Udara siang hari ini cukup terik namun sangat sejuk, banyak angin berhembus menerpa pohon-pohon besar berdaun lebat yang biasa di singgahi oleh alvira dan teman teman nya yang lain.
" Karena apa? " Ucap pira penasaran dengan kelanjutan ucapan Arga yang terhenti.
"Emmm" ucap Arga gugup
"Aduh gue lupa. Maaf ga gue harus jemput sahabat gua sekarang " sergah alvira terburu buru
Alvira pun melangkah dengan sangat cepat ke arah parkir motornya, khawatir ada hal yang tidak bisa di bayangkan oleh sahabat nya itu. Terburu buru mengambil kunci motor yang ada di dalam tas nya . Lalu mulai menaiki motornya dan melesat cepat ke sekolah Syifa .
Setelah sampai sekolah syifa, gerbang sekolah terkunci rapat . Murid murid pun sudah semuanya keluar dan tak ada satu orang pun di sekolah itu . Alvira dengan cepat menelfon Syifa. namun nihil, tak ada 1 pun panggilan yang di jawab oleh Syifa. Alvira pun berusaha menelfon nomor rumah Syifa dan ternyata Syifa belum juga pulang kerumah .
Alvira semakin bingung harus berbuat apa. Iya pun menelfon rifal karena hari ini ia libur kuliah . Namun nihil, tak ada jawaban dari rifal .
" Aduh bikin panik dah ini mah" gerutu pira dengan jantung berdegup kencang dan dengan keadaan bingung .
"Pirraaaa" teriak seseorang di belakang pira membuat alvira menengok.
"Bondan" dan ternyata ia adalah sahabat pira yang ada saat ini.
"Bondan Syifa dimana? Lo ngapain disini" tanya pira dalam keadaan yang panik.
"Gue di suruh jemput Syifa di gudang belakang. Dan kebetulan ketemu sama Lo" ucap Bondan dengan tenang seolah tidak terjadi apa apa.
"Loh ngapain dia di gudang belakang"
"Udah ayoo ikut" ucap Bondan menarik tangan pira berjalan menuju gudang bekas perusahaan yang sudah tidak terpakai .
Alvira pun menurut dan masih bertanya tanya mengapa telfon nya tidak di angkat oleh Syifa dalam batin nya ada yang tidak beres dengan sahabat sahabat nya.
Setelah sampai depan pintu gudang. Sepi tak ada kehidupan, dan tak ada jejak seseorang pun di dalam sana. Karena posisi gudang itu terbuka lebar dengan 2 lantai dan masih ada mesin-mesin tak terpakai dan terbengkalai seperti tak diurusi oleh pihak perusahaan.
"Dan kenapa lu tutup pintu nya" ucap pira sedikit panik karena tidak ada siapapun di dalam sana terkecuali mereka berdua.
"Gua mau perkosa lu masa di buka si. Ya malu lah, tar keliatan" ucap bondan dengan tatapan jail.
"Anjir, Jan macem macem dah lu haha" ucap pira tenang , padahal di dalam batin nya merasakan ketakutan yang besar.
"Kita udah lama sahabatan pir, dari kecil. Masa iya Lo gamau kasih yang gue mau"
" Apa apaan si Lo dan, gausah rese deh"
" Buat apa gue jagain Lo selama ini buat ga Deket laki-laki manapun, biar Lo jadi milik gue lah, yakali udah gue jagain dari kecil gada imbalan nya"
Perlahan lahan Bondan pun berjalan mendekati pira dengan tatapan nafsu yang liar, pira pun perlahan mundur karena tidak mau terjadi sesuatu di antara mereka.
Perlahan lahan mundur dan ternyata tubuh pira terbentur ke tembok . Sudah tak ada celah lagi untuk pira selain naik ke atas tangga. Namun pira tetap pada posisi nya yang sekarang. Dan berusaha mengeluarkan handphone pribadi milik nya.
"Mao nelpon siapa sih hah? Percuma, gada yang peduli sama Lo pir. Disini cuma gue yang peduli dan sayang sama Lo" ucap bondan sangat percaya diri.
"Lo ngedeket gue bakal teriak ya" ucap pira masih berusaha tenang.
YOU ARE READING
Not A True Friends
RandomAku tidak memiliki kisah panjang yang dengan ku ceritakan, semua orang akan terhipnotis dan ingin terjun langsung ke dalam ceritaku. Menurut ku tidak butuh waktu lama untuk membuat cerita, bagiku cukup sedetik tuhan kasih kita udara untuk bernafas p...
