"Hujan turun deras ya Mas siang ini. Mas tau? Dulu aku pernah berkata padamu bahwa aku suka hujan..."
"Tapi kamu benci basah?" sahutmu.
"Hehehe iya. Aku suka hujan tapi benci basah. Aneh ya? Padahal mereka berdua kan sepaket, tidak bisa dipisahkan. Dan mas tau? Hari ini hujan akhirnya membuatku basah," kataku sambil memandangmu.
"Hujan akhirnya membuatku basah, dan membuatku merasakan dingin yang mengalir turun di atas kulitku. Rasanya menjengkelkan, ketika dingin melingkupiku tapi aku sedang tidak menginginkannya. Aku egois ya?" kataku lagi.
"Emmm.. Iya, kamu egois. Kamu hanya mau menerima sebagian, tepat di mana kamu hanya tertarik pada satu titik, tidak sepenuhnya. Kamu tau Dek? Aku dulu pernah seperti itu, memberikan seluruh hidupku hanya pada satu waktu. Semuanya kuberikan dan kukerahkan sepenuh hati. Namun kata bersama ternyata juga bisa berpisah satu per satu," jawabmu sambil membelai rambutku.
"Lalu baiknya yang mana? Sepertiku atau sepertimu Mas?"
"Baiknya tetap jadi dirimu saja Dek," balasnya sambil tersenyum.
Hujan siang ini, betul-betul hujan yang sesungguhnya. Basahnya, dinginnya dan senyumnya benar-benar nyata di hadapanku.
"Semoga tetap disampingku, walau hujan semakin lebat, dan dingin semakin menusuk," batinku.
