Keputusan - Part 1

14 1 0
                                    

Setelah bergumul dengan perasaanku selama beberapa tahun, pada akhirnya, aku dengan berani mengambil keputusan.

"kita akhiri saja ini semua"

"lagi? Itu lagi yang kamu bilang? Ada apa?"

Hanya dua kalimat itu yang bisa aku ingat dari kejadian 7 tahun yang lalu. Dimana aku masih menempuh pendidikan sarjanaku di Bandung, dan kamu yang masih berusaha menggapai gelar diploma di jakarta.

Tidak ada alasan spesial mengapa aku begitu berani mengakhiri kisah 5 tahun yang tidak pernah berhenti ini.

Saat aku masih remaja,seringkali aku melihat status facebook, "aku melepaskan mu karena aku tidak cukup baik bagimu".

Bullshit.

Aku pikir, yang mereka katakan itu sekedar omong kosong. Sekedar dusta yang sengaja dibuat untuk menutupi kecurangan mereka yang lain.

Namun, hari itu, desember 2011, aku merasakan bahwa memutus hubungan karena pihak lain terlalu baik, bukanlah sebuah bualan belaka.

Menurutku, kamu pantas mendapatkan orang lain, yang jauh lebih baik daripada aku yang selalu ngambek, pemarah, gak asik, dan materialistis sebagai wanita.

Aku ingat, ketika dulu, aku pernah mengatakan "kalo mau nikahin aku, mas kawinnya seperangkat alat sholat aja. Tapi, sebelum nikah, belikan aku rumah yang bersertifikat dengan namaku. Oh iya ditambah mobil ya"

Disaat teman laki-laki ku di kampus mendengar hal seperti itu keluar dari mulutku, yang mereka bilang adalah "ih sumpah? yaAllah semoga gue bukan jodoh lu ye. Gile lu materialistis bgt jadi cewek. Asli gua ga akan sanggup".

Disisi lain, kamu malah berkata "InsyaAllah, siap.. aku akan berikan apapun yang terbaik untuk kamu. Kamu itu gak materialistis, tapi realistis. itu tugasku untuk memberikan kehidupan yang layak untukmu, doakan aku ya"

Saat itu, hanya kamu yang mampu berkata seperti itu. Disaat laki laki lain menilaiku materialistis, namun kamu mendukungku.

Semakin waktu berlalu, semakin aku tau bahwa kamu sangat sangat baik dan terlalu sempurna di mataku, dan aku sangat sangat buruk di pikiranku sendiri.

'Aku terlalu buruk untukmu'. Kalimat itu yang selalu terngiang di kepalaku. Dan semakin aku jatuh cinta kepadamu, aku semakin merasa bersalah, bahwa tidak seharusnya, lelaki sebaik kamu, ada di sampingku.

Jadi itulah mengapa, di akhir hubungan kita, aku seringkali meminta putus, namun sering juga aku urungkan, karena alasan egoisku "aku terlalu cinta kamu". Dan pada akhirnya, aku lega. Aku mampu mengalahkan egoku, untuk melepas kamu. Dan aku bangga akan hal itu. 

Find my way back to youWhere stories live. Discover now