Pagi itu Eca berjalan menelusuri lorong sekolah dengan perlahan pasti serta dengan menikmati ketukan demi ketukan langkah sepatunya, kala itu udara masih sejuk, semilir angin yang masih terasa dingin membelai lembut tepat di wajahnya."ahh tenang, rasanya damai"
sambil sesekali ia menghirup udara dalam-dalam, dan kemudian memejamkan matanya.
Wajahnya yang biasa cantik, kini tampak lesu, kelopak matanya terlihat lebam sisa dari tangisnya semalam.
Eca tak ingin mengingat kejadian yang dialaminya, walaupun hatinya terluka ia tetap berusaha menjalani harinya seperti biasa. Ia berharap kali ini keberuntungan akan berpihak padanya.Mungkin semua hanya akan bergantung pada waktu saja.
Biar waktu yang akan menjelaskan segalanya, tentang apa yang ia rasa, tentang apa yang mengganggu dibenaknya dan tentang apa yang selalu diinginkannya.Tak ada yang bisa mengerti, serapuh apa perasaan di dalam hatinya
Tak ada yang dapat menerka, sekokoh apa jiwa di raganya
Tak ada yang mampu memahami, seberat apa beban yang dideritanya.
Salah bila aku memilih jalanku sendiri?
Melakukan berbagai hal yang kusukai
Menentukan apa yang kan ku jalani
Tanpa harus takut akan adanya kekangan sana siniSegalanya terasa sulit
Tanpa adanya dukungan yang mampu membangkitkan ego dalam diriHingga akhirnya aku berprestasi, apa mereka akan peduli???
Pedih memang, ketika apa yang di diinginkan tak pernah terwujud dan tak dihargai
Hidup bagai hampa
Bahkan secercah kepercayaan dari keluarga tak ada yang dapat kupunya"Dorrr!!"
Terdengar suara seseorang yang berteriak kencang dan mengagetkan Eca dari belakang, sontak hal itu memecah lamunan Eca"ehh buset!! Kaget gua!" kata Eca dengan spontan, dan langsung membalikkan tubuhnya kebelakang untuk mengetahui seseorang yang mengerjainya itu
"bwahahaha!!. Lo latah ya? Hahaha" tawa orang itu, yang tak lain adalah Reza
"rese dah lo sumpah!! Kalo sampe gua jantungan gimana?" tanya Eca dengan nada yang sedikit tinggi
"ya sorry caa, abis gue liat lo daritadi bengong terus. Karena takut lo bakal kesambet akhirnya gue kesini nemenin lo, biar lo nya ga sendirian.
Lagian lo kenapa si ca? Kok tumben anteng banget hari ini? Ada masalah ya?""ahh gaada apa-apa kok za, mood gua hari ini lagi ga enak aja" jawab Eca, tak seperti biasanya Eca tampak acuh pada Reza
"ohh gitu, kalo lo mau cerita, lo bisa kok cerita ke gue, gue selalu terbuka kapanpun buat lo, dan siapa tau aja gue bisa bantu." ucap Reza sembari tersenyum
"ah.. gua gapapa kok za." jawab Eca datar
"ermmm, yauda deh kalo lo gamau cerita, gapapa. Tapi kalo lo berubah pikiran, lo bisa kok kapan pun manggil gue, gue bakalan dateng saat itu juga.. Btw lo kok tumben berangkat pagi-pagi banget hari ini?" tanya Reza keheranan
"iya, makasih banyak za.." ucap Eca dengan senyum
"tadi gua nebeng sama temen, dia biasa berangkat pagi, jadi mau ga mau gua juga harus stay pagi, lah lo sendiri ngapa subuh-subuh gini uda disekolah? Mo bantuin mang Jono bersih-bersih taman?" sambung Eca"ohh gitu, tumben dah, bukannya biasanya lo bawa motor sendiri ya?
bantuin mang Jono?? Kerjaan gue banyak kali ca -_-""motor gua ketinggalan di sekolah, ya terus apa dong tujuan lo berangkat subuh?" tanya Eca kembali

KAMU SEDANG MEMBACA
LIGHT
Teen FictionIndah bukan jika kamu memiliki sosok seorang yang bisa membuatmu jauh lebih baik?