Happy anniv Josh

7 1 0
                                    

6 hari belakangan ini aku selalu memikirkan tentang hari ulang tahun jadianku dengan Dinda. Tapi entah mengapa, saat harinya tiba aku malah lupa.

"Josh. Happy anniv:)"
Begitu isi pesan yang kudapat dari dinda. Tepat jam 23.59 di hari anniv kami. Aku mengerti kalau sudah ada ":)" itu tandanya masalah.

Dialing Dinda💕...
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab—"
Kan-_- Dinda ngambek. Aku hampir tidak bisa tidur semalaman gara-gara ini. Aku menelepon dan mengiriminya pesan. Tapi tidak ada respon sama sekali. Aku memutuskan untuk menunggu pagi, aku akan melakukan ritual mendapatkan maaf dari pacar.

Pagi sudah tiba, aku bergegas ke rumah Dinda. Aku membawa hadiah yang sudah kupersiapkan jauh hari.

Setibanya di rumah Dinda, aku mengetuk jendela kamarnya dan menunjukkan secarik kertas yang bertuliskan 'MAAF SAYANG'

Dinda tersenyum dan membuka jendela kamarnya. Ia membiarkanku menyelinap masuk. Dinda masih menggunakan piama dan rambutnya berantakan. Dinda memang selalu seperti itu, tidak pernah menutupi kekurangannya padaku, sepertinya dia sadar dia cantik alami.

Aku memeluknya erat, mengacak rambutnya gemas. Namun tak lama ia melepaskan pelukanku dengan kasar.

"Tadinya aku pikir kamu mau kasih aku surprise pura-pura lupa hari annive kita, eh ternyata kamu beneran lupa. Aku kecewa, Josh" katanya sambil menundukkan wajahnya. Sepertinya dia sudah hampir menangis.

Aku menariknya lagi ke dalam pelukanku.

"Sumpah. Aku ingat, aku malah sudah menyiapkan hadiah untukmu dari seminggu yang lalu. Tapi entah kenapa kemarin aku tidak ingat sama sekali. Maafkan aku."

Bisa aku rasakan anggukan Dinda dalam dekapanku. Aku melepasnya dan memberi kecupan kecil di pipinya.

"Kamu senyum. Manis."
"Ih. Apasih. Aku masih marah tau. Aku masih kecewa juga. Masih kesel juga—"
"Masih cinta. Masih sayang juga kan"
"Ehe" Ia merona. Manis sekali. Melihat wajah Dinda saat ini, aku benar-benar merasa beruntung. Sungguh, apakah aku betul-betul pantas mendapatkan dia? Gadis seperti dia?

Dinda memang mudah marah dan ngambekkan. Tapi ya begini, dia mudah luluh, disamperin, dipeluk dan dicium dapat menyelesaikan semuanya. 

Walaupun begitu, bukan berarti aku sengaja membuatnya kesal, repot juga harus melakukan hal seperti itu 7 kali dalam seminggu.

Aku memberi Dinda gantungan kunci berbentuk hamster. Dia suka hamster. Karena katanya mirip Hoshi, member Seventeen-boy group dari Korea. Dia penggemar berat.

"Aku juga punya hadiah" katanya. Dia berjalan ke arah lemari dan meraih sesuatu di sana. "Ini" lanjutnya.

Aku membuka kotak kecil yang telah dibungus sedemikian rupa. Dia memberiku jam tangan. Aku pernah lihat jam tangan itu di situs belanja online. Harganya sekitar 2 juta.

"Dinda, terimakasih. Tapi lain kali jangan membelikanku benda mahal seperti ini"
"Kamu tidak suka? Padaha aku sudah susah mendapatkan jam tangan itu" Dia ngambek, lagi. Ya ampun.
"Suka kok." Aku berhenti sejenak. Aku bisa melihat kekesalannya saat ini. Aku ingin menenangkannya- tapi mataku tertuju pada jam yang menempel di dinding tepat belakang Dinda. 20 menit lagi kuliahku dimulai.

"Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Mau kuliah" kataku sambil membelai pipinya.
"Yasudah, pergi saja" Suaranya tidak keras. Tapi sangat mencekat.
"Dinda sayang. Aku mau kuliah, kamu adalah salah satu alasan aku rajin kuliah. Supaya aku cepay lulus dan bisa kerja cari uang untuk membalas semua pemberian kamu."
"Jadi kamu nyalahin aku?" Suaranya lembut. Tapi tidak dengan tatapannya yang menusuk sampai ke tulang.
"Ya ampun, nggak. Aku sayang kamu. Aku mau ngasih kamu barang-barang mahal. Aku mau ngasih kamu yang terbaik. Aku mau memperlakukan kamu seperti kamu memperlakukan aku"
"Aku tidak butuh itu. Aku bahagia dengan Josh yang sederhana, yang hanya bisa membeli gantungan kunci. Kita sudah berulang kali membahas ini, Josh. Aku ini pacar kamu. Bukan orang lain yang harus kamu balas pemberiannya."
"Iya-_- maaf"
"Aku maafin. Tapi kamu nggak boleh gitu lagi. Kamu nggak boleh protes apapun yang aku kasih ke kamu. Emang aku pernah protes soal pemberian kamu? Enggak kan?"

Sekarang aku terjebak. Harus mendengar ocehan Dinda yang selalu diulang tiap kali kami bertengkar.
Di saat seperti ini, aku hanya bisa diam. Membiarkan waktu berlalu seenaknya. Melupakan dosen kejam yang akan mengabsen dan memberi tanda alpa pada namaku.

"Ya sudah. Kamu kuliah sana"
"Udah telat, sayang"
"Usaha dong. Kamu pake mobilku. Masih ada waktu 7 menit. Nanti aku doain dari sini supaya dosennya sakit perut dan telat masuk kelas"
"Yang. Kamu lucu deh."
"Yang itu siapa?"
"Maksud aku sayang."
"Iya makasih. Aku memang lucu. Aku sayang kamu. Hati-hati"
-cup~ eh di kasih cium aduh senangnya dalam hati.

RELATIONSHIT GOALSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang