Sudah seminggu tak ada kabar dari perjodohanku, ibuku pun tak membicarakan hal itu. Aku rasa perjodohan ini akan di batalkan. Pasrah, itulah yang aku rasakan. Mau diapakan bila si pria kaku itu tak menyukaiku percumah kalau dipaksakan pun.
Suara mobil terdengar berhenti di halaman depan rumahku cukup membuatku penasaran akannya, kucoba mengintip dari balik jendela. Betapa tercengangnya ketika melihat siapa yang tengah keluar dari mobil sedan hitam itu.
Ya, dia si pria kaku itu dengan stelan kemeja biru lautnya berjalan ke arah rumahku.
Tak lama pintu diketuk olehnya, ibu mengizinkannya masuk.
Aku keluar kamar dengan ragu, apakah aku yang ia jadikan maksud dan tujuannya kemari. Sesampainya di lantai bawah mata kami berpapasan saling beradu pandang. Rasanya jantungku berdebar begitu kencang karena tatapan mautnya mengarah tepat ke arahku.
"Nah, itu dia Faisca" Ibu menunjukku dan berjalan menjemputku, membawanya agar lebih dekat dengan si pria itu. "Ais, Gilang ini mau mengajak kamu keluar untuk makan katanya."
Astaga, apa yang ibu maksud dan apa yang pria ini inginkan. Apa dia ingin membunuhku dengan mengajak makan diluar. Pikiranku sangat buruk saat ini karena terlalu takut akan sinar matahari itu.
"Bu, tapi aku takut."
"Tenang saja ,Nak. Gilang ini akan menjagamu," rayu ibu.
"Tapi bu, bukan itu maksudku," gumamku pelan.
"Percaya sama ibu." bujukan itu membuatku luluh terlebih lagi karena aku terlalu takut akan dosa pada orangtua.
"Baiklah," jawabku pada akhirnya.
Gilang bersalaman dengan ibu, tidak tau karena sopan atau hanya menjaga 'image'-nya saja. Pria kaku itu sudah keluar rumah mendahuluiku semantara aku masih berada di balik pintu. Ternyata tubuhku terserang rasa takut yang begitu hebat sehingga menghambat langkahku untuk lebih maju keluar dari batas zona amanku.
Calon suamiku kembali menjemputku, namun kini ia membawa payung dan selimut berwarna merah muda ternyata dia mengetahui selera warnaku.
Dia mendekat kearahku dan berdiri tepat di hadapanku. Ya Tuhan, dia sangat tinggi dan sekarang aku lebih terlihat seperti kurcaci. Pria itu menggengam tanganku setelah memakaikan selimut pada tubuhku sementara satu tangannya lagi merogoh saku celananya mengambil sebuah kacamata hitam lalu dipakaikan-nya padaku.
Kami berjalan beriringan menuju mobil sedan hitam itu. Dengan romantisnya dia membukakan pintu mobil untukku.
Setelah mobil melaju cukup kencang kami tibalah di salah satu restoran dekat taman bunga, sangat indah aku rasa, apalagi ini adalah pertama kalinya aku merasakan udara luar yang sejuk dengan semilir angin yang menerpa tubuh rapuh ini.
Di satu sisi ada rasa tak nyaman saat itu, karena beberapa pasang mata memperhatikan langkah kami. Aneh memang, pada siang bolong seperti ini malah memakai payung yang sering digunakan saat hujan saja.
Kami duduk disalah satu bangku restoran itu agak memasuki ruangan.
"Mau pesan apa?," tanyanya.
Aku masih dihantui rasa tak enak hati karena memikirkan bagaimana jika aku sudah menjadi isterinya yang akan selalu membebani suamiku kala ingin pergi keluar pastilah dia akan memegangi payung untuk melindungi tubuh ini dari sinar matahari yang dapat menyerang kulitku. Aku tau itu sangat merepotkannya.
"Faisca?" Pria itu membuyarkan lamunanku.
"Apapun," kataku cepat.
"Gilang... ada yang ingin aku bicarakan." Akan lebih baik aku berbicara sekarang daripada nanti membuatnya merasa terbebani.
"Apa?"
Tak terasa air mataku sudah membasahi pipi ini. "Sepertinya perjodohan ini harus dihentikan," kataku ragu tapi terdengar mantap.
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Aku hanya tak ingin membebanimu seperti ini, apa kamu tidak bisa melihat orang di luar sana memandangku aneh. Aku ini berpenyakit kamu sudah tau itu dan aku akan sangat membemanimu. Aku tidak ingin merepotkan orang lain," tuturku dengan isakan tangis yang membuatnya tertegun mendengar ucapanku.
Saat Gilang hendak bicara pelayan datang dengan membawa nampan berisikan pesanan kami. Taganku tiba-tiba gemetar hebat saat memegang gelas minuman yang pelayan itu berikan dan tak sengaja aku menumpahkannya sampai baju Gilang terkena imbasnya.
Mulutku terbuka lebar dengan mata yang hampri keluar. "Gilang maafkan aku."
Pria itu memandangku dengan tatapan yang tak terbaca.
Bagaimana ini bisa terjadi, bodohnya diriku bisa-bisanya menumpahkan minuman ini. Aku merasa bersalah sekaligus bingung harus berbuat apa ternyata pilihanku kali ini adalah meninggalkan Gilang.
Aku berlari keluar restoran itu tanpa mempedulikan sinar yang dapat membunuhku. Benar saja, rasanya kulitku seakan terbakar oleh api neraka yang sangat panas. Tubuhku tejatuh dan yang bisa ku lakukan hanyalah menangis sejadi-jadinya.
Rasanya sangat panas sekali. Tuhan, aku ingin mati saja. Tangisanku semakin pecah, tanganku terus mengusap-usap kulitku yang semakin panas terbakar oleh sinar matahari.
Bayangan hitam mendekat ke arahku. Gilang bersama payungnya meneduhkanku hingga rasa sakit itu sedikit berkurang. Dia membawaku kepelukannya.
"Aku memang belum mencintaimu, tapi aku percaya suatu saat aku akan," ucapnya lembut sambil mengusap kepalaku yang masih berada dipelukannya, "orangtua mu mempercayakan dirimu padaku dan apakah kau mau membuat aku berjanji di hadapan Tuhan dan kedua orang tuamu untuk menjaga putrinya sampai maut memisahkan."
Di sisa isakanku aku berpikir apakah ia sedang melamarku.
"Faisca, izinkan aku menjadi payung yang meneduhimu dan melindungimu dari cahaya yang kau takutkan, izinkan aku menjadi bayangan hitam yang mengikuti setiap langkah kaki mungil itu menyusuri kehidupan."
Aku terhanyut oleh setiap kata-katanya, pelukanku semakin erat dan inilah jawabanku.Terimakasih sudah baca
Mohon maaf bila ada typo
Jangan lupa
Vote + komennya
😘Nona Boeung
Kuningan,23, Maret, 2018

KAMU SEDANG MEMBACA
Payung Teduh Untuk Sinar
Kort verhaalKekuranganku membuat beban bagi semua orang, termasuk dia yang telah menyandang sebagai calon suamiku. Apakah dia akan menerimaku? Faisca Hilda, yang artinya sinar kesempurnaan. Tapi, berbeda dengan diriku.