"Hah? Cidera ankle?" Gue bertanya dengan tidak percaya saat mendengar suara Sunwoo di ujung sana menggebu-gebu. Tapakan kakinya, yang kayaknya lagi lari, seakan-akan menguatkan alibi kenapa gue nggak mendapati Hyunjin di indekos dan juga kampus. "Heh, nggak usah bercanda. Omongan itu doa."
"Beneran bangsat. Ini panik banget gua tolong."
"Ih lo dimana sekarang? Biar gue susul."
Setelah menyebutkan alamat rumah sakit, gue langsung memesan ojek online dan bergegas.
//
"Perasaan kemaren baik-baik aja???" tanya gue bingung sambil mondar-mandir.
Setelah tau cerita aslinya, bahwa Hyunjin hari ini kembali main futsal di futsal center deket kampus, Hyunjin nggak sengaja jatoh katanya. Posisinya sedikit mengkhawatirkan, kaki bagian bawahnya, kisaran mata kaki sampai telapak—apa, sih, gue nggak tau itu namanya sendi apa karena duhhh nilai Biologi gue yang dulu selalu remedial—jatoh dengan keadaan kaki sampingnya yang menopang. Tolong, gue juga gemeteran dan bingung dong ini.
Belum lagi kebodohan kawanannya Hyunjin adalah refleksnya yang langsung menelepon ibunya Hyunjin dan beliau lagi dalam perjalanan.
"Ah paneekkk gue. Pulang ajalah gue, takut ketemu nyokapnya." Gue bahkan udah keringet dingin sedangkan telapak tangan gue meremas telapak tangan Sunwoo—suatu kebiasaan yang terjadi kalau gue gugup atau demam panggung.
"Nggak. Pokoknya lo harus nemenin gue buat ketemu nyokapnya Hyunjin."
"Nggak bisa. Gue takut anjir, nyokapnya nyeremin," ujar gue sambil menarik tangan dan bener-bener hendak untuk hengkang dari rumah sakit karena takut. Setakut itu.
"Nggak. Lo gak boleh pergi."
"Lagian lo dan temen-temen lo kenapa bego banget sih malah ngehubungin nyokapnya. Telepon tukang urut kek biar dipijit dulu," jawab gue dengan kesal dan sedikit menaikan oktaf suara.
"Hyunjin dan keluarganya nggak pake begituan, just in case kalo lo lupa."
Ah iya, gue lupa.
//
Setelah sukses melewati beberapa pertanyaan wawancara untuk mengapply apakah gue masih pantas untuk menjadi pacar dari anaknya dan Sunwoo yang juga menjawab beberapa pertanyaan wawancara mengenai berfaedah atau tidaknya eksistensi dirinya bagi Hyunjin, gue dan Sunwoo selamat.
Gue bernazar kalau Hyunjin pulih dua kali lebih cepat, maka akan lebih cepat juga gue akan memaki-maki dia karena hal yang hari ini terjadi.
Tapi, begitu pintu ruangan di buka dan gue mendapati Hyunjin berjalan dengan kaki bagian kiri yang terangkat beberapa senti sehingga tidak bisa menapak tanah, seluruh keinginan jahat dalam pikiran gue langsung sirna.
"Tante titip Hyunjin, ya."
Kepala gue auto mengangguk mendengar pesan itu dari Ibunya.
Gue sadar kalau hari-hari setelah hari ini, kesulitan terbesar Hyunjin adalah berjalan.
//
"Gua nggak apa-apa."
Setelah pulang diantar mobil orang tuanya, sebagai oknum yang membuat Hyunjin menjadi seperti ini, Sunwoo dan Felix membopong Hyunjin dengan Felix memegangi bagian bawah kedua lutut Hyunjin sedangkan Sunwoo menahan massa tubuh Hyunjin bagian atas.
Dengan tambahan sedikit bantuan dari Jisung yang merupakan teman satu indekos Hyunjin.
"Lo nggak bisa jalan. Itu berarti lo kenapa-kenapa," jawab Sunwoo.
Hyunjin menghela napasnya lalu melirik ke arah gue. Gue membuang muka, masih nggak berani buat liat wajahnya yang terkesan seratus kali lipat lebih lelah dari biasanya.
"Lo berdua pulang aja."
Gue mendongak. Melihat dan mendapati kalau 'berdua' yang Hyunjin maksud itu ditunjukkan untuk Felix dan Sunwoo. Gue nggak termasuk.
"Nanti lo butuh apa-apa giman—"
"Gapapa. Dia bisa bantu gua," jawab Hyunjin dengan jari telunjuk menudin ke arah gue. Gue menghela napas dengan pelan.
Nggak mungkin kan di momen seperti ini gue meninggalkan Hyunjin begitu aja walaupun rasanya pengen?
"Yaudah. Kalo ada sesuatu telepon gue atau Felix aja."
"Hm."
Setelah berbincang singkat, keduanya benar-benar meninggalkan indekos Hyunjin. Hanya menyisakan gue yang sedang berdiri di depan lemari baju Hyunjin, sedangkan Hyunjin sendiri lagi bersandar di sofa ruang tengah.
"Lu ngapa main futsal lagi sih?" tanya gue, sedikit marah-marah. Sambil menunggu dia menjawab, gue pergi mengambil segelas minum untuk Hyunjin.
"Ya, orang diajakin. Masa nolak," jawabnya enteng.
"Main csgo aja kan bisa tuh sama anak mesin, banyak yang ngajakin juga kan."
"Lo marah-marah juga ngga bakal bikin kaki gua balik kayak semula," sambungnya dengan sedikit intonasi kefrustasian. Gue mendesah pelan, mengiyakan.
Hari ini, gue kayaknya akan berakhir disuruh-suruh lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Pacar Anak Teknik | Hyunjin [ON-HOLD]
Fiksi Penggemar"I don't do romance," he said. ©PRESENSI, 2018