Chapter 5

230 39 4
                                    


BODY SCAN


Sarapan sudah dihangatkan, agak asam. Bisa dibilang makanan sisa kemarin malam namun mana bisa mereka mengatakan hal itu pada seorang bapak tua baik hati yang sudah menolong keduanya?

"Bagaimana luka-lukamu?" tanya sang bapak, menyuap bubur nasi kedalam mulutnya.

"Ah, rasanya jauh lebih baik," Rena meregangkan tangannya, memberikan raut wajah cerianya sebagai balas budi kecil.

Mengecap sesaat, "Sejujurnya saya sedikit khawatir- lihat dia, kurus kering begitu! juga tidak ada orangtua -penasaran, apa benar tidak ingat?"

Rena mengangguk kosong. Tiap kali ditanya seperti itu rasanya ia merasa bersalah, tentu sudah merepotkan orang lain sampai seperti ini.

"Sama sekali? Saya pikir yang begitu hanya ada di teve, ah, dunia sudah gila atau aku saja yang terlalu tua?" ucapnya disusul tawa kemudian. Terdengar seperti tawa bajak laut di telinga Minkyung, tidak, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.

"Oh ya, maaf saya tidak bisa mengantar sampai terminal bus, rasanya saya tidak cukup kuat berjalan sejauh itu,"

Minkyung menggeleng cepat, "justru kamilah yang harusnya meminta maaf sudah merepotkan bapak,"

"Repot apa? Saya tua, disini sepi, gereja hanya ramai di hari-hari tertentu, saya lebih memilih di panti bersama anak-anak ketimbang hanya bersama tuhan disini," mengambil jeda, sang bapak meneguk air dalam gelas, "Takut mati," sambungnya lagi.

Selera humor yang berbeda, Rena ikut tertawa meski sedikit dipaksakan.

Beberapa saat di meja makan dengan perbincangan, keduanya pun merapikan diri dan kini berpamitan di ambang pintu. Tidak, sang bapak tidak mau mereka mencucikan piring, itu sudah tugasnya sendiri, katanya.

"Kalau nanti masih ingat dengan saya, kembali lagi kesini ya, nanti kita bisa bermain catur atau kalau mau menengok panti asuhan kami yang tidak jauh dari sini," itu yang diucapkan sang bapak sebelum keduanya melangkahkan kaki dari tempat itu.

"Ingat ya, salam pada ibumu!"




×××





Usai mengecek tabel jadwal keberangkatan, masih cukup waktu, keduanya jadi menunggu. Menyilangkan kaki, Minkyung menghitung beberapa lembar won ditangannya. Kemudian memberikan setengahnya untuk Rena -yang kini menatapnya bingung.

"Kenapa diberikan padaku? Bukankah bapak itu memberi untukmu?"

"Untuk kita, dengan ini kau bisa pergi ke kantor polisi dan melapor, ceritakan saja apapun yang masih tersisa -atau bahkan jika tidak ada yang tersisa, mereka tetap akan memprosesnya," mungkin?

"Tanpa perlu pengacara?" tanya si gadis Kang masih dengan nada bingung. Minkyung mengangguk, "nanti kalau ada apa-apa, kau bisa datang ke kediamanku di Hongcheon, aku ada disana -setidaknya untuk sementara waktu,"

"Baiklah, terimakasih,"

Kalau boleh jujur, bagaimana mungkin Minkyung tega meninggalkan gadis itu di terminal bus seperti ini? Tapi disisi lain, ia juga punya tujuannya sendiri. Toh lagipula jika melapor, gadis itu akan berada di tangan yang aman, bukan?

Atau setidaknya itu yang Minkyung pikirkan.

Lagipula apa yang bisa ia lakukan untuk menolongnya selain hal ini? Gadis itu bahkan bukan urusannya.

Stranger in a Dream | Minkyebin✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang