Dilan menatap intents Keyla, Keyla menaikkan sebelah alisnya.
"Lo kenapa sih Dil?"
"Gue ada urusan nih,"Dilan gugup.
"Urusan apa?"
Padahal Keyla sudah tahu Dilan akan bilang apa, pastinya Dilan akan bilang ia harus ikut tawuran pulang sekolah nanti. Ya seperti itu lah kebiasaan Dilan.
"Gue... mau tawuran lagi, boleh ya,"
"Sejak kapan gue ngelarang lo,"Keila memutar bola matanya.
"Nggak usah basa-basi deh, gue tahu kok. Kan tadi Mars yang bilang sendiri sama lo, tawuran sama anak SMA Garuda kan,"
"Lo tahu saja sih,"Dilan mencubit pipi Keyla gemas.
"Eh bentar deh... gue ke ingat sesuatu,"
Dilan pov
"Shit... dia kayaknya ingat hal itu deh,"batin Dilan bimbang.
"Itu kan sekolahnya Revan, dia rival lo dari kelas 7 dulu kan. Yang pernah nyulik gue, bahkan hampir ..."
"Heh... jangan di lanjutin,"cegahku cepat.
Aku melihat Keyla menunduk, bahunya bergetar.
"Ouwh no... not again,"gumamku lesu.
"Key... please lo lupain hal itu, dia nggak pantes lo tangisin kayak gini. Tatap gue sekarang Key," aku menyentuh pundak Keyla.
Jujur ini sangat sakit bagiku, melihat Keyla menangis. Dan aku janji akan memberi pelajaran pada Revan, karena sudah mempermainkan cinta Keyla.
"Lo balik ke kelas gih... gue mau langsung ke lokasi,"aku mengelus rambut Keyla lembut.
"Lo janji ya... jangan babak belur, kayak yang terakhir itu,"Keyla mengusap air matanya.
"Gue nggak bisa janji,tapi gue janji bakal selamat sampai rumah. Jam 7 malam gue audah sampai rumah kok, jangan lupa kunci pintu sama jendela. Jangan keluar dari rumah sebelum gue sampai, gue nggak mau kejadian itu ke ulang lagi. Gue nggak mau lo celaka, dan kritis kayak dua minggu yang lalu. Musuh gue banyak di sekitar lo, karena mereka tahu lo satu-satunya kelemahan gue. Paham kan maksud gue Keyla Edward Edelwaish,"
Dilan pov off
Author pov
Keyla menatap mata hijau emerald milik Dilan, ia paham jika Dilan sudah memanggilnya dengan nama lengkapnya. Itu menandakan Dilan serius dengan kata-katanya, dan nggak bisa di ubah lagi.
"Iya Dil gue paham, lo pergi sana. Nanti telat."
Kring...
Bel satu kali menandakan waktu pulang untuk murid SMA Elang.
Keysa mau menyebrang jalan, tiba-tiba ada satu motor yang melaju kencang ke arah Keysa. Dan dengan sengaja sang pengguna motor mengeluarkan pisau lipat, dan menyayat lengan kiri Keysa.
"Argh..."ringis Keysa.
Darah keluar deras dari luka sayatanbitu, Keyla cepat-cepat pulang ke rumah. Sebelum hal buruk lagi terjadi padanya.
Keysa menoleh ke arah jam dinding, yang ada di kamarnya. Sudah lewat pukul 7 malam, namun Dilan belum juga datang.
Drrt
Twint laknat
Oii... buka pintunya Key
Keyla E.E
Lama amat lo anjir
Read
Secepat kilat Keyla, turun ke lantai 1 dan membukakan pintu rumah.
Menampakkan sosok Dilan, yang seperti biasanya pasti terdapat luka lebam di wajahnya. Dan ada luka di ujung bibirnya,yang sudah mengering.
Dengan hati-hati Keyla mengobati luka Dilan.
Dilan hanya tersenyum, sambil sesekali mengelus rambut twintnya itu.
"Eh... lengan lo kenapa tuh,"Dilan mentautkan alisnya.
"Ah... gue jatuh tadi,"Keyla gugup.
"Lo bohong kan, jawab jujur amor,"Dilan menatap tajam Keyla.
"Aduh... Dilan sudah manggil gue amor, dia pasti bakal marah besar ini,"batin Keyla lesu.
"Nggak usah ngebatin, gue bisa baca batin lo. Lo lupa kita itu twint,"celetuk Dilan sinis.
"Gue kesayat pisau tadi, waktu mau nyebrang,"
"Lo lihat orangnya?"Dilan mengepalkan tangannya.
"Iya... jelas gue lihat,"
"Siapa?"
"Alex... anak buahnya Revan,"Keyla munduk.
Dilan bangkit dari duduknya lalu mengambil jaketnya.
"Dil... lo mau kemana?"Keyla panik.
"Ke basecampnya Revan,tenang saja... gue nggak sendiri. Gue bareng sama Mars, Brayn, sama Delvan. Lo tidur gih... biasa... lo tutup pintu sama jendelanya, gue nanti masuk lewat pintu belakang,"Dilan langsung pergi begitu saja.
"Hati-hati Dil, ingat... jangan terbawa emosi,"teriak Keyla.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY POSESIVE BROTHER
Fanfictionnamaku Keyla Edward Edelwaish, aku punya kembaran namanya Dilan Edward Edel. Tenang dia bukan Dilan Gundala Putra, dia adalah Dilan Edward... walau pun tingkah Dilan Edward nggak beda jauh sama Dilan Gundala. Dilan sangat posesive terhadapku, satu l...
