( Piye = Gimana, iki = ini, wedi = takut)
Pagi hari yang cerah, sinar matahari yang mulai terik, dan gorden yang terdapat celah, merupakan perpaduan yang pas untuk seseorang agar terbangun dari tidur. Itulah hal yang sama dirasakan oleh seorang Dina. Ya, Imaculatta Dina, dengan sedikit mengerang ia pun mulai membuka sedikit demi sedikit kedua kelopak matanya. Ketika kedua matanya sudah terbuka, ia pun langsung menengok kearah jam yang berada di nakas sebelah tempat tidurnya.
"Whatttt?!?!?!? Udah jam 7.30 dan gak ada seseorangpun yang mau bangunin gue untuk kesekolah?!?!? Duhhhh! Piye iki???" gumam Dina.
Ia pun langsung menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk mencuci muka. Dan dengan cepat ia pun mengganti piyamanya dengan seragam sekolah dan memakai parfum lebih dari biasanya.
Setelah itu dengan brutalnya, ia menutup pintu hingga menimbulkan suara yang menyeruak kemana - mana. Flo, mamanya, yang hendak pergi ke kamar Dina untuk membangunkannya seketika kaget dan menatap heran anaknya.
"Tumben bangun sendiri?" gumam Flo dalam hatinya. Tanpa sadar, ia telah menistakan anaknya sendiri.
"Pagi nak, sarapan dulu yuk." Kata Flo.
"Maaf ya, mah. Ini Atta udah telat mah. 15 menit lagi udah masuk. Atta duluan ya mah." Kata Dina yang biasa dipanggil Atta oleh keluarga dekatnya, sambil mengambil roti isi yang sudah dibuat terlebih dulu oleh mamanya.
***
Hari ini adalah hari kedua masuk sekolah di tahun ajaran baru. Dan di hari ini juga sepertinya adalah 'hari pertama kalinya' seorang Dina itu telat.
"Haduhhh, piye ya ki? Keburu gak yo? Aku wedi telat deng." Seru Dina dalam hatinya.
Ia pun berlari dengan sekuat tenaganya dan akhirnya dapat masuk dengan tidak terlambat.
"Huh! Thanks God aku gak telat!" seru Dina setelah melewati pagar sekolah yang dijaga oleh kepala sekolah dan beberapa guru pengawas.
Tetapi, belum berakhir disitu perjuangannya. Ia harus masuk kekelasnya tanpa pengetahuan siapapun. Ia pun berlari kesana kemari mencari kelasnya hingga ke lantai 3 sekolah.
"Duh! Kelas gue dimana sih? Kok susah banget ya nyarinya?"
Selang beberapa detik kemudian, ia baru ingat.
"Oh iya! Kelas gue kan di lantai 2 ya? Kok gw bodo banget sih sampe kesini?" gerutu Dina dengan kebingungan.
Di akhir anak tangga, ia pun hampir jatuh terjungkal jika tidak ada seseorang yang menolongnya. Seorang cowok yang tidak terlalu ganteng tetapi manisnya menarik perhatian puluhan hingga ratusan orang.
Sambil tertawa kecil, cowok itu pun menolong Dina dan dengan cepat ditariknyalah Dina ke dalam pelukannya.
"Untung gw tangkep lo. Coba kalo enggak, udah jatuh lo ciuman sama lantai. Mending cium gw aja." Seru cowok itu dengan suara yang sangat pelan dan hampir tidak terdengar.
Dan dalam waktu 5 detik, Dina pun tersenyum melihat ciptaan Tuhan yang sangat indah. Lalu di sepersekian detik kemudian, ia sadar ia telat.
"Anjir! Minggir lo! Misi gue buru - buru mau ke kelas!" Lalu di pukulnyalah lengan lelaki tersebut dan lari kekelas dengan perasaan tidak karuan.
"Huh!" Seru Dina yang kelelahan. Akhirnya ia dapat masuk kelas tanpa diliat oleh guru manapun.
"Kamu hampir aja telat. Untung gurunya belum dateng!" Kata seorang murid yang duduk di sebelah Dina.
"Kenalin, aku Aileen. Kamu?" Kata Aileen.
"Aku Dina." Kata Dina yang masih ngos - ngosan.
"Oh ya. Pipi kamu merah, Din. Kamu sakit ya?" Tanya Aileen.
Lalu Dina malu dan baru sadar bahwa tadi ia blushing. Dan secara tidak sadar, ia pun menceritakan kejadian tadi sampai seorang guru datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sengklek Squad
FanfictionIni real Ini gila Ini beneran Ini diluar ekspektasi kalian Tentang satu kelas yang sangat kompak dan sangat gila wkwkwk *Warning : ada beberapa menggunakan bahasa Jawa dan akan diberikan keterangannya sebelum cerita.
