BAB 1: Negeri di Awan

15 1 1
                                    

Pernahkah kau kehilangan orang yang teramat kau cintai namun kau tak tahu penyebab hilangnya ia dan kemana perginya? Sementara rasa penasaran bercampur rindu terus mengusikmu hingga kau lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak karena tiap matamu terbuka yang kau ingat hanya dia. Dia yang menghilang.

Aku tidak sedang mengadu karena tiba-tiba ditinggalkan kekasih yang pergi tanpa pamit entah kemana. Juga tidak sedang menceritakan kematian orang terdekat karena sebuah bencana hebat yang membuat jenazahnya terseret ke sebuah tempat asing yang tak terjamah manusia.

Aku hanya sedang mencari seseorang yang paling kucinta selama ini, seumur hidupku. Pria pertama yang selalu melindungi dan menghidupiku semenjak aku muncul di bumi ini. Dialah yang mendewasakanku dan menyadarkan bahwa sosok Ibu itu tak selalu wanita yang telah melahirkan kita, namun dia juga bisa seorang pria yang mengasihi dan menyayangi kita hingga segala apapun yang ia punya akan dikorbankan.

Orang yang kucinta dan telah menghilang tiba-tiba seperti ditelan bumi itu adalah ayahku. Sebelum ia hilang, aku hanya seorang yatim yang ditinggal mati ibu sewaktu melahirkanku. Hanya ayah satu-satunya keluarga yang kupunya. Namun kini, statusku masih belum jelas, apakah aku masih yatim atau sekaligus piatu?

Empat minggu berlalu, penyelidikan tentang menghilangnya ayah belum ada perkembangan. Saksi mata yang melihatnya terakhir mengatakan bahwa Ayah pergi ke salah satu gunung sampah pada malam jumat kemarin ketika cuaca sangat ganas. Gerimis kecil dan hujan petir mengiringi langkahnya menuju ke sana. Alasan ia pergi ke sana dengan lenyapnya ia tanpa jejak, sama-sama misteri besar dalam hidupku.

"Ada seorang nenek tua pemulung sampah yang mengatakan bahwa ia sempat melihat seorang pria tersambar petir lalu lenyap seketika," ceritaku siang itu pada Andi di salah satu TPA Depok.

"Jadi, itu yang kau maksud dengan kepercayaan terakhir?" tanya Andi penasaran.

"Iya. Polisi sepertinya sudah angkat tangan dengan kasus ini. Semua penyelidikan dan pencarian berakhir di sini. Segala usaha sudah kucoba, bukan cuma meminta bantuan polisi dan detektif tapi juga sudah kusewa beberapa orang pintar terkenal. Semuanya angkat bahu. Mereka bilang hilangnya ayahku tak ada hubungannya dengan dunia gaib atau hal-hal mistis. Aku... Aku tak tahu harus bagaimana lagi agar aku bisa menemukan ayahku."

Aku meremas rambutku dan menangis sambil terduduk di sebuah bangku kayu reyot yang dinaungi kain butut dan sangat kumal. Bau busuk yang menyengat ini sudah mulai terbiasa kuhirup, karena bermacam masker yang kupakai tiap datang ke tempat ini selalu kehilangan fungsinya sebagai pelindung hidung.

Andi merangkul pundakku dan mengusap punggungku. Tangannya tergerak untuk melakukan itu agar aku bisa sedikit lebih tenang dan bersabar.

Saat semua usaha sudah mulai terlihat percuma dan segala kefrustasian ini sudah melebihi batasnya, akal sehatku pun mulai coba kuenyahkan. Aku mulai menyimpulkan sesuatu yang sebelumnya selalu ditolak oleh logika dan pikiranku sendiri. Biarlah kubagikan rahasia ketololanku ini pada Andi.

"Andi, apa kau pernah mendengar tentang negeri di awan?" tanyaku sambil mengusap air mata yang mengalir dengan kedua telapak tangan.

"Negeri di awan?" kening Andi berkerut. Lalu kulanjutkan ceritaku "Ya, negeri di awan. Negeri yang berdiri di atas gumpalan awan besar di atas sana, tempat sebuah kaum hidup bermasyarakat, seperti layaknya manusia yang hidup dan berpijak di bumi."
Andi termangu seperti seorang anak yang mendengar dongeng sebelum tidur.

"Maksudmu... Semacam kahyangan yang dihuni dewa-dewa, begitu?"

"Bisa dibilang begitu," jawabku. "Apa kau percaya ada negeri di atas sana?" Aku menengadahkan kepalaku lalu menyipitkan mata menatap ke atas langit.

"Sejujurnya... Tidak. Aku tidak percaya. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu?" Andi merasa heran karena dalam sedihku ini, aku malah membicarakan hal yang kelihatannya sama sekali tak ada hubungannya dengan kepergian ayahku.

Sesaat aku terdiam. Mencoba mengenang masa-masa itu. Masa kecilku bersama ayah yang selalu mengisahkan tentang kehidupan di atas awan sana yang bisa membuat siapa pun yang mendengarnya ingin tinggal di sana. Kemudian, meluncurlah cerita dari mulutku tentang negeri itu.
***

"Jika kau naik pesawat dan berada di ketinggian tertentu di langit dan pernah melihat gumpalan awan seperti kumpulan kapas raksasa, kau belum tentu bisa melihat negeri itu. Gumpalan awan yang terlihat bagai alas pijakan bagi mahluk-mahluk hidup yang tinggal di sana. Mereka bukan dewa atau dewi, tapi bentuk mereka sesempurna manusia. Mereka juga tak memiliki sayap seperti malaikat juga bukan dewa atau dewi yang bisa terbang. Mereka hidup, bernapas, bergerak dan beranak-pinak sejatinya manusia bumi.

Mahkluk-mahkluk awan ini memiliki kelebihan yang luar biasa, yaitu bisa bergerak secepat cahaya dan dapat menyentuh awan seperti manusia menyentuh kapas. Pakaian yang mereka kenakan menutupi tubuhnya pun terbuat dari kapas. Mereka bisa memperlakukan awan semau mereka, bahkan bersembunyi dan menyatu dengan awan adalah aktifitas sehari-harinya. Bukan hanya tempat berpijak, makanan mereka juga awan dan tugas mereka setiap hari membuat awan. Jika mereka memakan awan sekepalan tangan maka mereka akan segera membuat awan baru dengan cara yg hanya diketahui mereka sendiri.

Peraturan di negeri awan hanya satu: yaitu jangan pernah bertemu atau bahkan menampakkan diri pada manusia. Jika ada yang berani melanggar peraturan itu, maka awan di sekitar akan tahu dan dengan sendirinya awan akan menghukum si pelanggar dengan membuangnya ke tempat terasing di bumi melalui halilintar. Dan setiap manusia awan yang dibuang ke bumi tubuhnya akan hancur terbakar menjadi abu lalu lenyap tersapu angin.

Konon, ada salah satu manusia awan yang jatuh cinta pada manusia bumi. Manusia awan terpaku berdiri saat melihat perempuan cantik di balik kaca jendela pesawat. Perempuan itu kaget dan menyangka berhalusinasi namun si lelaki awan tetap terpaku di tempatnya, hingga akhirnya raja awan murka dan hendak menghukum si lelaki awan. Tapi sebelum ia dihukum dan dihancurkan dengan petir, ia memutuskan untuk kabur dan turun sendiri ke bumi dengan petir buatannya hingga semua makhluk awan menyangka ia sudah mati. Padahal lelaki itu masih hidup dan tinggal di bumi, mencari perempuan yang dicintainya. Tak ada satupun yang tahu bahwa lelaki awan itu akhirnya menikahi perempuan bumi dan hidup bahagia bersamanya...
***

NEGERI DI AWAN : Cerita-cerita yang Tak Pernah SelesaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang