15 Agustus 2017
Hari ini aku menemukan sesuatu yang berbeda dari diriku. Sesuatu yang jika dipikirkan adalah hal yang melelahkan tetapi itu tak berlaku untukku. Sesuatu yang pertama kali ku rasakan. Jatuh cinta. Aku menyukainya, hatiku yang mengatkannya.
Kau ingin tahu apa yang melelahkan namun tak berlaku padaku? Menatapnya. Aneh sekali. Tapi itu menyenangkan, sungguh.
Aku menyukainya, tapi aku tak pernah sekalipun bicara dengannya. Dia cuek dan Egois. Sama sepertiku. Dia pintar, tak heran jika dia selalu menjadi mahasiswa terbaik se-fakultas. Biar kuberi tahu namanya. Namanya Byun YooChan.
27 Januari 2018
Apakah aku boleh berteriak? Aaahh senang sekali rasanya. Entahlah, aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku saat ini. Kau ingin tahu apa yang membuatku senang?
YooChan mengirimiku pesan. Sebenarnya aku ingin bertanya darimana Ia mendapatkan nomorku, tapi tidak jadi. Kami membicarakan hal-hal ringan, yaah walaupun tugasku harus kutunda demi berbalas pesan dengannya. Hei, bukankah itu menyenangkan, saat seseorang yang kau suka bahkan kalian sama sekali tak pernah menyapa tiba-tiba mengirimi pesan dan mengobrol lama dengannya? Sepertinya dunia sedang berada di pihakku sekarang. Konyol sekali.
30 Maret 2018
Hello my diary, sudah lama aku tidak menulis di kertas putihmu. Boleh aku cerita? Hahaha tentu saja boleh, bukankah aku selalu bercerita kepadamu dulu? Yaahh walaupun jarang.
Kami pandai sekali ya, maksudku aku dan YooChan. Malamnya kami mengobrol banyak walaupun lewat ponsel tapi saat di kelas kami bertingkah seperti tak ada yang terjadi.
Berharap? Ya, aku berharap YooChan menyapaku terlebih dahulu dan mengobrol hal seru seperti yang sering kami bicarakan di ponsel. Walaupun Hyewon pernah berkata padaku bahwa terkadang perempuan harus memulainya terlebih dahulu. Tapi sepertinya itu tak berlaku padaku. Menyebut nama YooChan saat ada teman-teman sepertinya sangat sulit untukku. Penyebabnya? Biarlah menjadi rahasia.
6 April 2018
Mataku tak percaya lelah untuk menatap ke arah bangkunya. Sampai-sampai aku jadi mengetahui apa yang belum Ia kerjakan, tugas misalnya. Hari itu Ia bertanya padaku besok ada tugas apa, dan aku mengingatkan padanya tentang tugas yang sama sekali belum Ia kerjakan padahal punyaku sudah lama dikumpulkan pada dosen Kim. Katanya aku seorang cenayang. Padahal, aku mengamatinya dari jauh. Aku juga tidak berharap Ia tahu, karena itu keinginanku sendiri.
7 April 2018
Katanya dia menyukai seorang gadis. Wow. Aku tak menyangka kulkas bisa menyukai seseorang. Ciri-cirinya sama sepertiku. Bagaimana jika itu aku? Uuhhh bolehkah aku berharap? Semoga saja.
8 April 2018
Aku sudah mengetahuinya dan aku baru menyadari bahwa ada gadis lain yang bersifat sama sepertiku, Han SoYoung namanya. Ternyata SoYoung lah yang YooChan sukai selama ini.
Ahaha aku ingin mentertawai hidupku sekarang? Kini aku tahu bahwa berharap tidak baik untuk kesehatan, jantung terutama. Jantungku rasanya ditimpa benda berat tak kasat mata, sakit sekali, sungguh. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menghirup napas dalam dan menerima keadaan. Menerima bahwa aku dan YooChan hanya sebatas teman. Teman lewat ponsel maksudnya, karena di kehidupan yang sebenarnya, kita tak pernah mengucapkan bahwa kita berteman. Aaahh bodoh sekali. Sebenarnya apa yang kuharapkan? Bahkan aku menginginkan sesuatu pada hal yang tak ingin kumulai duluan. Aku bodoh bukan?
11 April 2018
Biarlah aku dan YooChan menjadi teman walaupun lewat ponsel, itu sudah cukup. Biarlah begini, ini sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Dan yaahh sepertinya kau akan menjadi benda berdebu buku diary ku, karena nyatanya aku tak akan pernah membukamu dan menulis sebuah kata di lembar putihmu lagi karena kisah cinta dalam diamku sudah berakhir sampai disini.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Beautifull Day to Meet You
ContoHari yang indah untuk bertemu dengan seseorang dan menciptakan momen berharga bersamanya. - Antologi Cerpen -
