Mama, ini aku.
Engkau selalu menceritakan kisah-kisah cintamu padaku. Aku senang mendengarkannya. Seakan aku juga akan mengalami hal yang sama.
Tidak. Kita tidak akan sama. Cerita kita pasti berbeda.
Lalu aku bercermin, menatap seorang manusia yang katanya "sempurna". Tidak, dia tidak sempurna. Dia tak sesempurna dirimu, mama.
Dia sama sekali berbeda denganmu.
Dia orang yang kasar, sedangkan engkau lemah lembut.
Dia orang yang pemalu, sedangkan engkau mudah sekali bercanda.
Dia orang yang egois, sedangkan engkau begitu pengertian.
Dia orang yang tak cukup cantik, sedangkan engkau begitu memikat hati.
Ingin sekali rasanya tak ada cermin. Namun apa daya, hanya angan-angan semata.
Engkau selalu mengatakan bahwa dia cantik. Mungkin, engkau ingin mengingatkan dia agar selalu bersyukur atas sempurnanya dia.
Kenyataannya berbeda. Sehingga, dia selalu berkeluh kesah kepadamu, mama. Kesal akan kenyataan yang ada. Dia bilang dia tidak cantik. Sikapnya ataupun fisiknya. Tidak sama sekali. Tidak ada yang cantik darinya.
Jangan begitu! Lihat! Mamaku berlinang air mata. Itu salahnya!
Mama begitu perhatian padanya. Membelikannya peralatan kecantikan agar dia dapat bersyukur atas ciptaan Tuhan.
Tiba-tiba, dia berhenti menggunakan benda-benda itu. Dia bilang dia tak bisa begini terus. Dia tak bisa membohongi orang lain bahwa dia tak sempurna. Dia berhenti karena dia pikir itu semua sia-sia.
Aku kesal dengannya. Dia membuat mama bersedih lagi.
Dia tak pernah melihat betapa susahnya mama membanting tulang untuk membelikan semua itu. Dia egois.
Aku tau. Egois.
Tapi, bisakah mama menerima diriku ini? Bisakah mama tak membandingkan diriku dengan mama?Aku tak sama. Aku memang tak sesempurna mama. Bisakah? Bisakah engkau menerimaku?
Aku sedang memperbaiki diri. Jadi, kumohon mama menerimaku sambil melihat berjalannya waktu menuju kedewasaan. Nasehatilah aku sebagaimana kalimat nasehat, bukan perbandingan. Jika tak ada yang berubah dariku, engkau boleh menghinaku. Engkau boleh mengabaikanku. Terserah.
Kerna memang dia itu egois.
Hati dia kotor, akalnya mengerti namun, tak sanggup berungkap rasa.
~Mama, ini aku~

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati untuk Akal
RandomHati ini begitu keras Hati ini begitu egois Hati ini begitu kasar Hati ini begitu rapuh .... Hingga, aku tak mampu merasakannya. Sakit ini menggangguku, Ibu.