Now and Then?

248 7 5
                                    

Breath.

Samar, Kyuhyun mendengar hiruk pikuk lalu lintas diluar sana. Walaupun ia tau, suara itu hanya halusinasinya saja. Ruangan ini kedap suara, jadi tidak mungkin terdengar suara lalu lintas dari lantai 20.
Beberapa gedung pencakar langit seperti saling berebut menggapai langit yang biru. Kira-kira, berapa tahun yang gedung ini butuhkan untuk mencapai ketinggian ini? Apakah nanti akhirnya akan benar-benar menggapai langit?
Seperti harapan dan takdir yang kini saling silang. Entah apa yang Tuhan rencanakan untuknya, tapi Kyuhyun yakin takdir hari ini memang akumulasi dari harapan-harapan yang tertumpuk diatas sana.
Tanpa sadar, sudut bibirnya menyimpul. Kyuhyun tidak perlu menentang takdir ini, tapi dia hanya perlu untuk menggenggamnya. Agar Tuhan memberikan akhir yang indah untuk dirinya, kelak.

*

"Mereka pasti tidak suka jika burgernya hitam."
Suho bergegas mematikan kompor ketika aroma hangus itu mulai tercium.
"Maaf!" Jessica bergegas menyingkirkan burger yang hampir hitam itu ke piring lain. Dan segera memasak burger yang baru.
"Tidak biasanya kau melamun ditempat kerja seperti hari ini. Ada yang kau pikirkan?" Tanya Suho.
Ya, banyak.
Tapi Jessica tidak akan mengatakannya. Tidak jika itu membuat Suho makin khawatir.
"Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu dan tiba-tiba.. seperti ini." Jessica mendengus kesal, berusaha menyembunyikan pikirannya.
"Kau bisa absen hari ini. Kurasa kau punya sesuatu yang harus kau lakukan?" Kata Suho.
"Ah, tidak tidak. Aku tidak bisa meninggalkan ini." Jessica mencoba menolak.
"Jessica, aku serius. Aku yang memintamu. Tolong?" Lagi lagi, Suho bersikeras.
Jessica akhirnya menyerah dan akan pulang seperti yang Suho katakan.
Jessica merasa Suho terlalu baik, dia terlalu mengerti apa yang Jessica rasakan. Tapi kegalauan Jessica kali ini bukanlah tentang sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin Suho belum tau.

Jessica mampir ke sebuah kafe yang menyediakan es kopi paling enak didaerah ini. Setidaknya itulah yang ia inginkan saat ini. Beruntung, tidak ada antrian saat ini, jadi Jessica memutuskan untuk memesan Capuccino frappe.

"Tolong, satu cappucino frappe."
Aku spontan menoleh kearah suara itu. Suara yang sudah lama tidak kudengar.
Dan dia pun berbalik menatapku.
"Kebetulan sekali." Katanya.
"Ya, kurasa." Jawabku tak yakin.
Aku kembali menatap layar cashier, yang sebenarnya tidak menunjukkan sesuatu yang benar-benar menarik. Tapi, apa lagi yang bisa kualihkan?
Aku ingin segera pergi dari sini, tapi ternyata pesananku dan pesanannya dibuat bersamaan. Jadi aku tidak mungkin pamit lebih dulu.
"Silahkan."
"Mau duduk sebentar?" Dia menawarkan.

Akhirnya, aku mengikutinya ke meja kosong ditengah-tengah kafe. Dia menawariku untuk duduk lebih dulu, baru ia duduk.
"Senang melihatmu lagi." Sapanya.
"Aku juga." Jawabku.
Aku merasa canggung, tapi kebetulan ini benar-benar tidak kuduga.
"Jadi, bagaimana kabar Victoria?" Tanyanya.
"Baik, dia baik." Jawabku singkat.
Sesekali aku melirik kearahnya, penasaran dengan ekspresi apa yang ia buat. Tapi dia pun tidak menatapku, dia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Hening kembali.
Aku dan dia sesekali meminum minuman kami tanpa adanya obrolan. Ini canggung.
"Aku langsung saja. Apakah kau baik-baik saja?" Tanyanya.
"Aku baik. Seperti hari ini, yang kau lihat." Jawabku lagi.
"Kau tau maksudku." Katanya menekankan.
Aku meliriknya dan mata kami bertemu.
Aku menelan ludahku yang sebenarnya tidak ada.
"Tenang saja, aku tidak serapuh yang kau kira. Aku melanjutkan hidupku dengan baik tanpamu Kyuhyun." Jawabku. Aku mencoba menjawabnya sedatar mungkin. Aku tidak akan terpengaruh oleh mata yang dingin itu lagi.
"Syukurlah." Responnya dengan sedikit jeda.
Apa itu baik? Dia menjawabku setelah hampir satu menit.
"Mungkin aku tidak salah dengar, tapi kau berpacaran dengan sepupuku, Kim Suho. Dan aku hanya ingin memastikan kalau kita baik-baik saja. Maksudku, kau tau.. kita bisa berteman."
"Ya, mungkin. Aku dan Suho baru saja mulai berkencan. Jadi maaf jika aku sama sekali tidak tau kalau kau adalah sepupunya." Jawabku mencoba terlihat santai.
"Cool."
Raut wajahnya terlihat sedikit lega daripada sesaat tadi. Atau hanya perasaanku?
"Kurasa, aku akan pulang sekarang. Dan terimakasih sudah mau bicara padaku." Katanya.
Dan sosoknya pun akhirnya pergi.
Aku menghembuskan nafas panjang. Aku lelah bertahan dari sikap superiornya. Atau aku hanya mencoba tidak terintimidasi olehnya. Tapi sorot matanya memang seperti itu. Seakan dia ingin menaklukan siapapun.

ALL OF ME (Don't Stop It - Season 3)Where stories live. Discover now