Yoongi's PoV
Aku bahagia.
Dua kata itu sepertinya sudah cukup untuk menggambarkan duniaku saat ini.
Aku tak bisa berhenti untuk tersenyum saat hanya memikirkan nya, dada yang sesak karena merindukannya, tidak menatap wajahnya walau sehari pun, percayalah semua itu sangat sulit untuk tidak ku lakukan.
Untunglah.
Sebentar lagi, takkan ada jarak dan waktu yang selalu menghalangiku dan dirinya. Setelah bertahun-tahun aku hidup sebagai sahabatnya, kan ku jadikan ia satu - satunya mentari yang tiap pagi 'kan terus menyinariku.
Aku tak peduli apa kata orang.
Dia adalah milikku untuk selamanya. Sial. Semua ini selalu membuatku lupa akan kenyataan. Tangan nya yang lebih mungil dariku, begitu hangat, sangat sulit ku lepaskan.
"...gi...hyung!"
"Hyung?"
"Hyung, apa kau mendengarku?" suaranya menyadarkan ku dari lamunan ku seperti biasanya.
"Hah? Apa? Kau mengatakan sesuatu?" balasku kebingungan. Tangan ku masih menggenggam erat tangan nya.
"Tentu saja, hyung! Kita sudah mengelilingi banyak toko dan aku selalu bertanya padamu, apa sebaik nya kita beli souvenir di toko itu? Salah satu teman ku bilang di sini sedang banyak discount. Tapi kau justru hanya diam."
Ia mulai menjelaskan banyak hal dengan sedikit kesal sambil menunjuk-nunjuk ke beberapa tempat. Aku menahan diri untuk tidak menciumnya saat ini. Mengapa ia bisa begitu menggemaskan? Apalagi jika sedang marah seperti ini, rasanya aku....
"Maafkan aku, sayang. Aku tadi hanya memikirkan sesuatu." jelasku sembari memeluknya dan mengelus kepalanya.
"Apa yang kau pikirkan, hyung? Ceritakanlah padaku juga. Kau tau kan, sebentar lagi masalahmu akan menjadi masalahku dan begitu pula sebaliknya." ungkapnya dan ia berhasil membuatku tersenyum lagi. Aku mulai megelus kedua pipinya yang semakin merona itu.
"Tenang saja, itu bukanlah sebuah masalah. Ayo, kita coba lihat di toko ini." pintaku sambil kembali menggenggam dan menarik tangannya. Ia meresponku dengan tersenyum manis. Tuhan, tolong jangan pisahkan kami.
✨ ✨ ✨ ✨ ✨ ✨ ✨
Setelah ber jam-jam kami memilih-milih souvenir yang bagus, ia memutuskan untuk membeli lampu senter kecil berwarna kuning berbentuk pulpen dan ada tombol hati berwarna merah untuk menyalakannya.
"Hyung, kita pilih yang ini saja, ya. Aku sudah jatuh cinta saat pertama kali melihat ini, hyung. OK?" tanyanya dengan semangatnya seperti biasa. Aku tak heran karena ku tahu, kuning adalah warna kesukaannya.
"Itu terlalu mencolok. Bagaimana kalau ini saja?" tanyaku sambil mengambil sebuah sapu tangan berwarna hitam dengan sedikit pola berwarna kuning.
"Apa-apaan, hyung? Itu terlalu sederhana, bahkan sangat tidak cocok untuk sebuah souvenir." balasnya dengan raut wajah nya yang terlihat agak masam.
"Arasho! Baiklah, sayang. Kali ini aku biarkan kau yang memutuskan." balasku sambil memegang kedua telinganya yang hampir tertutup oleh topi kesayangannya itu. Ya. Apapun akan ku lakukan agar kau bahagia. Takkan ku biarkan bahkan debu sekecil pun melukai mu. Karena ku yakin, cinta adalah tentang kabahagiaan.
✨ ✨ ✨ ✨ ✨ ✨ ✨
"Hyung, aku lapar sekali, hyung." jelasnya sambil mengelus-elus perutnya setelah kami keluar dari toko tadi. Salah satu tanganku kini sibuk memegang bungkusan yang berisi souvenir.
"Astaga, sayang! Apa aku tak salah dengar? Apa perutmu tidak kau kontrol hari ini? Biasanya kau selalu diet, apalagi acara sudah semakin dekat." Ia langsung meresponku dengan memukul-mukul ringan bahuku.
KAMU SEDANG MEMBACA
R. U. N. (YoonJin/SINner)
FanfictionKau dan aku. . . Kita. . . Tak seharusnya jatuh cinta.. When there's no light at the sky, that's when I leave you.. . . . . . Story Cast : The characters are from BTS member (except, Namjoon sama Tae ada sedikit perubahan), and the rests are pure f...
