Chapter - 1

8K 115 11
                                    


"Lo yakin mau jual diri, Die?" tanya Arumi sambil mengepulkan asap rokok di depan wajah sahabatnya itu.

Jodie terisak,"Gue yakin, Ar. Lo tau gue butuh duit, adek gue perlu makan."

Arumi melempar putung rokoknya sebelum melompat menuruni washtafel diskotik bintang lima kota metropolitan, Jakarta.

Alunan musik EDM yang memekakan telinga terdengar ketika mereka memasuki dunia nista, atau yang lebih dikenal dunia malam.

Gadis bermata hazel dengan dress mini potongan dada terbuka itu berjalan mendekati lelaki separuhbaya, langsung berpangku dan melingkari lengannya di bahu lelaki itu sebelum berbisik.

"Malam,Om.." sapa Arumi sebelum menjilat lembut pelipis lelaki yang disapanya om tersebut.

Lelaki tersebut memalingkan wajah sambil mengeratkan pegangannya pada tubuh ramping Arumi.

"Apa sayang? duit? " tanya lelaki itu sambil tertawa.

Arumi mengedipkan sebelah mata,"30 juta?" 

Lelaki itu menaikkan alisnya,"30 juta?" ulangnya.

"Masih rapat om, keset." goda gadis berambut coklat terang itu.

"Bisa jilat?" tanya Om tersebut sambil membuat aksen di tangannya.

"Bebas, diputar juga boleh om."

Arumi menaik-turunkan bokongnya saat menyadari pria tua di depannya sudah turn on.

"Arumi shh..stop- jangan biarkan om keluar disini." pinta lelaki itu.

Arumi tertawa, dasar lemah, gitu aja udah crit. Gadis itu mengedipkan Jodie yang terlihat tegang disebelahnya.

"Jadi gimana om, deal?" tanya Arumi.

****

"Akhh...iyahh...ahhh..." desah gadis itu menikmati hujaman demi hujaman menghajar bagian sensitifnya.

"Sayang..ahh.." desah lelaki itu.

"lebih cepat sa-ahhh!!" desah gadis itu semakin gencar naik-turun menggerakkan bokongnya menyeimbangkan ritme lelaki paruhbaya diatasnya.

"Aku...ahh..ahh..ahhhh..crtt.." desah lelaki itu sebelum tumbang di sebelah tubuh telanjang Jodie.

Gadis itu menetralisir nafasnya yang tercekat,sebulir airmata mengalir disudut pipinya. Dia benar-benar merasa dirinya sangat kotor saat ini juga.

"Sayang.." ucap Om sambil memainkan payudara gadis yang telah kehilangan perawannya itu.

"Akh..udah om." rintih Jodie saat lelaki itu mengigit daerah miliknya dengan keras.

Aktivitas lelaki tersebut terhenti saat mendengar bunyi telepon di meja sebelah ranjang hotel mewah itu. Om itu menjauh dan mengangkat telepon.

Jodie bangkit dari ranjang kemudian berjalan sambil meringis, ia merasa pedih dibagian vitalnya. Memasuki kamar mandi, membersihkan diri dengan air dingin sebelum bergegas keluar dari kamar panas itu.

"Jodie." ucap Arumi ketika melihat wajah pucat Jodie muncul dari  balik pintu kemudian menghambur memeluk sahabatnya itu.

"Gue ngerasa...gue ngerasa jijik dengan diri gue sendiri, Ar.." lirih Jodie.

Vanessha membuang putung rokoknya saat melihat adegan memilukan di depannya.

"Jodie, lo nggak perlu ngerasa begitu. Kita semua sama, kita semua perlu duit untuk hidup." ucap Vanessha mencoba menghibur.

Arumi melonggarkan pelukan lalu menatap mata sembab Jodie,"Udah, sekarang lo nggak perlu sedih lagi. Mending kita minum, ya nggak? " hibur Arumi sambil tertawa.

Vanessha mengangguk setuju, Jodie melirik kedua sahabatnya itu.

Mereka menuruni hotel dan melaju ke club malam terdekat. Suara berisik tawa mereka memenuhi koridor club ketika memasuki tempat remang tersebut. Vanessha dan Jodie mengambil tempat duduk sementara Arumi memesan minuman.

Sekian detik kemudian langkah Arumi terhenti saat melihat lelaki misterius beberapa langkah di depannya, meliriknya dengan tatapan tajam mata elangnya, sontak gadis itu langsung memalingkan wajah.

"Eh bego, mana minumannya?" tanya Vanessha nyolot saat melihat Arumi datang tanpa membawa apapun.

"Sorry gengs, gue harus balik duluan." ucap Arumi dengan muka pucat.

lantas saja Vanessha mengerutkan kening, begitu juga Jodie.

"Hah anjir? maksud lo?" tanya Vanessha heran.

"Jodie, maafin gue ya kita rayain nanti." ucap Arumi cepat pada Jodie sebelum berlari menjauhi kedua sahabatnya itu.

"Ar-arumi!" pekik Jodie.

Arumi berjalan cepat melewati koridor sepi itu, sumpah jantungnya berdebar hebat.

Sayup-sayup dan semakin jelas terdengar derap langkah dibelakangnya. Gadis itu gemeter semakin mempercepat langkahnya menuju pintu keluar, tetapi meleset ,tangannya ditarik dengan cepat dan tubuhnya terhuyung menghempas dinding koridor.

Matanya membulat, mulutnya dibekap dengan cepat oleh kedua tangan besar lelaki itu. Arumi hampir kehilangan nafas dan sedetik kemudian tubuh gadis itu tumbang.

****

Ayo Vomment! cerita baru ini hanya untuk hiburan semata, jangan baper okay!

NEXT, scroll ke-bawah!

BAD GIRLSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang