The day after - Part 2

14 1 0
                                    

Hari-hari selanjutnya, nampak tak ada yang berbeda dalam hidupku karena, aku sedari awal memang sudah bersiap untuk menghapus kamu dari hidupku. Hidupku tetap sempurna, banyak teman, IPK ku juga semakin menjulang. Hidupku memang sesempurna itu.

Kemudian, tiba saatnya dimasa aku melalui waktu terburukku. Dimana semua orang menyalahkanku, dan aku merasa tidak berdaya, dan menerima bahwa " i am a piece of shit. Indeed".

Jikalau ada kamu, kamulah satu-satunya yang akan tetap mendukungku dan memberikan saran dalam bentuk yang mudah kuterima, sehingga aku menyadari bahwa aku bersalah, namun termotivasi untuk memperbaiki diri. Namun kali itu, orang yang biasa ku sebut sahabat, entah pergi ke dunia mana, aku tidak tahu. Dan yang jelas, saat itu tidak ada kamu.

Hal-hal buruk itu dapat aku lalui dengan baik, tentu saja sekali lagi aku bangga pada diriku sendiri. Namun, aku rindu kehadiranmu.

Lambat laun, aku mulai terbiasa dengan ketidakhadiranmu. Aku semakin kuat, dan semakin bisa berdiri dengan kedua kakiku sendiri. Aku mulai bisa menyadari bahwa, orang-orang yang datang ketika aku senang harus aku waspadai dan tidak patut aku andalkan. Karena belum tentu, mereka ada disaat aku sedang terjatuh dikemudian hari. Untuk itu, aku semakin paham bahwa tidak ada yang bisa aku andalkan selain diriku sendiri.

7 tahun. Kita tidak pernah berbicara, walaupun semudah itu menyapa di sosial media. Aku terlalu merasa rendah melihat diriku sendiri, dan menganggap, orang yang pantas bersanding dengan mu bukan aku. Namun, sejujurnya dalam 7 tahun itu, aku rindu.

Aku semakin kuat, namun aku tetap membutuhkan mu. Bukan untuk menguatkan, tapi untuk melengkapiku. Bukan untuk membiayai, tapi untuk menemani hidupku. Karena aku, bisa membiayai diriku sendiri.

Berhubung aku semakin menua, aku ingin segera menemukan pendamping hidupku. Dan menurutku, entah mengapa, banyak sekali wajah-wajah tampan berlalu-lalang di depanku, entah rekan sesama dokter, maupun pasien yang muncul setiap hari di hadapanku, namun aku tetap tidak tertarik dengan mereka. Aku hanya tertarik tentang, 'apakabar kamu, dan apakah hidupmu baik-baik saja tanpa aku? Karena hidupku tidak'.

Aku beranikan untuk menelpon mu, namun selalu tidak tersambung, "oh dia ganti nomor deh, tapi aku gak punya juga i nomornya", kata sahabat kita semasa sma di Jogja. Begitupula dengan sosial media. Ternyata tidak ada satupun akun mu yang aktif. Aku semakin rindu, dan semakin bertanya, "kemana kamu?".

Pukul 6 sore di satu hari di desember 2018, di malam sabtu, ketika selesai dari pekerjaanku, aku mengunjungi kedai kopi yang paling aku suka disalah satu sisi di kota Bandung. Di seberangku, Aku melihat, sesosok, tinggi, berkulit coklat, menggunakan setelan jas sedang menyeruput kopi sambil menatap monitor laptop yang menampakkan grafik yang aku tidak tahu apa itu.

Aku tidak berkata kata, dan bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang memandangi mu sambil meletakkan wajahku pada kedua telapak tanganku.

Pada detik yang lain, mata kita bertemu, satu, dua, tiga, mataku membesar,kita saling mengenali satu sama lain. Aku tersipu malu, namun tidak denganmu yang hanya melempar senyum manis yang selalu aku rindu. Iya, itu kamu. 

Find my way back to youWhere stories live. Discover now