. Mereka hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing, sambil menikmatin dentuman musik yang begitu keras terdengar oleh telinga kedua mereka.

Alexa tidak mengerti, selama hampir dua jam mereka saling diam dan tidak ada satu pun diantaranya yang berbicara terlebih dahulu.

Mungkin mereka sedang menghadapi masalah, atau sekedar ingin menenangkan diri, dan pada saat itu Alexa tidak ingin memikirkannya. Dengan langkah malas, ia menyusuri ruangan, melewati para tamu yang asyik menikmati minuman, lalu menyapa bartender seperti biasa.

 Namun setelah sapaan itu, kenyataan yang tak bisa dihindari kembali menjemputnya—Alexa harus menjalani pekerjaannya sebagai wanita penghibur.

Alexa sedikit menjauh dari dua pria yang sudah ia perhatikan sejak awal, padahal seharusnya ia mendekati mereka, membiarkan suara seksinya menggoda dengan lembut. Akan tetapi entah kenapa, malam iturasa ingin menggoda terasa jauh dari hatinya. 

"Hei, malam ini kau begitu cantik, Alexa," puji Manu, teman dekatnya yang bekerja sebagai bartender. Alexa hanya membalas dengan senyum tipis dan anggukan kecil, seolah menahan beban yang tak ingin ia tunjukkan di setiap menitnya. 

"Thank You, dude. Bagaimana pacarmu? Kaisy?" Alexa bertanya dengan menyembunyikan rasa ingin tahunya. Mereka sudah berpacaran hampir lima tahun, dan meski sama-sama sibuk dengan hidupnya masing-masing, Alexa tak bisa menahan kagumnya—mereka bertahan begitu lama, sesuatu yang jarang ia lihat di sekitarnya.

"sangat baik, dan aku harap sampai kedepannya terus seperti ini." sekilas ia membersihkan keringatnya yang mengalir bebas di dahi. "bagaimana dengan mu?"

Alexa mengerutkan dahinya, heran. Di permukaan, ia terlihat baik-baik saja—selalu tenang selagi pekerjaannya lancar—tapi ada sesuatu yang tak bisa ia abaikan, sebuah rasa ganjil yang menyelinap di dalam dirinya, membuatnya sendiri ragu apakah ia benar-benar baik-baik saja atau sekadar menipu dirinya sendiri.

"Maksudku,Apakah kamu mendapatkan lelaki yang sudah tepat di hatimu?" pertanyaan itu membuat Alexa berdecak.

"kau sudah gila?Lelaki mana yang mau dengan ku seperti ini?"Alexa menarik kursi di sebelahnya, lalu duduk dengan santai, menempelkan bokongnya di atas kursi itu seolah tanpa beban, meski pikirannya berkecamuk di balik sikap tenangnya. " Aku hanya seorang pelacur. Aku tidak yakin ada yang mau menjadi pasangan hidupku. Lagi pula,aku masih harus fokus dengan Navia."lanjutnya.

"Memangnya berapa usiamu?" Alexa menoleh ke arah dua pria itu, yakin salah satunya yang bertanya, bukan laki-laki yang sedang ia ajak bicara, dan rasa penasaran kecil terselip di balik tatapannya. Pria yang memakai kaos putih bergaris hitam dengan celana pendek selutut itu jelas menjadi selera banyak wanita, sementara pria di sebelahnya tak kalah tampan—bisa dibilang 11 dan 12 jika diperhatikan.

 "Kau menanyakan usiaku?" Alexa menunjuk dirinya sendiri, dan pria itu hanya mengangguk sambil melempar senyum menggoda yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan, bukan karena salah tingkah, justru lebih membuat dirinya bergidik ngeri. 

"19 tahun," jawabnya santai. Pria itu sempat tersedak mendengarnya, tapi pria di sebelahnya tetap diam, menatap lurus ke arah para wanita penghibur yang menari di atas panggung.

 "Kau serius?" tanyanya tak percaya. 

Kenapa semua orang terlihat terkejut saat menanyakan usiaku? Bukankah itu wajar? batin Alexa. 

"Tentu saja" jawabnya.

lalu pria itu menambahkan, "Siapa namamu?"

"Alexa Jender," jawabnya singkat. Alexa berharap perbincangan ini cepat selesai—sungguh membosankan.

ALEXA.J (COMPLETED) REVISI!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang