01

286 19 0
                                    

Jin hyung masih menangis di pelukanku. Aku berusaha membuatnya merasa lebih baik. Walaupun aku tak begitu mengerti apa yang harus kulakukan.

"Hyung... Apa kau akan mengatakannya? Hm?"

Jin hyung melepas pelukan kami. Lalu menatapku.

"Aku.. Aku tak tau Tae.. Aku sangat takut."

Jawabnya sambil masih meneteskan air mata.

Memang setahuku Namjoon hyung pria normal. Bahkan ia pernah berpacaran dengan teman sekelasku waktu aku masih SMA.

"Apa hyung bersedia menerima apapun jawaban Namjoon hyung kalau aku mengatakan ini padanya?"

Aku menawarkan diri untuk menjadi jembatan diantara mereka berdua. Tapi Jin hyung menggeleng dan tersenyum.

"Tak usah Tae. Aku akan mengatakannya sendiri. Saat aku sudah siap."

Ucapnya mantap. Aku mengangguk mengerti dan tak hentinya berdoa untuk kebahagiannya.

Setelah selesai berbincang, kami makan malam bersama.

-
-
-

My Kookie

Sayang, kita bisa bertemu malam ini?

Sekarang? Tentu

Nanti ku jemput di taman komplek dekat rumahku, ya!

Baiklah. Sampai nanti baby

Sampai nanti

-
-
-

"Tae,"

Aku terkejut saat Jin hyung memanggilku. Aku langsung menatapnya.

"Kau tahu? Kau tidak sopan!"

Ucapnya kemudian. Aku mengerutkan keningku. Lalu tersenyum.

"Mian hyung.. Aku sedang membalas chat dari kookie."

Seketika wajah Jin hyung berubah.

"Wah.. Benarkah? Apa kalian masih menjalin hubungan dari waktu kalian SMA itu?"

Memang aku tidak memberi tahukan hubunganku dengan kookie. Aku diam saja. Dan jin hyung juga tampaknya tak terlalu ingin tahu. Sampailah saat ini, ia kambuh dengan penyakit 'kepo' nya.

"Tentu saja.. Kami selalu bahagia."

Aku menjawab dengan bangga. Ia tersenyum.

"Bagus kalau begitu. Teruslah berbahagia, oke?"

"Oke."

Jawabku singkat sambil membentukkan jari seperti huruf 'O'.

"Kalau begitu, hyung aku mau siap siap dulu."

"Baiklah. Hati hati ya. Kalau mau pergi langsung saja. Aku akan ada di kamar."

"Baiklah."

Jin hyung membereskan dan mencuci bekas makan kami. Sementara aku naik ke lantai atas dan berganti baju.

-
-
-

Kenapa aku berdebar begini? Tak biasanya kookie ingin bertemu mendadak.

Aku terus saja berpikiran aneh aneh sambil melajukan mobilku ke tempat yang ditujukan Kookie.

-
-
-

Aku sudah sampai. Sepi sekali. Padahal ini masih pukul 20:15.

Akhirnya aku memarkirkan mobilku, lalu berjalan mencari keberadaan kekasihku.

Saat aku melihat seorang perempuan dan seorang laki laki sedang emh.. Berciuman.

Aku merasa canggung saat berjalan melewati mereka. Untung saja kookie berteriak sambil melambai memanggilku. Aku berlari mendekatinya.

"Hai.."

Sapaku dengan napas tersengal karena berlari. Ia tersenyum sangat manis. Aku sangat berdebar. Ia terlihat sangat manis dengan baju tidur yang agak tipis. Dan rambutnya yang ia angkat ke atas menampilkan lehernya yang sangat mulus.

Tck!

Aku kenapa sih?!

"Sayang? Kamu kenapa sih?"

Tanyanya saat kami sudah masuk ke mobilku. Rencananya kami akan mengobrol di teras rumah kookie. Tapi ternyata terpakai oleh kakak sepupunya. Jadilah kami akan mengobrol di dalam mobil.

"E-eh? Tidak kok.."

Jawabku kikuk. Ia tersenyum memaklumi.

"Hanya saja.."

Aku menggantung ucapanku, ia menaikkan alisnya.

"Jangan keluar dengan baju setipis itu, baby"

Ceplosku. Dia tertawa dan mencubit pipiku.

"Iya.. Maaf ya."

Aku mengangguk dan mengusap rambut halusnya. Lalu hening.

"Ehm.. Apa ada yang ingin kau bicarakan, baby?"

Tanyaku memulai pembicaraan.

"Tak ada. Hanya saja.. Bukankah kita sudah lebih dari 2 tahun berpacaran?"

Aku mengangguk.

"Lalu?"

"Ehm.. Aku.."

"Katakan saja, baby."

Desakku.

"Aku hanya ingin seperti orang lain, Tae."

Ucapnya. Aku tahu saat ia merajuk, ia akan lupa panggilan sayangnya.

"Maksudmu?"

Tanyaku masih bingung. Ia menatapku dalam.

"Sudah lebih 2 tahun. Tapi aku seperti tak memilikimu."

Ucapnya lagi. Membuatku tambah bingung.

"Katakan, baby. Aku bingung."

Ucapku terus terang.

Ia menarik napasnya. Lalu menangkup kedua pipiku.

"Kiss me."

Ucapnya seduktif.

Tbc

Ga suka? Ga usah banyak omong. Tinggal jangan dibaca aja. Oke?

Vote?
Comment?

INCEST •KSJ •KTHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang