Once in a blue 🌚

10 5 1
                                    

      Warna biru nampak menghiasi seisi gor malam ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


      Warna biru nampak menghiasi seisi gor malam ini. Butuh perjuangan yang lumayan berat untuk mendukung tim basket sekolah ku. Kami diharuskan untuk berteriak, bernyanyi dan bergerak secara serentak. Namun, kuharap semua hal itu akan membuahkan hasil nantinya.
   
       Setelah tim basket putra kami selesai bertanding, aku dan teman-teman tampak letih duduk diantara keramaian.

Tiba-tiba Zara menyentuh lenganku.
Zara: " Yayaa aku sama Tama pulang duluan, gapapa kan? Soalnya mau sholat di masjid dulu. "
Aku pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Zara.
Halya: " Yaudalah gapapa kalo kalian mau balik. See youu, makasih udah mau temenin nonton doi tanding. "

      Yapp, niat awal aku nonton acara ini hanyalah untuk melihat sang pujaan hatiku, Alan. Dia anak basket yang bertubuh tinggi, aku menyukainya karena sikapnya yang sangat berbeda dari cowo lainnya. Walaupun tingkahnya agak konyol, itulah yang membuat hatiku luluh. Dia teman sekelasku saat SMP, dulu kami sangatlah dekat. Namun, perasaan ini mulai muncul saat mau kelulusan SMP. Sehingga aku merasa sedikit kesal, karena perasaan itu datangnya terlambat.

Lanjut dengan obrolanku dengan Zara.
Zara: " Apa sih yang ngga buat temenku yang kayak bayi ini... " ( Tama pun terkekeh mendengar apa yang telah dikatakan oleh Zara ).

      Sekarang aku pun duduk sendirian diantara keramaian. Tiba-tiba ada dua orang dari kejauhan yang memanggilku. Mereka berlari secepat kilat untuk bisa duduk disamping ku. Sudah ku kira, mereka adalah temanku Ira dan Erin.

Ira: " Haii Yayaa, kok sendirian? Hehe" ( Tanya Ira kepadaku )
Halya: " Hmm... temen-temenku udah pada balik"
Erin menyaut
Erin: " Ohh gituu. Kita keluar aja yuk, mau beli minum abis itu kita balik aja! "
Aku dan Ira serentak menganggukkan kepala seperti anak kembar saja.

      Sebelum aku beranjak dari tempat duduk ku, aku melihat Alan bersama Bayu berdiri tak jauh dariku. Aku mencoba mengalihkan pandanganku. Aku bingung mengapa dia tak memanggilku, padahal aku berada di tempat tak jauh darinya.

      Aku mengucap dalam hatiku " Lupakan Yaa, mungkin dia memang tidak melihatmu "

      Kami pun segera ke pintu keluar. Di dalam dan di luar sama saja. Sama-sama ramai kerumunan orang. Tak jauh dari pintu keluar, aku melihat ada kumpulan cowo ber jersey putih. Aku penasaran, mereka dari sekolah mana.

     Akhirnya aku memfokuskan pandangan ku kepada cowo yang sedang mengangkat telepon itu. Dia tampak sedikit bingung. Aku baru menyadari dia mempunyai wajah yang manis bak popcorn karamel.

Aku langsung menarik lengan kedua teman ku.
Halya: " Coba lihat cowo yang sedang menelepon itu, dia tampak manis dengan jerseynya itu. "
Ira: " OHH, yang putih itu. Yaa kamu benar. Tapi itu bukan tipe aku hehehe. "
Erin menyaut
Erin: " Apaansih Yaa, terus doi kamu yang barusan tanding tadi gimana?? "
Aku hanya membalas kalimat Erin dengan senyumanku.

      Tak lama kami berbincang, ternyata cowo manis tadi telah pergi bersama kumpulannya. Aku merasa sedikit sedih karena tak sempat tahu namanya.

Aku mengeluh
Halya: " Yahh, dianya pergi, kalian sihh... "
Ira dan Erin pun menyangkal
Ira & Erin: " Lho kok salah kita. Tenang Halya dia pasti bakal kembali ke sini lagi."

      Ternyata apa yang dikatakan mereka benar. Kumpulan cowo itu kembali datang untuk sekedar membeli minum.

Pasti dilanjutin, kalo uda banyak yg baca sm like ❤️👍🏻

CaramelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang