Dilan memacu kecepatan motornya di atas rata-rata ,menuju basecamp Revan. Di belakangnya Bisma, Mars, dan Delvan mengikuti motor Dilan.
"Oi... Del, si Dilan gila tuh. Ini dia kebut-kebutan di jalan raya, mana rame lagi,"celetuk Bisma.
"Lo kayak nggak tahu dia saja, coba lo ada di posisi Dilan deh. Pasti lo bakal ngelakuin hal ini,"gumam Delvan memaklumi.
"Tapi gue takutnya si Dilan, ke tangkap polisi. Ya ... kali dia di seret ke meja hijau, hanya karena hal ini,"Bisma protes lagi.
"Lo diam dulu Bis, nanti Dilan ngamuk. Dia lagi temprament ini,"ucap Mars pelan, agar Dilan tidak mendengarnya.
Dilan berlari masuk ke basecamp Revan, nafasnya memburu. Anak buah Revan segera menyingkir, karena mereka tahu Dilan sedang marah. Dan bisa saja jika mereka menghalangi Dilan, Dilan bisa meluapkan amarahnya dengan membunuh mereka.
"Well Dilan, lo sudah datang ternyata. Gue tahu lo bakal ke markas gue ini,"Revan tersenyum miring.
"Lo kalau ada masalah sama gue, selesaikan sama gue. Nggak perlu bawa Keyla di masalah ini,"
"Gue tahu Keyla satu-satunya kelemahan lo,"
"Lo benar-benar ya, nggak punya hati nurani lo,"gertak Mars kesal.
"Gue memang nggak punya hati, semenjak Dilan ngehalangi cinta gue,"sinis Revan.
"Maksud lo apa sih, gue nggak ngerti,"Bisma bingung.
"Dari SMP gue sudah jatuh cinta sama Keyla Edward Edelwaish, lo tahu kan itu siapa. Itu kembarannya Dilan, tapi Dilan nggak setuju. Padahal gue dan Key sama - sama suka,"
"Nggak usah ngungkit masa lalu, jelas gue nggak setuju sama hubungan itu. Gue nggak mau Key terjerumus di dunia lo itu, lo tahu kan dunia apa yang gue maksud itu Revan Gerald Fernandes,"
"Lo salah Dil, gue tuh cinta sama Key. Nggak mungkin gue ngerumusin orang yang gue cinta, tapi sekarang hati gue sudah beku. Lo yang ambil kebahagiaan gue,"
"Jangan ganggu Key lagi, atau hidup lo gue jamin nggak akan tenang. Atau yang lebih parah lo akan lenyap, dan yang lenyapin lo itu gue sendiri,"
"Jangan harap gue mundur," sinis Revan.
Brak...
Dilan membanting pintu basecamp Revan, sebenarnya ia ingin sekali memukul wajah Revan. Namun ia tak bisa karena mengingat adeknya itu sudah berpesan padanya, agar tidak lagi bertengkar dengan Revan.
"Dil... lo mau kemana?"Bisma menaikkan sebelah alisnya.
"Gue mau ke club, mau nenangin diri. Lo kalau mau ikut... ikut saja, gue nggak akan terlalu - drunk kok. Paling lo bertiga yang paling mabuk berat,"cibir Dilan.
Mereka pun pergi ke club, yang biasanya mereka datangi. Dilan hanya tersenyum tipis melihat tiga sahabatnya sudah mabuk berat, ini sudah biasa baginya.
"Hai... Dil, sudah lama kau tak main ke tempat ini,"seorang bartender menyapa Dilan.
"Ouwh... hai Jack, ya... aku tak datang kesini. Karena aku harus menjaga adekku, you know... orang tuaku work a holic. Mereka jarang ke rumah, bahkan hampir tidak pernah,"
"Sepertinya tiga sahabatmu sudah terlalu mabuk Dilan, bawa mereka,"Jack melirik Mars, Bisma, dan Delvan.
"Mereka itu tolol, entah apa yang merasuki diriku. Ketika mau bersahabat dengan trio tolol itu,"Dilan menggelengkan kepalanya.
Lalu membawa tiga sahabatnya ke dalam mobilnya.
Jangan tanya dari mana Dilan membawa mobil, karena sebelum masuk ke club. Ia sempat menghubungi supirnya, dan meminta mengantarkan mobil dan membawa motor Dilan ke rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY POSESIVE BROTHER
Fanfictionnamaku Keyla Edward Edelwaish, aku punya kembaran namanya Dilan Edward Edel. Tenang dia bukan Dilan Gundala Putra, dia adalah Dilan Edward... walau pun tingkah Dilan Edward nggak beda jauh sama Dilan Gundala. Dilan sangat posesive terhadapku, satu l...
