Terbawa

15 1 0
                                    

Di luar cuacanya mendung, semilir angin menyentuh halus permukaan kulitku yang perlahan mulai merasakan dinginnya hawa musim di penghujung akhir tahun. Inilah aku yang tengah berjalan menyusuri keadaan dunia luar. Biasanya, aku hanya akan berdiam didalam rumah tanpa ada tujuan atau rencana yang jelas, namun kali ini aku justru sedang berada di luar. Keadaan sekarang tidak begitu ramai, bahkan terlampau sepi hingga rasanya membuatku takut. Kecemasanku ini mendadak timbul ketika telingaku mendengar sebuah suara dibalik bangunan gedung tua di belakangku.

Kalau saja aku tidak keluar sendirian seperti saat ini, mungkin akan lebih aman bagiku karena masih ada seorang teman yang biasanya akan menenangkanku. Atau paling tidak.. jika kami sama-sama takut, aku masih memiliki seorang teman yang juga akan sama takutnya denganku. Jadi aku tidak akan sendirian seperti ini.

Beberapa menit aku terus berjalan, suara itu bukannya semakin menjauh malah justru semakin mendekat. Aku berusaha tetap tenang sementara irama jantungku berdegup tak karuan dengan kencangnya. Lalu tanpa sadar, aku menahan nafas dan tiba-tiba saja kedua kakiku telah berlari meninggalkan sebuah jejak langkah kaki diatas tanah yang sedikit berlumpur.

Suara itu berubah menjadi lebih bayak, seolah beramai-ramai mengejarku dari arah belakang. Aku, si penakut ini bahkan sama sekali tak ada niatan untuk sekedar menengok kebelakang demi melihat sosok apa yang kini tengah mengejarku. Yang jelas, aku harus segera pergi sejauh mungkin sebelum sosok yang entah apa itu akan dengan cepat mendapatkanku.

Namun setelah lama berlari, jalanan ini seperti tidak ada ujungnya. Aku merasa percuma saja jika daritadi aku berlari. Kenyataannya, jalanan panjang ini bahkan tidak ada titik temu untuk keluar dari jalur. Suasananya pun tambah sunyi senyap, awan yang tadinya keabu-abuan sekarang telah berubah warna menjadi hitam pekat seutuhnya. Mungkin tak lama lagi hujan angin dengan petir besar yang menggelegar akan segera datang.

Aku mencoba berhenti sejenak ketika suara misterius itu tidak lagi kudengar. Anehnya, aku sama sekali tidak lelah, tidak merasa haus atau bahkan mengeluh pun juga tidak. Padahal aku yakin sekali bahwa daritadi aku berlari dengan sekuat tenaga hingga sampai di titik sejauh ini. Ingin rasanya kepalaku menoleh kebelakang, namun batinku seakan memaksaku agar jangan melakukannya. Sampai detik ini, otakku tak bisa berpikir apapun lagi. Keputusan ada pada diriku. Aku tahu dan aku paham, yang aku tak bisa mengerti adalah tentang situasi apa yang sedang kuhadapi sekarang.

Lima detik berikutnya, sebuah bunyi hantaman keras menusuk tajam indra pendengaranku. Telingaku seketika berdengung sakit tak tertahankan akibat dari bunyi yang menyakitkan barusan. Kemudian aku tak dapat melihat apapun lagi setelahnya. Kedua mataku terpejam, tetapi aku yakin aku masih bernafas dan belum mati. Perasaanku campur aduk. Akalku tak bisa lagi memikirkan hal apa yang kini tengah kualami.

Beberapa jam sepertinya telah berlalu. Sebenarnya sejak tadi aku tersadar, hanya saja mataku kubiarkan tetap terpejam. Aku terlalu takut untuk membuka mata. Suara misterius itu mendadak muncul kembali, aku bisa mendengar suara tersebut sekaligus bunyi hantaman seperti bom yang sempat membuat telingaku sakit secara bersamaan. Nampaknya kedua bunyi suara itu seolah ingin agar aku menderita. Kedua bunyi suara itu ingin agar aku merasa kesakitan. Kedua bunyi suara itu mungkin dengan sengaja mengaharapkan agar aku mati.

Apa begitu maksudnya?

Tubuhku mulai panas dingin. Suara itu masih ada, namun bunyi hantaman bom yang mengerikan itu tidak lagi terdengar. Setidaknya aku bisa bernafas agak lega meskipun rasanya mustahil kata itu dapat menggambarkan perasaanku saat ini.

Aku tidak tahu. Aku tidak paham. Aku juga tidak mengerti. Sebenarnya.. ada apa? Mengapa diriku seakan dibawa dengan perasaan cemas dan takut seperti ini? Apakah aku masih berada di dunia luar yang dingin itu? Atau, apakah aku tidak ada dimana-mana pun? Batin serta pikiranku membentuk sebuah ruwetan abstrak layaknya ikatan benang kusut. Sekarang aku bagaikan orang yang sudah tidak mempunyai lagi sebuah harapan.

Sempat terlintas dalam pikiranku agar aku membuka mata, namun lagi-lagi didalam benakku seakan melarangku untuk tidak melakukannya. Setidaknya begitulah yang kurasakan. Jangan dulu membuka mata.

Tiba-tiba, terdengar sebuah teriakan yang begitu amat melengking. Meneriakkan sebuah nama yang amat sangat kukenali.

"TIARAAA~!" Setelah teriakan itu, siraman air yang entah dari mana asalnya tiba-tiba saja membasahi hampir seluruh tubuhku. Sontak aku pun langsung membuka mata. Terlalu terkejut dengan siraman tersebut.

Dan hal yang pertama kali kulihat adalah seorang wanita yang sedang memegang sebuah gayung. Senyuman wanita itu terukir menjengkelkan. Seketika membuat diriku segera tersadar bahwa kejadian aneh tadi itu hanyalah mimpi dari tidurku.

TerbawaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang